Kebon (73)

Jangan Berdehem. Apalagi Bersin.

Kerancuan dan bias pemaknaan kata sandiwara. Drama. Teater. Akting. Pura-pura. Berlagak. Akun abal-abal. Munafik. Pengecut. Lempar batu sembunyi tangan. Permainan dan main-main. Dan banyak lagi.

Itu semua membuat kebudayaan dan komunikasi sosial di antara manusia menjadi semakin kabur pagarnya. Norma. Regulasi. Sistem etika. Sampaipun pasal hukum. Orang bermimpi, dipidanakan.

Orang menganalisis hari esok ditangkap. Orang menerawang masa depan dengan ilmu dan kepekaan batin kena pasal. Orang “kasyful hijab” dilaporkan ke Kepolisian.

Suatu hari orang shalat diseret ke Kantor Polisi karena menyembah Tuhan. Sedangkan yang bernama Tuhan tidak bisa dijangkau oleh tangan hukum. Berarti itu hoax. Kebohongan publik.

Meskipun sebenarnya fokus masalahnya bukan itu semua. Fokus masalahnya adalah apa saja yang tidak kompatibel dengan kepentingan Penguasa, itu pasti salah. Sesalah apapun, asal mendukung kekuasaan yang berlangsung, itu pasti benar. Meskipun Malaikat Jibril, kalau tidak memuja Satria Piningit, berarti makar dan melanggar konstitusi. Meskipun Iblis, Dajjal dan Ya’juj Ma’juj, Setan dan Demit Bekasakan Periprayangan, asalkan mendukung Presiden pujaan hati, berarti Pancasialis.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Para penafsir Qur’an tidak pernah atau belum atau jarang mengaktivasi logika balik dari ayat itu. “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil”. Jarang kita dengar pemahaman lipatan: “Janganlah kecintaanmu kepada seseorang hingga kau puja-puja, membuatmu berlaku tidak adil”.

Bisa berlangsung suatu zaman di mana komunikasi sosial berlaku berdasarkan kekuasaan dan berporos “benarnya sendiri”. Suatu era di mana manusia terancam bahaya akibat kalimat kebenaran yang diungkapkannya. Suatu periode di mana rakyat menemukan bukti kebenaran kalimat “quill haqqa walau kana murran”. Katakanlah yang benar meskipun pahit. Suatu orde di mana siapa saja yang mengucapkan kebenaran akan memperoleh nasib yang pahit, pengeroyokan yang menyakitkan, bulliying yang sangat merendahkan martabat kemanusiaan.

Sekedar mengatakan dua kata kebenaran, dianggap melakukan perlawanan, dituduh menyindir atau mengkritik, dan dihukum secara kejam. Penguasa di antara manusia punya keberanian untuk tidak memberlakukan ketentuan Tuhan:

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.

Keterangan Allah itu perlu dibreakdown. Yang lalim itu bukan Tuhan, tapi manusia. Tetapi “manusia” itu tidak seluruh manusia mendhalimi diri mereka sendiri. Melainkan sebagian manusia mendhalimi sebagian manusia yang lain. Peradaban yang sedang kita jalani sudah membagi “kami dan mereka”, “aku dan dia”, “yang di sini dan yang di sana”, “yang berkuasa dan yang dikuasai”, “yang menista dan yang dinista”, “yang bisa memperalat hukum dan yang menjadi korban dari manipulasi hukum” secara tanpa ilmu, hikmah dan kebijaknaan, tanpa al’adlu (keadilan universal) dan al-qisthu (keadilan spesifik).

Masyarakat, rakyat, Negara dan Pemerintahan yang membiarkan keadaan seperti itu berlangsung berkepanjangan, bahkan menikmati dan menungganginya, pada hakekatnya sedang membangun Peradaban Ahmaq. Kebudayaan jahil murokkab. Goblog kwadrat. Bodoh dobel-dobel, yang kerbau dan ayampun tidak sampai sebodoh itu.

Sayidina Ali bin Abi Thalib dan sejumlah tokoh lain memberikan mozaik pandangan tentang Manusia Ahmaq, misalnya:

اَحْمَقُ النَّاسِ مَنْ ظَنَّ اَنَّهُ اَعْقَلُ النَّاسِ

Artinya: “Orang yang paling dungu adalah yang merasa paling pandai”.

اَحْمَقُ النَّاسِ مَنْ يَمْنَعُ الْبِرَّ وَيَطْلُبُ الشًّكْرَ، وَيَفْعَلُ الشَّرَّ وَيَتَوَقَّعُ ثَوَابَ الْخَيْرِ

Artinya: “Orang yang paling dungu adalah yang menahan kebaikan namun berharap sanjungan dan berbuat keburukan namun berharap pahala kebaikan”.

تُعْرَفُ حَمَاقَة ُالرَّجُلِ فِي ثَلَاثٍ
فِي كَلَامِهِ فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ وَ جَوَابِهِ عَمَّا لَا يُسْأَلُ عَنْهُ
وَ تَهَوُّرِهِ فِي الْاُمُوْرِ

Artinya: “Kedunguan seseorang dapat dikenali pada tiga hal; pada perkataannya ketika berbicara tentang sesuatu yang tidak berhubungan dengannya. Pada jawabannya ketika menjawab sesuatu yang tidak ditanya tentang itu. Pada kecerobohannya dalam segala urusan“.

Manusia dan masyarakat Ahmaq tidak bisa menerima apapun kecuali pamrihnya sendiri, kepentingannya sendiri, kemauan egosentrisnya sendiri. Bahkan tidak bisa menerima pembicaraan apapun dari orang lainnya kecuali salah paham atau merasa dituduh. Kita berdehem disangka menyindirnya. Bersin atau wahing kita dianggap menuduhnya terpapar virus. Kita lewat bawa mobil dianggap menghina motor yang dikendarainya. Kita bercermin dan sisiran dituduh menganggap dia berwajah buruk dan berambut brondhol. Walhasil semua kata, kalimat dan ungkapan apapun dikaitkan secara subyektif dengan kepentingannya. Kita bikin status, upload kalimat atau apapun, dituduh menghina tokoh pujaannya.

Lainnya