Kebon (20)

Jleb!” dan Berlindung pada Bayi

Dialog di lapangan Sanggau, Kalimantan Barat.
Dok. Progress

Maka Nevi, komunitas Dipowinatan, Kelompok Karawitan Dinasti dan KiaiKanjeng, sekadar “diperjalankan di malam hari”. Tidak di siang hari yang terang benderang dan mata melihatnya dengan jelas. Hidup ini gelap dan malam hari. Satu menit yang akan datang, satu jam, besok, lusa, dan masa depan adalah semesta kegelapan yang manusia hanya bisa menempuhnya hanya dengan sedikit ilmu, sehingga memerlukan iman atau keyakinan yang total. Keyakinan itulah yang menerbitkan cahaya, dari dalam jiwa manusia serta di hamparan kehidupan di depannya.

Maka Nevi juga tidak mau gumunan terhadap apapun saja yang kasat mata. Nevi sama sekali tidak tertawan atau terpesona oleh dunia, konsumsi-konsumsi artifisial, kemewahan atau gemerlap kasat mata apapun. Tidak pernah punya kesadaran untuk memilih warna pakaian atau jenis kostum. Kalau bus datang akan mengantar mereka keliling pentas, kalau busnya baru dan bagus warnanya, Nevi akan menghargainya meskipun tidak kagum. Nevi mendekat ke badan bus itu, mentheleng melihat warnanya, kemudian satu tangannya menyentuh, mengusap badan bus itu, kemudian membaui dengan hidungnya.

Tetapi Nevi bahkan tidak peduli apakah pakaian yang ia kenakan sudah kering atau masih basah, sebab fisiknya sangat kuat dan prima. Di Sanggau, ketika KiaiKanjeng dan saya diminta untuk mensilaturahmikan masyarakat Dayak dengan masyarakat Madura di lapangan sore hari, Nevi juga terlambat masuk bus yang akan membawa kami.

Tentu saja kami semua jengkel dan berang. Saya barusan beres melunakkan hati Kepala Suku Dayak dan pimpinan masyarakat Madura, menerapkan “ud’u ila sabili Rabbika bilhikmati wal mau’idtalin hasanah”. Saya ketemu empat mata dengan Tetua Dayak dan dengan takut-takut berkata: “Saya datang dari Jombang, Jawa, dengan niat untuk menyatakan persaudaraan dengan semua masyarakat Dayak dan Kalimantan. Saya mohon bertanya, apakah kami diterima sebagai saudara ataukah kami dipandang sebagai musuh? Kalau kami ternyata musuh, saya coba siap-siap, meskipun pasti kami tidak punya daya apa-apa untuk bermusuhan dengan siapapun”.

Spontan beliau berdiri dan menghampiri dan memeluk saya: “Cak Nun dan semua tamu-tamu kami adalah Saudara kami…”.

Plong hati saya. Ternyata saya dan kami semua adalah sedulurnya orang-orang Dayak. Demikian juga, atau apalagi, masyarakat Madura. Karena peneguhan posisi saudara itu, maka segala sesuatu menjadi lapang dan lancar. Dialog yang akan berlangsung di lapangan Sanggau akan terbuka pintu kasih sayang dan kedamaiannya.

Di tengah rasa syukur itu saya jengkel kenapa Nevi seperti tidak ikut bermesraan dalam irama. Dua orang KiaiKanjeng bertugas mengecek ke mana Nevi. Mereka berdua masuk kembali ke hotel, menuju kamar Nevi. Dijumpai Nevi sedang menoleh ke kanan kiri kemudian cepat-cepat mengenakan celana dalamnya yang barusan dia coba keringkan dengan diperas dengan dua tangannya. Kemudian cepat-cepat berlari menuju bus yang menunggu.

Alhamdulillah celana dalam Nevi ia pakai tidak di luar celana panjangnya.

Tetapi tidak lantas menjadi mudah begitu saja menyusun konsep pementasan dan dialog di depan dan bersama dua kelompok masyarakat yang sedang mengalami konflik dan permusuhan yang ketika itu sudah meminta pengorbanan ratusan bahkan mungkin ribuan nyawa. Besoknya dalam perjalanan balik dari Sanggau kami mampir di dekat sebuah komplek Pesantren yang sudah luluh lantak terbakar, hampir semua santrinya dan Pak Kiai meninggal dibunuh, tinggal Bu Nyai dan seorang putra kecilnya yang tersisa. Dari tempat itu saya membawa sisa Kitab Al-Qur`an yang terbakar tinggal separo, kemudian kita abadikan di Perpustakaan Kadipiro.

Kemarin selama perjalanan dari Pontianak menuju Sanggau yang dekat perbatasan dengan Malaysia, kami dikawal oleh sejumlah tantara yang aktif dan standby dengan senjata-senjata apinya. Situasi sangat mencekam di setiap penggal perjalanan kami larut malam itu. KiaiKanjeng bergurau dan mempopulerkan di antara mereka kata “jleb”. Maksudnya sewaktu-waktu bisa ada anak panah menancap ke dada kita. Sebelum pementasan sore itu Jijit alias Azied Dewa sakit perut. Yoyok bassist KiaiKanjeng yang Bapaknya Madura tapi Ibunya Dayak pucat wajahnya sepanjang perjalanan kami kali itu dari Mempawah, Rassau Jaya, Pontianak dan Sanggau.

Peta besar konflik atau peperangan fisik antara Dayak dengan Madura itu sebenarnya di dalam detail internal mapping-nya ada variabel atau pengecualian. Tidak sedikit orang Melayu atau Dayak sendiri melindungi orang Madura di rumahnya, karena dimensi silaturahmi sosial langsung bisa mengalahkan sentimen kesukuan. Ada banyak sekali kisah dan jenis-jenis peristiwa yang tidak bisa sekadar dirumuskan melalui peta globalnya.

Itu membuat dialog Madura-Dayak di lapangan Sanggau sore itu bisa terpeleset ke suatu pembicaraan atau tema yang membias. Dan momentum seperti itu benar-benar terjadi, sehingga situasi publik campuran di lapangan itu menegang. Sampai akhirnya saya melompat dari panggung, turun membelah massa, saya ambil seorang anak kecil dari gendongan Ibunya, saya gendong naik ke panggung. Baru kemudian dengan “berlindung kepada bayi”, saya diperjalankan oleh Tuhan untuk bisa menengahi masalah, meredakan ketegangan dan menjinakkan situasi seluruh lapangan.

Kalau sore itu saya hanyalah saya. Kalau Nevi hanyalah Nevi. Kalau KiaiKanjeng hanyalah KiaiKanjeng. Kalau kami adalah subjek primer. Maka tak ada daya pada siapapun di antara kami untuk bisa mengatasi keadaan. Satu-satunya yang punya kekuatan, kuasa, kebijaksanaan dan kasih sayang untuk mengaurakan kembali kebersamaan dan kesatuan massa selapangan — hanyalah Tuhan itu sendiri. Kami semua hanya diperjalankan.

Lainnya