Membaca Surat dari Tuhan (22)

Jejak Penjelajah Sejarah

Photo by Joanna Kosinska on Unsplash

Saya pernah menjelajahi Bojonegoro dari kota sampai masuk ke pelosok desa tertentu. Ada desa bernama Sumberejo yang Muhammadiyahnya punya SPBU yang hasilnya untuk menggerakkan organisasi dan menggerakkan amal sosial.

Desa ini cukup maju, kompleks sekolah lengkap. Saya bertemu dengan tokoh masyarakat lokal yang bersemangat untuk memajukan umat dan persyarikatan.

Saya juga menemukan pola gerak migrasi kader yang unik di banyak tempat. Termasuk di Bojonegoro.

Kalau dari Bojonegoro ke luar ada tokoh bernama Pak Abdurrosyad Sholeh yang lahir dari keluarga NU dan waktu kuliah di Yogyakarta mendirikan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah) bersama koleganya dan mereka sering berkumpul di sebuah rumah di Kauman yang kemudian dikenal sebagai rumah pergerakan. Pak Rosyad Sholeh yang pernah menjadi seorang Dirjen di Departemen Agama menikah dengan perempuan Kauman dan menjadi tokoh puncak Muhammadiyah. Keahliannya dalam manajemen dakwah dan ketekunan berorganisasi membuat beliau dipercaya menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah, dan sekarang menjadi sesepuh Muhammadiyah bersama pak Muchlas Abror. Beliau menjadi konsultan untuk bidang organisasi bersama pak Muchlas Abror (priayi Wonosobo yang juga pernah menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah dan Ketua Umum PP Tapak Suci).

Keponakan Pak Abdurrosyad Sholeh atau Pak Rosyad Sholeh, tetap menjadi NU dan menjadi tokoh LSM kelas berat, bernama Mansour Fakih, yang menjadi koleganya Mas Toto Raharjo berjuang di LSM. Mas Mansour Fakih ini menjadi rujukan anak muda berkat teori penyadarannya tentang berbagai hal strategis. Anak-anak IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) menjadi ahli ansos (analisis sosial) dan getol melakukan pendidikan pemilih dalam sebuah episode pemilu juga karena berguru intens karena bergaul dengan Mansour Fakih.

Di Bojonegoro saya ketemu dengan tokoh unik. Pengasuh panti asuhan anak yatim-piatu yang jago fundrising mandiri. Tidak meminta sumbangan tetapi menggerakkan usaha pertanian, peternakan, pemancingan, dan yang punya visi ke depan yang melampaui zamannya. Dia terus bergerak maju ke depan dengan gembira meski kadang orang yang tidak paham dengan visinya menyebut dia orang aneh. Orang yang suka berpikir di luar kotak berpikir resmi.

Kantor Daerah Muhammadiyah selalu ramai. Sebulan sekali, dulu, ada pengajian rutin yang sekaligus menghidupkan bazaar termasuk bazaar amal.

Kantor ini dilengkapi dengan Stasiun Radio Swasta yang lumayan daya dakwahnya. Di dekatnya, ada kampus pendidikan. Dan tidak jauh dari situ ada Rumah Sakit Modern PKU yang waktu saya bersilaturahmi ke sini sedang melakukan pembangunan fasilitas teknologi kesehatan mutakhir.

Yang unik dari Bojonegoro adalah partai yang justru bisa membesarkan dan melahirkan ranting Muhammadiyah. Ini sungguh berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan tempat lain yang biasanya partai menggerogoti ormas. Dengan demikian jika suatu hari Bupati terpilih di Bojonegoro adalah orang Muhammadiyah yang di waktu muda menggembleng dirinya di Pesantren Budi Mulia yang diasuh antara lain oleh Bang Said Tuhuleley, tidak mengherankan.

Saya bisa menjelajah pelosok Bojonegoro ini karena punya teman yang pernah aktif sama-sama membina kesenian di 12 pesantren NU di DIY. Dia orang Muhamadiyah tulen tetapi menguasai musik, termasuk musik rebana dan bisa melakukan gubahan atau menciptakan lagu baru. Dia yang mengenalkan tangga nada, bermusik bersama dengan memadukan unsur melodi, perkusi, dan harmoni. Ketika dia mengenalkan adanya suara dua dan suara satu agar konstruksi musik koor shalawatan bisa asyik, diprotes seorang santri mengapa harus ada suara dua barang wong suara satu sudah.

Dengan sabar teman saya menjelaskan tentang konstruksi musik koor yang harmonis antara vokal dan instrumen musik sehingga kalau direkam di SMM Bugisan layak rekam. Teman saya ini namanya Zainal Abidin, pernah kuliah APMD 14 semester dan akhirnya lulus sarjana dengan membayar uang kuliah dari ngamen. Dia dengan saya pernah mendirikan ORI (Orkes Ringkes Indonesia) yang anggotanya tiga orang, khusus menampilkan lagu puisi karya saya dan pernah sukses tampil di pertemuan nasional sastrawan di Tasikmalaya dengan tuan rumah Kang Asep Zamzam Noor.

Teman saya ini kelahiran Bojonegoro asli. Ibunya dari Bojonegoro dan ayahnya dari pesisir selatan Bantul. Dulu ayahnya dikirim sebagai guru oleh Muhammadiyah (dibenum) ke Bojonegoro dan menjadi menantu orang berada yang kemudian banyak mewakafkan tanahnya untuk Muhammadiyah. Teman saya ini setelah lulus dari kampus saya minta kembali pulang ke ‘negaranya’ Bojonegoro, membangun desa karena di Yogyakarta sudah tidak ada angin untuk berkiprah bagi dia. Dia lebih bermakna pulang ke desanya, membangun ekonomi keluarga yang setelah orang tua meninggal agak terlantar.

Dia kemudian menjadi guru SMK Muhammadiyah, merintis pentas seni yang asyik, kemudian menikah dan aktif menjadi pembina petani desa dengan bekal ilmu di kampus pembangunan masyarakat desa.

Jadi di Bojonegoro terjadi arus yang saling menyeberangi. Pak Rosyad Sholeh yang orang Bojonegoro masuk Yogyakarta dan menjadi tokoh yang muhlisina lahuddiin, Ayah teman saya dari pesisir Bantul masuk ke Bojonegoro dan berperan dalam membangun masyarakat Bojonegoro.

Saya pernah suatu hari ke pesisir Bantul ini. Komunitas ibu sepuh-sepuh meminta saya mengisi pengajian. Saya ajak mereka mensyukuri nikmatnya iman dan Islam, juga kemakmuran desa dan banyaknya anak keturunan mereka yang menjelajah tanah air dan tumbuh menjadi orang di rantau. Termasuk lelaki dari tetangga mereka yang ikut memajukan Bojonegoro.

Gejala adanya kelompok masyarakat yang menyeberangi daerah masuk ke daerah lain yang lumayan jauh ini saya temukan juga di Weleri.

Mulanya saya diundang untuk meliput perkembangan Bapelruzam atau lembaga pengelola zakat yang keberhasilannya terukur konkret. Lembaga zakat ini dalam setiap tahun bisa mengumpulkan dana zakat yang sangat banyak dari umat Islam dari mana saja. Banyak warga NU yang membayar zakatnya ke sini. Ini luar biasa. Bapelruzam dirintis oleh tokoh lokal Muhammadiyah dan dalam membagi zakat murni berdasarkan asnaf yang diajarkan agama. Jadi semua warga muslim yang masuk dalam kategori penerima zakat mendapat pembagian dana zakat, tidak membedakan dari golongan apa, dari anggota ormas apa dan partai apa.

Dengan demikian badan pengelola zakat ini mendapat kepercayaan publik sebagai badan amil zakat yang adil. Karena mendapat kepercayaan publik maka publik pun mau menitipkan dana zakat ke sini.

Waktu saya datang dari mengikuti pertemuan, semacam RAT kalau koperasi ada laporan transparan. Kemudian juga dilaporkan bahwa bantuan dana zakat berhasil mengangkat secara kualitatif orang yang semula penerima zakat menjadi pembayar zakat atau muzakki. Mulai tahun ini mereka tidak mau lagi menjadi penerima zakat atau mustahik. Sebab dana zakat yang telah mereka selama ini, sebagai dana zakat produktif telah bisa memajukan usaha mereka.

Mereka berhasil dalam usahanya karena modal usaha ditopang oleh dana zakat. Hadirnya muzakki baru lulusan mustahik ini disyukuri oleh hadirin. Terharu mendengarnya. Ada muzakki baru bercanda,”Saya tersinggung sekarang kalau masih didaftar sebagai penerima zakat. Tolong daftar saya sebagai penerima zakat dicoret dan tolong saya dimasukkan dalam daftar pembayar zakat,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Sehabis pertemuan, iseng saya bertanya kepada pengurus badan pengelola zakat tentang asal-usul para pembayar zakat di tempat ini. Jawabannya mengejutkan. “Kami masyarakat Weleri berterima kasih kepada saudara-saudara kami yang berasal dari Jatinom Klaten. Mereka adalah pedagang dan pengusaha yang merantau ke tempat ini dan mendinamisasi pasar kami dan ikut mempercepat gerak ekonomi kami,” katanya.

Mendengar kata Jatinom disebut saya jadi ingat penelitian yang dilakukan oleh antropolog UGM, Irwan Abdullah di Jatinom. Masyarakat jenis usahawan gigih yang menjadi tanah air Wahyudi Nasution memang dikenal kreatif dan jago dalam berusaha, menjadi pedagang atau pengusaha. Antropolog ini melakukan penelitian untuk mencari bahan penulisan disertasi dan hasilnya dia mendapat nilai sangat memuaskan.

Belum lama saya dan Pak Jabrohim dalam kegiatan keliling melakukan pelatihan sastra dan musik di beberapa titik di pantai utara, mampir ke Weleri. Menginap di sebuah masjid yang menyediakan kamar penginapan bagi musafir. Gratis, malahan mendapatkan suguhan teh panas dan makanan lalu diajak makan malam masakan ikan pantai yang lezat.

Musafir yang datang dan menikmati fasilitas gratis ini ketika Subuh sangat diharapkan untuk shalat berjamaah, menjadi imam shalat dan memberi pengajian Subuh. Itu menjadi semacam imbalan yang harus kami bayar karena mendapat fasilitas gratis menginap di kamar bersih dan suguhan malam.

Dalam obrolan dengan takmir masjid kami menjadi tahu kalau masjid ini mendapat dukungan publik dalam hal dana dan pemberian bantuan. Masjid punya warung makan yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Setiap Jum’at membagi makan siang kepada jamaah. Bahan makanan dan gula teh datang sendiri secara berkala.

Anak-anak muda yang pengusaha anggota takmir punya kegiatan advokasi kepada jamaah yang terlilit hutang, termasuk hutang ke bank.

Pada hari tertentu diadakan pertemuan antara pengusaha yang terlilit utang, pihak bank pemberi kredit dan kelompok pengusaha muda itu. Yang dilakukan pertama adalah klarifikasi terhadap pengusaha yang terlilit utang. Jumlah utang yang tersisa, kemungkinan melunasi utang (dijadwal ulang, dengan membayar angsuran tanpa bunga), kemungkinan tidak bisa melunasi utang karena kondisi keuangan perusahaannya parah dan sebagainya.

Setelah itu ditawarkan bentuk penyelesaian utang yang tidak memberatkan pengusaha dan pihak bank. Misalnya, pengusaha kecil yang dililit utang itu bilang masih punya potensi untuk mengembalikan utang asal ada penjadwalan ulang dan melihat kondisi keuangan hanya mampu membayar dengan mencicil pokoknya saja. Membayar tanpa bunga. Itu disampaikan pengusaha kecil itu dan takmir menyampaikan kehendaknya ke pihak bank. Kalau pihak bank setuju, maka penjadwalan ulang dilakukan dan takmir membantu sebagian cicilan itu. Kalau pihak bank bersikeras bunganya harus dicicil juga maka takmir yang melunasi bunga itu, dengan catatan setelah semua pinjaman lunas maka masyarakat sekitar masjid disarankan untuk waktu selanjutnya membebaskan diri dari utang di bank.

Advokasi maksimal terhadap pengusaha kecil yang jatuh usahanya dan sama sekali tidak punya potensi untuk melunasi utang juga dilakukan. Dengan demikian setelah pertemuan pengusaha kecil itu bebas dari utang di bank. Para gharimin ini dibantu dengan menggunakan dana zakat atau dana publik umat yang dikumpulkan oleh takmir. Demikian yang sempat saya dengar waktu itu, dari orang takmir yang pengusaha sukses di bidangnya.

Lainnya