Kebon (123 dari 241)

Junjung Derajat ‘Aqiq Nusantaraku

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Indonesia adalah pusaka takdirku, karena di tanahnya hidupku ditanam oleh Maha Penciptaku. Aku mencintainya sebagaimana aku mencintai Ibuku. Apapun yang kualami dan kuterima darinya. Pertumbuhan ataupun kemandegan. Kenyamanan atau luka. Pengasuhan atau pembengkalaian. Bahagia atau derita. Kelegaan atau kekecewaan. Kesetiaan atau pengkhianatan. Ia tetap Ibu takdirku. Ia tetap tanah tumbuh kehidupanku.

Sejak kanak-kanakku di dusun. Sejak belajar nggejik untuk bertanam jagung. Sejak berlatih tandur, njidar dan ani-ani padi. Sejak aku ngincup gantrung dan memakamkan walang kayu. Sejak aku mengikuti training sosial menggembalakan kambing, kerbau, dan kuda. Sejak aku mencicipi keterampilan dan strategi dengan bermain kèkèan dan nèkeran, jumpritan dan bluron. Sejak aku mencicipi persaingan dan pertentangan dengan diadu gelut atau gulat, mithing dan ngunci hingga nekek. Sejak aku diterbangkan oleh Markesot ke angkasa nilai melalui Joko Kendhil, Kinjeng Dom, Kasan Kusèn serta banyak item sastra dongeng yang lain. Sejak aku didadar memperjodohkan karakter dan nilai-nilai melalui pencak dan ngajag bajing atau tikus. Sejak aku mencicipi dunia dengan Guk Denan memasangku pada posisi kiri luar Kesebelasan Ronopati.

Seluruhnya itu adalah evolusi cintaku kepada tanah air Indonesia. Ke manapun aku mengembara, dari Amerika Serikat hingga Marokko, dari Jepang hingga Skotlandia, dari Sorsogon Filipina hingga Helsinki, atau dari Teramo hingga pantai Wontaggi. Selalu kekenakan cincin Nusantara dan akik Republik Indonesia di jari dan hatiku.

Salah satu jenis al’aqiq atau akik ada yang bernama “at-ttamassuk bid-darajah”, junjung derajat. Bertanyalah kepada para Geolog tentang berprosesnya alam sehingga terbentuk akik, dan bertanyalah kepada para sejarawan kenapa Indonesia digelari Zamrud Katulistiwa.

Zamrud itu batu akik khusus dan asli Kalimantan. Di peta jagat akik ada Bacan Hijau, Akik Sulaiman, Safir, Topaz, Kalimaya, Kecubung, Kalsedon, Sungai Dareh dan banyak lainnya. “At-ttamassuk bid-darajah”. Bangsa Indonesia hari ini adalah endapan atau tetesan mutiara inti dari pengolahan sejarah berpuluh-puluh abad lamanya.

Tanah air dan bangsa Indonesia tinggi derajatnya. Aku berdiri di bawahnya dengan dua tangan menjunjungnya. Logika Junjung Derajat bukan bahwa Indonesia itu rendah derajatnya sehingga kita perlu menjunjungnya atau mengangkatnya naik. Tuhan mengangkat derajat Nusantara dan menyempurnakan derajatnya.

رَفَعَ سَمۡكَهَا فَسَوَّىٰهَا

Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.

وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ
لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ

Dan Dialah yang menjadikan kamu Khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Selama kita mengalami sejarah bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sampai NKRI sekarang ini, tentu kita mengetahui banyak sekali hal-hal yang perlu dibenahi, diproporsikan atau diperbaiki. Tetapi saya sudah berlatih lebih dari 50 tahun untuk sangat berhati-hati dan ekstra waspada agar kemashlahatan yang saya jalani tidak malah menghasilkan kemudharatan. Itulah sebabnya yang kulakukan tatkala menapaki era terbaru ini adalah menjunjung dan memuji Indonesia.

Banyak sekali yang layak dikritik, diberantas atau di-nahimunkar-i dan diganti dalam kehidupan Indonesia. Tetapi saya tidak melakukannya. Karena yang mashlahat adalah menjunjung dan memujinya.

Banyak yang saya menolak, tidak setuju, bahkan marah dan membencinya. Tetapi saya tidak melakukannya. Sebab yang aman dan tenteram bagi semua adalah kalau saya menjunjung dan memujinya.

Banyak sekali yang saya tidak bisa menerima, tidak mengakui dan ingin mengakhirinya. Tetapi saya tidak melakukannya. Sebab satu-satunya kemungkinan yang kondusif dan yang Indonesia siap hanyalah kalau saya menjunjung dan memujinya.

Banyak sekali keadaan yang memancing mulut ini untuk meneriakkan “La’natullah ‘ala Fulan wa Fulan” atau “Tabbat yada Fulan wa Fulan” ikhwal Indonesia. Atau yang netral saja “Wamakaru wamakarallah”. Tetapi saya tidak membiarkan itu terjadi. Dan yang teruncap justru adalah “Alhamdu li Indonesia ‘ala kulli hal”.

Terdapat suatu keadaan, situasi dan posisi dalam kehidupan ini, bahwa demi pertimbangan yang seluas-luasnya dan sejauh-jauhnya, kita diseyogyakakan untuk melakukan suatu hijrah dalam makna tertentu. Bergeser dari suatu pandangan ke kemungkinan pandangan yang lain. Berpindah dari suatu penyikapan menuju probabilitas penyikapan yang berbeda. Bermigrasi dari suatu pola integritas menuju formula integritas yang tidak sama.

Limitasi ilmu pengetahuan membatasi sedemikian rupa sehingga terbuntu atau tidak mampu menemukan formula aplikasi “rahmatan lil’alamin” atas suatu habitat kumpulan manusia, kecuali yang tersisa hanyalah opsi menjunjung dan memuji.

Umpamanya di dalam jiwa dan mentalitas manusia ada perpasangan atau perjodohan antara cinta dan benci, antara bahagia dan menderita, antara melampiaskan dan menahan diri. Di dalam “Sinau Bareng” Maiyah kita mengeksperimentasi berbagai metode pandang terhadap kenyataan hidup. Dan itu berlangsung sejak era Musik Puisi Karawitan Dinasti:

Tuhanku, aku berguru kepadaMu
Mendengarkan angin dan suara yang bisu
Tuhan, kedunguan memberiku pengertian
Buta mata menganugerahi penglihatan
Dan kelemahan menyimpan berlimpah-limpah kekuatan
Jika aku tahu terasa betapa tak tahu
Dan waktu melihat, betapa penuh
Rahasia gelap yang dikandung oleh cahaya
Aku berguru kepadaMu, Tuhanku.
Tidak tidur di kereta waktu
Lebur di dalam ruang
Sebab setiap satu mengandung seribu
Meragukan setiap yang aku temu
Dan menimba ilmu dari yang paling dungu

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ
وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Anak-anakku yang cukup lama mengalami karakter dan habitat “Sinau Bareng” Maiyah, tidak sukar memahami dialektika pasangan-pasangan ciptaan Allah itu. “Betapa penuh rahasia gelap yang dikandung oleh cahaya”, juga sebaliknya. Menemukan cinta dalam kebencianku. Menemukan gugatan di dalam penerimaanku. Atau merasakan keperihan yang mendalam di dalam sanjung pujiku.

Lainnya