Kebon (97 dari 241)

Jarak Antara Bangga dengan Malu

Dok. Progress

PM tidak termasuk di antara sejumlah sahabat yang sering dolan ke rumah Bu Novia Kolopaking yang ditempati bersama saya. Berbeda dengan sahabat sesama sekolah militer di Jerman yang saya sebut di tulisan sebelum ini.

Beliau seminggu 3-4 kali nongol di Kelapa Gading. Terkadang ada sahabat Jenderal lain yang datang dengan tumpukan sangat banyak uang di bagasi belakang mobilnya. Alhamdulillah atau sayangnya uang itu tidak kaitannya dengan saya.

Sekitar hari-hari Reformasi Mei 1998 itu saya sendiri sering lalu lalang ke Hankam TNI, Cendana, Kostrad, Masjid Istiqlal, kantor sejumlah tokoh nasional dll. Di Hankam saya tidak diperkenankan masuk bertamu oleh prajurit yang jaga di depan. Akhirnya saya hanya memohon agar disampaikan bahwa yang namanya ini tadi bertamu ke Hankam. Rupanya laporan segara disampaikan, sehingga beberapa menit kemudian seorang Perwira TNI berlari keluar, meminta maaf dan menjemput saya dibawa masuk. Di dalam kantor itu di sebuah dinding ada gambar dan tulisan sedemikian rupa tentang pimpinan politik nasional, yang saya tidak akan mengutipnya di sini. Karena tidak semua orang siap dengan segala hal.

Termasuk tatkala saya bertemu Pak Harto di rumahnya dari pukul 20.00 hingga 22.30 malam, tidak semua tema pembicaraan itu bisa saya kemukakan. Alasannya sama: kebanyakan orang hanya siap mendengar sebagian hal, meskipun sebagian orang bisa siap mendengarkan semua hal.

Setiap tamu dikasih waktu oleh protokol Cendana 30 menit untuk bertemu Pak Harto. Saya mblandang sampai 2,5 jam dan itu agak mencemaskan para staf di luar pintu.

Ketika kemudian saya keluar pintu, mereka merasa lega karena ternyata saya tidak membunuh Pak Harto dan Pak Harto tidak menembak saya. Pada dasarnya para staf yang semuanya dari TNI dan Polri itu saya sayangi dan menyayangi saya. Mereka hanya bertanya: “Beres Cak?”. Saya spontan menjawab: “Sudah ketahuan siapa-siapanya besok”.

Pada hari-hari Reformasi itu saya menjadi tempat bertanya berbgai pihak, institusi maupun figur-figur tertentu atau individu. Pemerintah tidak akan bertindak apa-apa kepada Pasukan Islam, sebagaimana di Peristiwa Priok beberapa lama sebelum itu, tanpa saya menganggukkan kepala. Pasukan Islam yang sehari-hari berkumpul di Istiqlal juga tidak akan melakukan apa-apa yang sifatnya frontal kepada penguasa, tanpa persetujuan saya. Waktu itu petanya belum seperti sesudah Habib Rizieq berkiprah.

TKP Reformasi adalah Universitas Trisakti. Hampir tiap hari saya di sana. Ketika terjadi penembakan, saya ikut mengurusi pemakamannya. Saya memimpin ngaji untuk 3 harinya, 7 harinya dan 40 harinya. Pada suatu siang saya marah kepada sekumpulan mahasiswa, karena mereka memaki-maki tentara-tentara yang bertugas, melemparinya dengan telur busuk, bahkan meludahi mereka.

Kalian semua ini bisa kuliah tanpa kalian menyelidiki dari mana Bapak kalian dapat uang untuk membiayai? Para prajurit ini hanya bisa menjadi Prajurit karena keluarga mereka miskin. Kalau kalian menghina mereka, saya akan berdiri di pihak para prajurit ini.

Banyak sekali peristiwa, pertemuan, dan pergesekan yang saya alami selama hari-hari Reformasi. Ada seorang Menterinya Pak Harto yang ketemu di sebuah hotel, mendatangi saya dengan sikap badan akan memeluk saya. Saya terima tangannya tapi saya sorong dengan badannya ke belakang sampai terjatuh. Bahasa Jawanya saya “jungkrakke”. Karena saya tahu dia palsu dan sok reformasi.

Sampai pun penyanyi dangdut A Rafiq sempat datang ke Kelapa Gading untuk konfirmasi suatu hal. Ada teman tokoh media yang pegang banyak institusi media nasional selama Orba bertamu karena agak cemas jangan-jangan dia akan “terlindas oleh Reformasi”. Masyarakat Kelapa Gading pasca Reformasi mengadakan Selamatan untuk bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada saya untuk hal yang saya tidak melakukan apa-apa. Semua orang tahu di hari-hari Reformasi itu terjadi kerusuhan serius di beberapa tempat, penjarahan dan amuk massa. Glodog pusat bisnis Cina menjadi karang abang. Tetapi Kelapa Gading yang faktanya juga merupakan daerah “Pecinan”, aman dan selamat. Penduduk berpikir itu karena ada saya di Kelapa Gading. Padahal saya tidak tahu apa-apa.

Teman sekolah Jerman PM pernah mengajak saya rapat di Kuala Lumpur, menghitung peta perpolitikan nasional, aktual sampai yang potensial. Saya kalah dibanding beliau: saya tidak segera mengenal dan mengidentifikasi beliau, sementara beliau sudah sangat cepat mengenali saya. Mungkin sesudah pertemuan Kuala Lumpur itu beliau langsung tahu siapa saya dan menemukan bahwa saya tidak “segelombang” dengan beliau.

Dua dekade kemudian malah saya baru agak mengenali wataknya. Saya datang ke rumahnya sore menjelang pengumuman Pilpres. Saya hanya bicara sambil berdiri dan tidak mau diajak duduk. “Sudah cukup di sini saja. Anda sangat sibuk. Saya datang hanya supaya Anda tahu bahwa saya bersimpati dari jauh atas perjuangan Anda”.

Ia menyatakan: “Cak, saya menang. Berdasarkan data Partai saya, data TNI maupun Polri, saya menang. Kalau besok saya dibikin kalah karena kecurangan dan menipulasi, saya akan melawan sampai titik darah penghabisan…”

Saya salami dia. “Bismillah, Bung”. Kemudian saya langsung pamit. Besoknya pengumuman Pilpres. Dia dinyatakan kalah. Kemudian dia tidak melakukan perlawanan apapun. Pada Pilpres berikutnya ia kalah lagi. Bahkan kemudian menjadi Menteri dari Presiden yang dia kalah bersaing.

أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.

Tetapi tidak mudah memahami kesabaran. Terkadang orang merasa sabar, padahal dia kalah oleh persoalan dalam hidupnya. Terkadang orang merasa mulia dan bijaksana, padahal yang ia lakukan adalah kekonyolan dan ketidakberdayaan. Terkadang orang merasa bangga untuk hal-hal yang semestinya membuatnya malu.

Itulah sebab dalam hidupnya, apalagi menjadi tokoh sebuah bangsa besar, manusia memerlukan kelengkapan ilmu dan pengetahuan. Membutuhkan keseimbangan dalam mempertimbangkan dan memutuskan. Manusia ada yang cacat pengetahuan, tetapi matang ilmu. Ada yang lengkap dan utuh pengetahuan, tetapi cacat ilmu. Kedua-duanya sangat kita kasihani, tetapi kita tidak bisa menolong.

Lainnya