Kebon (93)

Jawa Islam dan Islam Jawa

Kalau melihat cara berkuasa dan pola perilaku Pemerintah Orba, seharusnya pementasan KiaiKanjeng di Gontor 1994 itu akan disusul akibat-akibat politik yang serius. Tetapi tidak ada apapun yang menimpa KiaiKanjeng dan saya, malah justru peristiwa tabayyun dan pelaksanaan metode bil-hikmati di rumah Bu Halimah.

Tetapi segala hal yang terkait langsung maupun tak langsung tetap menjadi bahan prasangka buruk atau fitnah. Orang yang tidak bisa menjangkau pola dialektika pada level yang lebih tinggi dari kadar berpikir dan pengalamannya, cara menerima level itu dengan menipu dirinya melalui rekayasa fitnah. Manusia seringkali merasa tenang dengan memfitnah, karena kalau tidak mampu menjangkau sesuatu, ia cemas. Itu salah satu fenomena kekerdilan pada mental dan cacat pada jiwa manusia.

Manusia memang besar bakatnya untuk menjadi Percil. Percil itu anak katak, kakaknya Cebong. Katak itu nyaring suaranya kalau bersuara di dalam tempurung. Katak di dalam tempurung menyangka dunia dan kehidupan adalah apa-apa yang ia ketahui dalam tempurungnya. Dia pikir segala sesuatu itu merupakan kenyataan yang dia pahami dalam spektrum tempurung. Perspektif pengetahuannya sebatas tempurung, sehingga ukuran, kriteria atau parameter yang ia kenal dan bisa ia pakai hanyalah kesempitan dan kesumpekan tempurung.

Adapun semua yang di luar tempurung dianggapnya tidak nyata. Kemudian karena tidak nyata maka disangkanya tidak ada. Maka karena banyak hal dalam kehidupan yang ia hanya bisa memahaminya sebagai tidak nyata dan tidak ada, Percil punya dua kecenderungan. Yang pertama, Percil yang dadanya dipenuhi kesombongan sehingga kepalanya dipenuhi kebodohan, dan itu bawaan sejak bayinya: ia cenderung meremehkan, mengejek, bahkan menghina segala sesuatu yang berada di luar tempurungnya. Percil tipe ini dalam idiom Jawa disebut gemedhe, kemlinthi atau gembagus. Merasa gede, sebab dia kecil, bahkan kerdil. Mengira dia bagus, karena faktanya ambyar.

Tipe kedua, Percil yang karena tidak tinggi hati, maka biasanya malah jadi rendah diri. Kepada segala sesuatu yang ia merasa lebih hebat dibanding yang ada dalam tempurungnya, ia sangat mudah terperosok untuk takjub, untuk mengagumi entah tokoh, entah yang memberinya jabatan dan penghidupan – yang bahkan ia berkecenderungan untuk menyembah Juragan, Tuan atau “Tuhan”nya itu. Maka orang-orang tua Jawa wanti-wanti kepada anak cucunya: “Ojo gumunan, ojo kagetan”.

Saya beruntung akhirnya terlempar dari Jombang, Ponorogo lantas Yogya. Dan sekarang sudah 51 tahun di “kota Jawa” ini. Beruntung juga sambil belajar tirakat di Malioboro, saya beraktivitas dengan anak-anak kampung Dipowinatan. Mereka asli komunitas Yogya Jawa semi tradisional. Sehingga “pembelajaran Jawa” saya selalu interaktif tiap hari. Dari “Jawa Islam” di Jombang saya melipat proses nilai dengan belajar “Islam Jawa” di Yogya. Itu sangat menolong proses pembelajaran keIndonesiaan saya. Etos filosofi “Ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh” mungkin bisa saja saya dapatkan di Jombang, tetapi berbeda dibanding Yogya yang memang memiliki alur kuat abad-abad peradaban Jawa, meskipun sebelum Yogya-Solo, Jawa lebih berpusat di Majapahit Jawa Timur dan searea dengan desa saya di Jombang.

Proses usia remaja hingga dewasa saya di Yogya sangat menolong mental saya untuk tidak mudah dimakan oleh halusinasi. Kalau ada tokoh yang agak sedikit tampak hebat, tidak lantas saya sebut sakti. Kalau ada kiai yang sedikit aneh, tidak lantas saya kira wali. Kalau seseorang digrebeg untuk ditangkap oleh polisi atau tantara tapi lolos, itu bisa karena selip teknis saja, sebagaimana sangat sering saya alami.

Mungkin faktanya hanya sekadar yang dijumpai rombongan aparat itu wajah dan sosoknya menjadi bukan orang yang bersangkutan, atau rumahnya ternyata sawah, atau di tempat yang diketahui itu pesantrennya tapi tampak seperti lautan. Dialektika Jawa-Islam dan Islam-Jawa membuat saya lebih waspada. Tidak menyeram-nyeramkan tapi juga tidak meremeh-remehkan. Tidak membesar-besarkan tapi juga tidak mengecil-ngecilkan.

لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَٰرَ ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

Dia tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat semua penglihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Kasusnya mirip dengan orang menuduh tinja tidak busuk, parfum tidak wangi, gula tidak manis dan garam tidak asin, padahal yang terjadi adalah ia terpapar Covid-19. Tapi para Percil menyalahkan tai, gula, minyak wangi, dan garam.

Tapi, kembali ke Percil, ia berkecenderungan mental: siapa saja yang menguntungkan, mereka puja-puja dan junjung-junjung. Kalau ada yang mengkritik “Tuhan”-nya, mereka mengamuk. Sementara siapa saja yang mereka anggap merugikan, atau bahkan siapa saja yang tidak ikut menyembah “Tuhan”-nya, mereka caci maki dan kutuk.

Maka untuk kedua jenis itu kakek-nenek kita berpesan: “Ojo dumeh”. Sebab kalau punya potensi, spontanitas dan kebiasaan untuk “dumeh”, ia terjerembab ke dalam kepribadian yang “adigang adigung adiguna”. Itu seolah-olah hebat, padahal termasuk kelemahan yang paling merendahkan manusianya manusia. Manusia semacam ini petota-petoto atau petita-petiti dengan ucapan dan perilakunya, cerminan dari sikap hidup “sapa sira, sapa ingsun”, tetapi kalau “ingsun” ini ditanggapi oleh “sira” dan ditantang untuk “ketemu darat”, ia sembunyi di lubuk parit-parit busuk.

Menjelang Maiyahan di Sukoharjo Jateng, drummer KiaiKanjeng yang dianugerahi Allah pandangan matanya sedikit bisa menembus dunia paralel, melihat bahwa di bawah atas rumah transit mereka ada makhluk sangat besar. Ketika saya tiba belakangan di rumah itu, si makhluk lantas meloncat ke dekat pintu depan dan matanya yang sangat besar melotot ke saya dan badannya berposisi hendak menerjang saya. Lantas saya, menurut drummer itu, menatap mata si makhluk beberapa saat, sehingga ia loncat ke belakang dan berlari terbirit-birit.

Padahal saya menatap ke arah itu karena di bawah genting rumah itu tidak ada atap atau “pyan”nya. Mata awam saya tidak bisa melihat makhluk apapun kecuali kayu-kayu rapuh di atas. Ketika Maiyahan berlangsung, pas saya bersin keras karena hidung saya terangsang oleh sesuatu yang terhirup, bersin saya pas bersamaan dengan bunyi keras di atap panggung. Ternyata atap salah satu sisi panggung tersingkap dan tiangnya ambruk. Kata si drummer si makhluk tadi yang melakukannya, karena marah kepada saya. Jadi saya menduga makhluk itu menyemburkan virus, lantas imunitas saya bereaksi sehingga saya bersin keras sekali.

Saya tidak punya takdir kemampuan untuk melihat sesuatu yang orang kebanyakan juga tidak bisa melihatnya. Saya ditakdirkan Allah tidak punya kesaktian, kehebatan atau keistimewaan apapun. Karena segala sesuatu dalam kehidupan ini, apalagi keunggulan-keunggulan, hanyalah milik Allah Swt sendiri. “La haula wala quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Adhim”. Di antara hamba-hamba-Nya, ada yang dilimpahi ada yang tidak. Pelimpahan itu pun banyak jenisnya, ragamnya, ukuran dan kapasitasnya. Terserah-serah Ia Yang Maha Empunya segala sesuatu.

Andaikan Allah “idza aroda syai`an” berupa memerintahkan saya dari tidak menjadi ada tapi berupa Percil, maka saya pun Percil. Kalau “an yaqula lahu kun fayakun” saya dijadikan Tobil, saya pun jadi Tobil. Tetapi karena saya dijadikan manusia, maka saya tidak berani kepada Allah kalau lantas saya mengubah diri menjadi Percil atau Tobil. Baik Percil Sungai maupun Cebong Laut. Baik Tobil Gurun maupun Tobil Hutan. Itu tidak berarti Percil dan Tobil lebih rendah dibanding manusia. Alasan saya semata-mata karena saya dan semua manusia memang bukan Percil ataupun Tobil.

Menurut Kanjeng Nabi, ada ketentuan:

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ

Tidak ada yang dapat menolak takdir ketentuan Allah selain doa. Dan tidak ada yang dapat menambah umur seseorang selain perbuatan baik.

Maka terkadang dengan bisik-bisik dan jangan sampai terdengar orang lain, saya diam-diam memohon kepada Allah: “A’udzu billahi minat Tobili wal Percili”. Saya teruskan surat An-Nas: “Alladzi yuwaswisu fi shudurinnasi, minal Tobili wal Percili”. Tidak ada maksud saya untuk mengubah bunyi ayat Allah, saya hanya mengkontekstualisasikan dan mengakurasikan maksud personal saya kepada Allah atas keadaan hidup yang saya alami. Wallahu ‘Alimun Hakim”. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Lainnya