Jhembhâr Atè: Wasilah Kiai Muzammil

Dok. Pribadi.

Sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun Kiai Muzammil dan sesepuh Paddhâng Atè melaksanakan kegiatan rutin, yakni Safari Buju’ (makam orang mulia) yang diawali dari makam di ujung barat Madura hingga ke ujung timur yang dilaksanakan saat bulan Syawal. Dan, bukan hanya di saat lebaran hal ini dilakukan. Beliau sering melaksanakan ngalap berkah kepada para ulama pendahulunya sebagai batu lompatan untuk meraih hajat kepada Allah.

Bulan Syawal tahun 2020 merupakan hari pertama saya berjumpa dengan Kiai Muzammil dan sesepuh Paddhâng Atè setelah beliau pulang dari safar, ziarah ke para wali di Madura. Dari sini saya mengenal langsung beliau dan sesepuh Paddhâng Atè hingga sekarang. Dan, sejauh mana air mengalir, ia akan menemukan muaranya. Begitu pula saya dengan Kiai Muzammil dipertemukan kembali pada malam bertepatan dengan jadwal sinau Paddhâng Atè. Namun, siapa sangka, jadwal sinau ditiadakan.

Tiba-tiba beliau mengajak ziarah sekaligus sinau dadakan di makam azimat, Sayyid Husein Assegaf, Banyu Sangkah, Tanjung Bumi, Bangkalan. Saya bersama teman-teman Paddhâng Atè berangkat sekitar pukul 21.00. Perjalanan sekitar satu jam dari Kota Bangkalan ke Tanjung Bumi. Acara dimulai dengan ziarah ke Sayyid Husein, kemudian pembacaan sholawat nabi yang diakhiri dengan diskusi. Dalam diskusi, beliau bercerita mengenai perjuangan Mbah Nun dan keadaan negara. Berbicara tentang tokoh dan bangsa merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sebagaimana setiap zaman ada tokohnya dan setiap tokoh memiliki zamannya. Di era globalisasi, dan orang-orang yang selalu ingin menokohkan diri, Mbah Nun justru memilih membuat zamannya sendiri, yakni perjuangan di lorong sunyi.

Dari dua pertemuan itu, saya kagum kepada KH Muzammil, seperti sama’ bergemuruh dengan sami’an-nya, bashar memandang bashirah-nya, kalam bertemu dengan mutakalliman-nya. Dengan menjadi ketua bahhul masail belasan tahun, luasnya ilmu dan pengetahuan beliau tidak diragukan lagi. Beliau lancar memadukan pandangan ulama fiqh serta ulama sufi menjadi siraman ruhani bagi akal dan hati. Kesederhanaan beliau dan cara bermaiyah Paddhâng Atè membuat saya berkeinginan agar Sampang juga ikut menyerap keberadaan Maiyah sebagai jalan pintas dalam menyederhanakan cara bersikap dan cara kebersamaan. Tidak ada yang diistimewakan di sini. Semua duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Sebelum kepindahan saya ke Bangkalan, wacana untuk bermaiyah di Sampang sebetulnya sudah ada, tetapi masih sebatas obrolan-obrolan ringan. Kami buta informasi langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Namun, pertemuan dengan Paddhâng Atè dan Kiai Muzammil, membuat niat saya kembali tumbuh. Saya sampaikan pada teman-teman di Sampang tentang semua pertemuan tersebut. Lalu, lahirlah kumpulan yang kami sebut Embrio Maiyah untuk mengkonkretkan niat kami. Pada hari Selasa, 22 September 2020, pertemuan pertama terwujud di Maksideh Café. Berkumpullah teman-teman yang memiliki semangat yang sama, yakni bermaiyah.

Jelang satu tahun kelahiran Paddhâng Atè, kami merencanakan sowan ke Kiai Muzammil. Kami tahu beliau akan hadir. Alhamdulillah, hari Jumat, 16 Oktober 2020, sore hari sampai Magrib, saya, Hasan Makki, Moh. Yasin Mohtar, Hasan Munadi, dan Halim, mewakili teman-teman lainnya di Sampang menyampaikan niat mendirikan Simpul Maiyah di Sampang. Beliau mengatakan akan menyampaikan niat teman-teman kepada Mbah Nun.

Keesokan harinya, 17 Oktober 2020, pukul 19.20, saya menerima pesan singkat dari Kiai Muzammil:

Beliau kasih nama “jembhar ate” dengan mengucapkan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Semoga anak-anakku di Sampang istiqamah meyakini kemenangan bersama sama orang orang shalih.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahilham… Atas syukur dan rahmat Allah, dengan nada bergetar tanpa disadari hati saya mengatakan Sampang telah menemukan hari rayanya.” Setelah itu, saya mengabari salah seorang guru untuk menuliskan tawassul, dari wali ujung timur hingga ujung barat, hingga wali masyhur di zamanya. Pada akhirnya, beliau menuliskanya secara langsung hingga 29 lembar penuh. Saya berpuasa sebagai niat tabarukan untuk mendoakan, meneladani ulama terdahulu, dan atas kelahiran maiyah Jhembhâr Atè di Sampang.

Kami tidak membayangkan kelahiran itu begitu cepat mengingat kami masih ingin mensolidkan energi walaupun kami diam-diam menyiapkan beberapa nama jika nanti Maiyah Sampang lahir. Tanggal 19 Oktober 2020 Mbah Nun memberikan apresiasi kepada simpul maiyah Madura: Damar Atè, Paddhâng Atè, dan Jhembhâr Atè melalui tulisan berjudul “Maddu-na Darra Madura.” Lantas, bagaimana kami memaknai itu semua?

Dalam pembahasan ilmu aqidah Islam, seringkali dijumpai istilah “tanpa kaifiyah” atau “tanpa kaifa” dari para ulama sejak era salaf hingga sekarang. Kedua istilah ini secara literal bermakna “tanpa membagaimanakan” atau “tanpa bagaimana”. Namun, banyak orang yang tidak paham betul apa yang dimaksud dengan istilah tersebut.

Kaifa (bagaimana) adalah kata yang digunakan untuk menanyakan sesuatu yang bisa disebut serupa dan tidak serupa, seperti kata putih, hitam, sehat, dan sakit.”

Seperti misalnya kata putih yang meskipun seluruhnya punya keserupaan sebagai putih, tetapi selalu berbeda tingkatan kadar putihnya sehingga bisa ditanyakan bagaimana putihnya, apakah seputih salju atau seputih tulang, misalnya. Demikian juga dengan kata sakit dan sehat, selalu bisa ditanyakan bagaimana sakitnya atau bagaimana kesehatannya sebab kadar sakit dan sehat antara satu orang dan orang lain berbeda-beda.

Dari penjelasan di atas, Kiai Muzammil mengatakan “Kita berada di zaman abu-abu. Siapa kiranya yang merasa lebih tahu bagaimana tentang NU? Lebih tahu tentang FPI? Atau lebih tahu tentang bagaimana itu Maiyah? Tidak, kita tidak bakal mengetahui secara detail apa yang kita tahu dan bagaimana yang kita tidak tahu. Menjadi tolok ukur dalam Maiyah, yakni bersama-sama bisa melingkar dengan latar belakang yang berbeda, ibarat seluruh alat musik KiaiKanjeng yang menjadi harmoni dan bisa kita nikmati bersama.”

Rasanya begitu cepat. Begitu cepat Jhembhâr Atè lahir dan seperti baru kemarin bertemu Kiai Muzammil. Kini, ia telah dengan cepat pergi meninggalkan kita, seperti kata Mbah Nun, di saat kita semua berada di puncak cinta dan kebutuhan kepadanya. Terhentak perasaan saya saat membaca tulisan Mbah Nun atas kepergian Kiai Muzammil menukil lirik dari Narto Piul:

Berdekatankah kita
Sedang rasa begini dekat
Tapi berdekatankah kita
Sedang rasa teramat jauh

Kaifa ya KH Ahmad Muzammil?
Kaifa?
Kaifa?

Semua cepat berlalu, salam takzim teruntuk Njenengan, salamkan kepada para auliya’ terdahulu yang sering Njenengan kunjungi saat masih hidup, salamkan, salamkan, salam kiai…

“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia. Selamatkan dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan terhadapnya, luaskanlah tempat kuburnya. Mandikanlah beliau dengan air, salju, dan embun yang engkau ambil dari dua mata air, Tasnim dan Salsabil.”

Lainnya