Jariah Serba Tujuh dan Spirit Tadabbur

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dua hari menjelang jadwal resmi Pengajian Padhangmbulan bulan Juni lalu beberapa teman penggiat Omah Padhangmbulan bertemu Cak Mif dan Cak Nang di teras ndalem kasepuhan Menturo. Bukan untuk menyiapkan detail teknis pengajian, melainkan menyikapi suasana akhir-akhir ini yang memerlukan kewaspadaan, kelapangan hati, serta kejembaran sikap tepa slira.

Pengajian Padhangmbulan bulan Juni ditunda. Kalau pun tetap dilaksanakan, insya Allah “aman-aman” saja. Namun, kita juga perlu menimbang dan menghitung variabel lain untuk menjaga kemaslahatan dan kenyamanan bersama.

Berbagai komentar yang menyatakan kangen Padhangmbulanan mengalir di Padhangmbulan Official. “Tiwas ate berangkat, Min.” Ada yang malah nekat, “Los, gas pol saja, Min.” Ada pula yang bijaksana menyikapi, “Kita memang tidak boleh egois. Situasi dan kondisi sedang mengharuskan kita waspada dalam pengendalian diri.” Kita yakin Allah mencatat niat baik teman-teman.

Kendati demikian, atas izin keluarga, secara sangat terbatas dan tertutup, teman-teman Omah Padhangmbulan bertemu di serambi utara masjid untuk shalawatan dan meneb bersama. Ditemani Cak Dil dan Lek Ham, kami berbagi rasa seraya kembali mengenang masa-masa awal Pengajian Padhangmbulan. Menyambung jariah para pendahulu menjadi tema yang mengalir di tengah obrolan.

“Awal pengajian Padhangmbulan ya seperti ini,” kenang Cak Dil. “Ini termasuk jariah orangtua kita yang semoga terus mengalirkan kebaikan.”

Sekitar tahun 95-an ketika pengajian dilangsungkan di teras mushola saya hadir pertama kali di Padhangmbulan. Seingat saya tidak lebih dari seratus orang yang hadir. Pengeras suara belum secanggih sekarang. Cukup memakai pengeras suara sederhana lalu meningkat pakai corong yang dipasang di atas pohon.

Lebih dari dua puluh enam tahun Pengajian Padhangmbulan berlangsung setiap bulan. Salah satu spirit yang menghidupinya adalah melanjutkan jariah Ayah Muhammad Latief dan Ibu Halimah. Kita bisa becermin melalui kaca Padhangmbulan: sebagai anak dari Bapak dan Ibu kita, sebagai cucu dari Mbah Buyut kita, sebagai generasi dari para pendahulu kita, apa yang telah kita lakukan untuk melanjutkan jariah yang ditinggalkan mereka?

Jariah Serba Tujuh

Ya, serba tujuh identik dengan Bapak Ahmad Fuad Effendy (Mbah Fuad). Tepat tanggal 7 bulan 7 digelar Launching Mushaf Padhangmbulan. Mushaf tadabbur yang menurut Cak Mad, Koordinator Pracetak, menjadi satu-satunya di dunia. Mengapa satu-satunya, tidak dua-duanya atau tiga-tiganya? Karena personalitas manusia diciptakan Allah hanya satu dan satu-satunya di alam semesta. Pada konteks ini karya autentik yang sesuai personalitas manusia juga satu dan menjadi satu-satunya. Kendati hal itu tidak harus dimaknai bahwa personalitas akan memutus keterhubungan dan keterjalinan dengan elemen-elemen yang lain.

Kita juga tidak menghebat-hebatkan “personalitas nasab” sebagai legitimasi sosial kultural apalagi agama. Kita belajar kepada Mbah Fuad dan Mbah Nun, serta keluarga besar Ayah Muhammad Latief dan Ibu Halimah yang tidak berhenti mengalirkan jariah kemanfaatan.

Embrio Mushaf Padhangmbulan tidak lahir mak bedunduk alias nongol begitu saja. Sebelum mengikuti Maiyahan di Sumber Brantas Batu saya dan teman-teman sowan Mbah Fuad. Di tengah perbincangan Mbah Fuad memberi saya buku Padhangmbulan Seri 1: Seribu Tafsir Al-Qur’an. Penulisnya: Ahmad Fuad Effendy dan Emha Ainun Nadjib. Buku itu dicetak oleh Kinara Publishing pada Februari 1996.

Saya bersyukur mendapat “hadiah” buku 30 halaman yang tidak hanya menjadi referensi tafsir dan narasi autentik Pengajian Padhangmbulan. Ini semacam “amanah” agar jariah nderes Al-Qur’an—dalam berbagai pengertian dan dimensinya—tidak putus di tengah jalan. Tidak terbayang di pikiran saya beberapa tahun kemudian Mbah Fuad dan Mbah Nun melanjutkan jariah itu menjadi Mushaf Al-Qur’an Tadabbur Maiyah Padhangmbulan.

Lebih tidak terbayang lagi saya diperjalankan dan diberi kesempatan menjadi bagian dari Sinau Bareng setiap malam bulan purnama di desa Mentoro. Saya berada dalam jalinan frekuensi jariah yang saling bertautan dan mengalir hingga entah kapan karena hidup tidak pernah diakhiri oleh kematian.

Membaca Mushaf Al-Qur’an Tadabbur Maiyah Padhangmbulan kita diajak berkelana, mendatangi sudut-sudut ruang tadabbur, mencermati, dan merenungkannya. Tema, cara pandang, serta sikap pandangnya bukan hanya jarang diulik oleh mainstream pemikiran tafsir modern, bahkan ia menukik sedemikian substansial dan mendasar sambil tetap menjaga ketepatan logika dan kedalaman makna.

Tidak ada yang berubah dari spirit tadabbur sejak 1996 lalu. Pada buku Padhangmbulan Seri 1: Seribu Tafsir Al-Qur’an, kita menemukan Mbah Nun menulis sub-judul Dari Mana Ente Tahu Ada Allah, Akhirat, Malaikat, Iblis dan lain sebaginya? Konsistensi kuda-kuda berpikir ini tidak lekang dimakan zaman, tidak larut ditelan waktu.

Melalui ayat yang ditadabburi dalam Mushaf Al-Qur’an Tadabbur Maiyah Padhangmbulan, kita juga menemukan kuda-kuda berpikir yang konsisten, spirit yang istikamah, jariah kebaikan yang terus mengalir hingga lima puluh tahun, seratus tahun, dua ratus tahun hingga kapan dan “entah” yang akan datang.

Jariah serba tujuh dari Mbah Fuad dan spirit tadabbur dari Mbah Nun menjadi teladan bagaimana mencintai Al-Qur’an. Saya, Anda dan kita semua bisa mencintai Al-Qur’an dengan cara yang Allah sendiri menyebutnya, yakni tadabbur. “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad: 24)

Jagalan, 6 Juli 2021.

Lainnya