Kebon (77)

Jangan Masuk Lubang Biawak

Foto: Adin (Dok. Progress).

Orang yang berposisi paling mencintai dan paling bertanggung jawab atas hidup mati saya, yakni Bu Novia Kolopaking, sesudah mendengar hasil Lab dari Pakde Nuri, pagi-pagi mengatakan kepada saya, “Kan semakin jelas apa yang terjadi. Saya kira sudah saatnya kita melakukan sesuatu”.

Akhirnya malam itu saya melakukan sesuatu, dan Tuhan berkenan menentukan pagi harinya saya sembuh. Beberapa hari berikutnya saya semakin segar dan akhirnya menjadi agak gemuk, bahkan sampai mengalami “moonface” seperti orang kebanyakan minum pil alergi. Berat badan saya naik pesat, sampai melebihi yang dulu-dulu, sehingga kemudian saya berpuasa.

Berpuasa dengan alam kesadaran dan konsep rohani tertentu. Allah menyatakan “kutiba ‘alaikumus shiyam”. Laku puasa itu diniscayakan kepada kalian. Pekerjaan puasa itu dinasibkan oleh Tuhan bagi manusia. Dipastikan (wajib) menjadi bagian dari kehidupan. Tinggal dicari ukurannya, momentum waktunya, kadarnya serta kelengkapan-kelengkapan lainnya.

Puasa itu agak berbeda aplikasinya dibandingkan dengan paket-paket nasib yang lain. Kalau Anda ditakdirkan menjadi putra atau putrinya Bu A dan Pak B. Ditakdirkan berhidung mancung atau pesek. Ditakdirkan ketemu calon istri ketika naik angkot. Atau apapun. Itu semua kita berposisi hampir 100% sebagai objek dari ketentuan Tuhan atau pelengkap penderita. Tetapi takdir puasa memerlukan kerjasama aktif antara Tuhan dengan manusia. Manusia perlu partisipasi aktif dalam hal puasa.

Manusia yang berpuasa hanya berangkat dari kewajiban administratif Rukun Islam juga sah-sah saja. Tetapi konteksnya bukan pada sah atau tidak. Melainkan pada kadar kualitas. Manusia sendiri yang secara dinamis menentukan kadar mutu puasanya.

Tetapi manusia mudah terjebak ke lembah cara berpikir yang fatal dan naif dalam memahami “innalloha ‘ala kulli syai`in Qodir”. Sehingga menyimpulkan bahwa segala yang dialami dan dilakukannya adalah takdir Tuhan. Dia melakukan korupsi karena kehendak Tuhan. Artis Ibukota mengatakan “Saya sih maunya terus, tapi Tuhan menentukan lain, saya harus bercerai dari suami saya”.

Maka Allah menawarkan opsi yang berbeda dengan keyakinan “Jabariyah” seperti terurai di atas. Ayat ini saya kutip lagi dan lagi minimal untuk proses peneguhan pembelajaran saya sendiri:

قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي
وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي
إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat”.

Jadi arti firman itu bukan “Kalau aku tersesat maka Allahlah yang menyesatkanku”. Melainkan kalau kita tersesat, itu karena kita sendiri. Kalau terhidayahi dan terbimbing, Allahlah yang memberi hidayah dan membimbing.

Meskipun banyak firman-firman lain dari Allah, yang kalau kita mandeg pada pemahaman teknis formal ketatabahasaan, kita bisa menyimpulkan bahwa semua baik buruk, salah benar dan sakit sembuh, itu 100% Allah pelakunya dan kita hanya objek sasaran kemauan-Nya. Saya ulang lagi juga ayat ini:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia menjadi yang terbaik di antara semua makhluk yang ditegakkan. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Saya sendiri tidak akan bersedia berbantah tentang tata bahasa firman Allah. Saya menerima lila-legawa apa saja yang menjadi kristal atau tetesan inti pemahaman komprehensif dari kekayaan nilai hidup ini. Pokoknya kalau saya sakit, saya sendiri penyebab sakit itu. Kalau saya sembuh, Allah yang menyembuhkan. Kalau saya masuk neraka, itu program dan agenda saya sendiri berdasarkan praksis kehidupan dunia saya. Kalau saya masuk sorga, semata-mata karena Allah memperkenankan saya bersemayam di dalamnya.

Andaikan saya ceritakan secara teknis apa yang saya lakukan malam itu sehingga paginya Allah menyembuhkan saya, tidak akan ada gunanya kalau mindset sangkan paraning dumadi-nya berbeda antara para dokter itu dengan saya. Dalam urusan iman kepada Allah, saya membabibuta tetapi waspada. Dalam hal ilmu tentang kehidupan manusia, saya waspada dan tidak akan membabibuta, misalnya menyimpulkan bahwa selembar daun atau sebiji tablet berkuasa menyembuhkan sakit saya.

Apapun saja yang mentakjubkan dari dunia modern atau dari warisan-warisan segala peradaban manusia, semua saya taqwai atau saya waspadai. Dengan fathonah atau akurasi dan  kejernihan kecerdasan tingkat tinggi, Kanjeng Nabi wanti-wanti:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وذِرَاعاً بِذِرَاعٍ
حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan orang- orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian juga akan memasukinya.”

Lainnya