Kebon (70)

Ilmu Waktu

Kepada anak-anak cucu-cucuku Jamaah Maiyah Al-Mutahabbina Fillah. Posisi tulisan ini bukan memberitahukan sesuatu yang saya ketahui kepada kalian supaya juga mengetahui.

Tulisan ini sekedar meneruskan sesuatu yang diberitahukan kepada saya yang tidak mengetahui. Saya tidak punya ilmu, pengetahuan, alat atau jangkauan untuk menilai sesuatu yang diberitahukan itu benar atau salah, akan benar-benar terjadi atau tidak. Saya bukan seorang “kasyiful hijab” yang mampu membuka tabir rahasia Allah atas kehidupan. Saya hanya menyalurkan informasi yang saya terima.

Informasi yang membuat saya merasa ketakutan. Karena seperti barusan saya bilang: Saya tidak punya ilmu, pengetahuan, alat atau jangkauan untuk menilainya.

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan mengenai ilmu waktu. Dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya yang akan berakibat di hari esoknya. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengabarkan.

‘Ilmus-Sa’ah tidak salah dipahami sebagai saat tibanya Hari Kiamat. Tapi bahkan apa yang akan terjadi pada satu menit yang akan datangpun hanya diketahui oleh Allah. Jangankan Hari Kiamat yang amat sangat tak terjangkau oleh alat ilmu dan pengetahuan manusia.

Meskipun sudah pasti bahwa itu semua hanya Allah yang pasti tahu, namun tidak berarti secara mental saya berani mengambil keputusan bahwa “itu semua tidak benar”. Sebaliknya juga tidak ada dasar apapun yang saya miliki untuk menyimpulkan bahwa “itu benar”. Galaksi tempat tinggal kita bukan Bimasakti, Milkyway, Magellan atau Ursa Mayor. Galaksi kampung halaman kehidupan kita bernama “Semoga” atau nama lainnya “Mudah-mudahan”. Yang kita punya hanya “semoga tidak benar” atau justru “semoga benar”. Terserah masing-masing.

Kalau di kampungmu ada Waliyullah, mohon sowan-lah kepada beliau untuk bertanya. Karena ada kemungkinan beliau dianugerahi keistimewaan atau karomah untuk diperkenankan Allah mengetahui itu. Kalau di antara tetangga ada Habib, maka berkunjunglah kepada beliau, memohon agar nanti malam beliau bertamu kepada Rasulullah Muhammad saw dan menanyakan hal itu. Kemudian dua beliau itu, Waliyullah dan Habibunnabi, berkenan mengumumkannya kepada para tetangga demi menciptakan ketenangan hati masyarakat.

Adapun yang saya bisa lakukan untuk anak cucuku Maiyah hanyalah meneguhkan bahwa sekarang inilah momentum yang Allah menyebutnya:

فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Maka bertambahlah keimanan mereka dan mereka berkata: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Sekaranglah saatnya mentotalkan kepasrahan jiwa kepada Allah swt Maha Penguasa atas segala hal dalam kehidupan kita.

Sekaranglah saatnya kita mensujudkan jiwa raga sukma nyawa kita serendah-rendahnya kepada Allah Yang Maha Setinggi-tingginya sehingga tak ada ilmu yang sanggup mengukurnya.

Sekaranglah saatnya kita pasrah bongkokan atas apa saja yang kita punya dan tidak kita punya. Yang kita tahu dan tidak kita tahu. Yang kita bisa dan yang kita tak bisa. Yang kita takutkan dan tidak kita takutkan. Yang merupakan kenyataan hidup kita maupun yang hanya merupakan impian kita.

Tidak ada seserbuk sedebu sedzarrah setetes apapun yang tidak kita kembalikan dan pasrahkan kembali kepada Maha Pemilik Sejatinya.

Kemudian kita sempurnakan berdasarkan tuntunan Kanjeng Nabi:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Penuhi siang malammu dengan sikap batin kepasrahan total kepada Allah. La ilaha illallah-kan setiap nafasmu, kecuali pada tempat dan saat yang tidak pada maqamat-nya.

Yang memberitahukan kepada saya itu, yang pertama, hanya menyampaikan kalimat “tinggal beberapa minggu lagi”, dan “kita akan punya pemimpin seumur hidup”.

Jangan tidak cerdas dan teliti terhadap informasi “Pemimpin seumur hidup”. Lebih setengah abad yang lalu kita punya pemimpin yang disepakati menjadi “pemimpin seumur hidup”. Tetapi tidak terjadi karena beliau berhenti sebagai pemimpin 6 (enam) tahun sebelum hari meninggalnya. Kemudian ada pemimpin berikutnya yang duduk di singgasana selama 32 tahun, dan semua orang merelakan beliau akan menjadi “pemimpin seumur hidup” karena tidak berani membayangkan atau tidak mampu memikirkan apakah ada yang membuat beliau lengser dari singgasananya. Tetapi ini juga tidak berhasil, karena 10 tahun sebelum meninggal beliau sudah menemukan hikmah “ora dadi Presiden ora pathèken”.

“Pemimpin seumur hidup” bisa dibayangkan seseorang terus menjadi pemimpin hingga usia 80-90 tahun atau lebih. “Pemimpin seumur hidup” bisa terjadi pada pemimpin yang baru memimpin beberapa tahun kemudian Allah memanggilnya tanpa disangka-sangka. Sehingga beliau menjadi “pemimpin seumur hidup” alias “menjadi pemimpin sampai hari kematiannya”.

Adapun tentang “tinggal beberapa minggu lagi”, saya sungguh-sungguh tidak tahu maksudnya. Pemberitahuan yang kedua agak lebih tartil: “Mulai Maret korban wabah dan bencana lain akan besar-besaran. Ada perang antara dua negara raksana dalam hitungan beberapa hari lagi. Kalau sampai senjata nuklir digunakan, maka minimal Asia Selatan dan Tenggara bagian agak ke utara akan luluh lantak”.

Bagaimana saya tidak takut dan merasa ngeri mendengar pemberitahuan seperti itu? Ini bukan ranah ilmu. Bukan urusan politik atau hukum. Bukan soal kelompok dan golongan.

Apakah yang akan kita alami yang katanya sebentar lagi itu merupakan akibat logis dari yang disebabkan oleh perilaku kita sendiri? Sebagaimana Allah merekomendasikan agar kita selalu berhitung secara futurologis:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengabarkan apa yang kamu kerjakan.

Andaikan yang terjadi nanti adalah Allah memerintahkan satu MalaikatNya untuk mengumandangkan satu teriakan:

مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ

Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.

Dan lantas terjadi Hari Kiamat dalam sekejapan mata secepat satu teriakan atau satu sekon sesudahnya. Mungkin itu puncak “semoga” kita. Sebab kalau qiyamah shugro, kiamat kecil, icrit-icrit, kita tidak akan tahan menanggung deritanya.

Lainnya