Membaca Surat dari Tuhan (17)

Jin Tidak Menakutkan Sekali

Photo by Jr Korpa on Unsplash

Suatu malam di tahun 2004. Saya menemani dan menjadi bagian dari Tim Sukses pencalonan Pak Daliso Rudianto sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah. Saya mendapat pengalaman di lapangan tentang praktik politik yang bermutu dan yang tidak bermutu di daerah. Dimulai dari awal pencalonan yang minimal harus mengumpulkan tanda tangan ribuan orang. Lalu tanda tangan itu diverifikasi agar yang bertanda tangan jelas orang dan alamatnya serta tidak melakukan dukungan dobel dengan calon lain.

Selama proses awal ini saya sudah bertemu atau berhadapan dengan hal-hal yang seru, lucu, menggemaskan dan mendebarkan. Nomor calon yang sudah memenuhi syarat diundi. Pak Daliso mendapat nomor undian 4. Optimis. Nomor kecil. Hanya saya agak heran kenapa tokoh Muhammadiyah seperti kurang koordinasi. Terbukti calon dari komunitas Muhamadiyah jumlahnya banyak, lebih dari satu. Tokoh NU juga sama, sepertinya kurang koordinasi. Calon dari komunitas NU jumlahnya juga banyak.

Pada peresmian calon anggota DPD ini semua calon dan tim suksesnya diarak kirab keliling kota. Start di kantor KPU DIY di jalan Janti. Pak Daliso, saya, dan pak Dirjo Tambur naik kendaraan bak terbuka. Mengenakan busana Jawa lengkap dengan blangkon dan keris. Pak Dirjo dan saya membawa bende yang saya bayangkan bende pusaka Ki Bicak yang waktu ditabuh dalam perang Mataram Kotagede melawan Pajang dimenangkan Mataram Kotagede.

Bende berbunyi nyaring dengan irama sampak irama perang, perang politik tingkat lokal. Saya waktu itu menghayati semua ini sebagai pentas teater jalanan. Ada orang yang di pinggir jalan mengenal saya, bersorak, tepuk tangan dan mengacungkan jempol atau sekadar bersuit-suit saya nikmati sensasi dari penonton yang menonton atraksi drama politik. Sebagai generasi kelahiran tahun 1950-an dan menikmati drama politik lima tahunan di zaman Orde Baru, pemilu 1971, 1978, 1982, 1987, 1991 dan 1997, dan sebagai massa politik dan sebagai wartawan harian yang bertugas meliput pemilu saya bisa menghayati peran sebagai bagian dari tim sukses seorang calon anggota DPD.

Masa kampanye lebih seru. Bersama Pak Daliso dan tim sukses lain saya harus bergerak dengan mobilitas tinggi menempuh jarak kadang seratus kilometer lebih. Bayangkan, kalau pagi benar bergerak menuju panggung kampanye di Jerukwudel di sudut tenggara Gunungkidul lalu sore harus sudah di puncak Menoreh di atas Kokap. Atau kadang blusukan di kedalaman Bantul lalu blusukan di pedalaman Sleman.

Sebelum itu bersama tim yang lain membagi dan memasang gambar calon di seluruh pelosok desa Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebab anggota DPD mewakili DIY.

Melelahkan dan menyenangkan. Pikiran bergerak untuk mengatur strategi bagaimana menerobos akar rumput partai-partai. Karena Pak Daliso bernama Jawa maka kampanye di daerah PDIP bermain tandem dengan calon legislatif tingkat Provinsi dan kabupaten yang nomor pencalonannya 4. Di Gunungkidul bermain tandem dengan calon anggota DPRD dari Partai Merdeka. Di tempat lain bermain tandem dengan caleg dari PAN. Di dalam Kota Yogyakarta, bermain tandem dengan caleg dari PDIP.

Mengapa bisa demikian? Karena sistem Pemilu setengah distrik di Indonesia mengharuskan caleg dari partai manapun memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Perolehan suara pribadi calon yang menentukan dia berhasil atau tidak duduk di kursi parlemen. Maka koalisi dengan calon anggota DPD menjadi pilihan manis. Bisa sharing area, sharing dana kampanye dan terobosan ini memungkinkan adanya koalisi absurd secara ideologi (ideologi lama yang kaku).

Tetapi ini tetap mengandung keterbatasan. Biasanya calon independen seperti Pak Daliso sulit berkolaborasi dan berkoalisi dengan calon anggota legislatif dari Golkar, PKS, dan PKB. Sebab mereka sudah dimobilisasi untuk mendukung calon anggota DPD yang berafiliasi ke Golkar, PKS, dan PKB. Selama musim kampanye ini juga muncul keajaiban-keajaiban yang unik yang menjelaskan bagaimana Pak Daliso sebenarnya punya jaringan massa politik tersembunyi yang selama ini tidur atau nonaktif.

Setiap kami kampanye di sebuah titik di Gunungkidul datang mobil misterius membawa konsumsi melimpah sehingga mencukupi dibagi kepada hadirin. Ketika kami tanya siapa yang menyumbang konsumsi ini, sopir mobil mengelak memberi jawaban yang pasti. “Dari hamba Allah yang sangat menghormati Pak Daliso,” katanya.

“Ya. Terimakasih. Tapi siapa?”

“Maaf, saya tidak boleh menyebut namanya.”

Ini terjadi setiap kali rombongan tim kampanye DPD Pak Daliso ada di desa dan kota kecamatan Gunungkidul. Tentu saja kami bersyukur dan gembira karena ada pihak yang secara diam-diam membantu kami. Semacam kelompok baris pendem yang lucunya justru tidak kami ketahui sosoknya. Ketika pak Daliso saya tanya dia juga tidak tahu.

“Sebentar Kang, dulu waktu muda apa Kang Daliso pernah melakukan apa di Gunungkidul?”

Pak Daliso diam sejenak mengingat-ingat momentum penting dalam hidupnya di waktu mudanya.

“O, ya. Waktu aku kuliah di Fakultas Hukum dan hampir lulus aku pernah praktik menjadi pembela. Ya, tugasku membela pihak-pihak yang terbelit masalah hukum. Aku ikut membantu agar pihak yang terbelit masalah hukum bisa bebas, atau paling tidak berkurang hukumannya.”

“Nah. Barangkali ada orang yang dulu pernah Njenengan bantu dan merasa Njenengan berjasa besar mengurai masalah hukumnya yang sekarang merasa saatnya membalas jasa Njenengan.”

“Tapi dari mana dia tahu kalau hari ini saya di sini, kemarin di sana?”

“Mudah itu. Kan jadwal kampanye Njenengan dimuat di koran. Dengan membaca berita koran, orang itu atau orang-orang itu bergerak menyiapkan konsumsi bagi hadirin yang mendatangi kampanye.”

Seperti padang rumput kering yang tinggal akar yang teguh bersembunyi di balik tanah, maka ketika pak Daliso melakukan safari silaturahmi ke pelosok-pelosok Yogyakarta, akar rumput kering itu seperti tersiram hujan. Tumbuh hamparan rumput yang amat luas.

Saya begitu heran melihat pemandangan ajaib ini di Kulon Progo misalnya. Desa-desa yang dulu bersama Pak Fanani saya jelajahi untuk mencari pengrajin bambu muncul para pendukung dengan kombinasi komunitas yang sulit dibayangkan bisa terjadi. Bagaimana mungkin orang Muhamadiyah angkatan Pandu HW lawasan zaman Pak Daliso muda bisa berkumpul dengan pendekar Jawa yang ahli jatilan, mungkin mereka dulu adalah pasukan surotaninya Pangeran Diponegoro, yang digerakkan oleh Banteng Muda Kulonprogo. Saya menikmati saja kohesi sosial klasik seperti ini sambil sangat berharap Pak Daliso bisa meraup suara banyak sehingga lolos menjadi anggota DPD mewakili DIY.

Saya melihat bagaimana banyak orang menyediakan ribuan benih pohon aren untuk ditanam massal di perbukitan Menoreh. Ada kegembiraan politik yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Sebab selama Orde Baru, setiap Pemilu justru menghadirkan teror politik yang mencemaskan dan hampir-hampir menakutkan. Apalagi saya kemudian tahu, sebagai wartawan usil yang suka studi lapangan dan media, ternyata setelah Pemilu 1955 yang dimenangkan secara mayoritas oleh umat Islam (gabungan Masyumi dan partai NU), umat Islam Indonesia kemudian hanya diberi jatah kuota paling banyak 3O%. Kemudian kuota itu secara kumulatif tidak pernah berubah karena dibagi menjadi kuota kecil-kecil untuk masing-masing partai politik Islam di bawah 10% dan ada yang mengharukan karena hanya diberi kuota suara di bawah 5%. Bahkan partai partai sempalan harus cukup puas mendapat kuota suara di bawah 1% alias partai 0 koma.

Menyaksikan adanya hamparan massa pendukung Pak Daliso di Bantul dengan penggerak lurah PDIP, massa pendukung di Sleman yang digerakkan oleh saudara seperguruan pencak silat dan tenaga dalam serta jaringan kiai desa mertuanya, juga pendukung yang berada di banyak spot desa termasuk desa pandai besi Gunungkidul dan sisa massa kaum modernis Islam di kota, dan massa Kulonprogo seperti ini tim sukses optimis bisa sukses.

Ketika kami masuk dan blusukan di pasar Beringharjo ketemu dengan pedagang sayur mereka menyambut baik, paling tidak mereka mendoakan Pak Daliso.

Lainnya