Membaca Surat dari Tuhan (13)

Ijtihad Merayakan Hari Jum’at

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Biasanya pada jam 10 pagi Ayah memotong kuku tangan dan kaki lalu mandi. Mengenakan baju bersih, sarung bersih, kopiah dan sajadah, Ayah siap berangkat ke masjid, Jum’atan.

Di Masjid Gede Kotagede jamaah Jum’atannya unik. Khususnya orang tua. Mereka berangkat awal agar sebuah tempat di shaf masjid tidak kedahuluan orang. Mereka berlangganan tempat itu. Semacam kapling yang tidak boleh orang lain menempati.

Awalnya saya tidak tahu ini. Tetapi setelah melihat Ayah saya selalu datang awal dan menempatkan sajadahnya di utara mimbar masjid kemudian saya perhatikan jamaah lain yang sepertinya sudah mengkapling shaf saya jadi paham.

Saya lalu eksperimen datang awal dan duduk di shaf belakang pengimaman. Tiba-tiba yang punya tempat datang dari saya diminta bergeser duduknya. Saya mengalah agar wajah sangar itu berubah ramah.

Saya amati, semacam melakukan penelitian kecil. Sebagian besar yang berperilaku seperti ini adalah warga asli Kotagede yang puluhan tahun menjadi jamaah Jum’at masjid Gedhe Kotagede. Mungkin mereka merasa nyaman duduk di titik koordinat itu dan bisa mendengarkan khutbah dari sudut tertentu. Mereka hafal dengan situasi dan kondisi lokasi itu, termasuk kalau mendengar yang khutbah orang tertentu mereka memilih mengantuk.

Dan untuk khatib dan imam Jum’at juga ada yang unik. Kalau yang berkhutbah abdi dalem Keraton, dia cepat khutbahnya. Seperti hafalan. Membaca teks kitab khutbah, berbahasa Arab, tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Kalau membaca doa penutup khutbah juga cepat sekali seperti pesawat terbang jet tinggal landas melejit ke langit bebas. Anak anak senang dan orang tua tidak sempat mengantuk. Surat yang dibaca saat imam juga paten, At-Tiin dan Adl-Dluha.

Ada juga abdi dalem khatib, sepuh yang kalau berkhutbah suaranya lunak dan irama bicaranya enak. Tema Khutbah rutin. Menjelaskan tentang taqwa, dalam bahasa Jawa, ditambah tentang ibadah mahdloh. Ini yang membuat jamaah punya kesempatan dan alasan mengantuk.

Kalau khatib modern lebih dinamis, kebanyakan masih menggunakan bahasa Jawa. Uraiannya agak panjang. Banyak hal baru. Kalau mengantuk rugi. Malah ada yang kalau khutbah berapi-api seperti Bung Karno, berbahasa Indonesia. Orang jadi malu sama khatibnya kalau mengantuk.

Waktu sampai rumah, Ayah sering mengajak diskusi tentang isi khutbah Jum’at itu. Sambil makan siang, Ayah mengomentari isi khutbah Itu. Kalau pas dengan kebutuhan zaman dan uraiannya bagus, Ayah memuji khatibnya.

Kalau isi khutbah klise dan tidak sesuai dengan konteks persoalan pada saat itu, Ayah sering kecewa. “Kenapa ya ada khatib menyembunyikan ayat-ayat yang pas untuk keadaan sekarang ini,” katanya.

Akibat sering diajak mengkritisi isi khutbah Jum’at saya jadi jeli dan mencermati isi khutbah Jum’at. Karena Ayah berlangganan koran, perkembangan keadaan dapat diserap. Kalau isi khutbah tidak aktual saya jadi ikut-ikutan mengritisi. Akibatnya saya jadi kurang bisa menikmati khutbah Jum’at. Saya jadi mirip editor yang maunya mengedit khutbah Jum’at. Tapi ini kan mungkin saya lakukan. Baru ketika di kemudian hari saya jadi editor buku kumpulan khutbah, saya bisa melakukan editing sepuasnya. Dan saya jadi sadar kalau sebenarnya menulis naskah khutbah itu tidak gampang.

***

Hari Jum’at waktu saya kecil memang hari raya mingguan. Dirayakan dengan libur sekolah. Kalau malam Jum’at libur mengaji. Diisi dongeng yang menarik atau berbagi pengalaman. Misalnya tentang pengalaman kalau malam Jum’at sehabis Maghrib tidak boleh bertamu ke rumah orang. Tidak akan dilayani karena semua warga kampung dari Maghrib sampai Isya berkumpul di masjid mendengarkan pengajian. Baru setelah pulang dari masjid, rumah dibuka untuk menerima tamu.

Kalau di kalangan anak anak, seingat saya, mulai dari Kamis siang sampai Jum’at malam, tidak boleh ada yang berkelahi. Hari perdamaian anak-anak. Saya sendiri kalau malam Jum’at pergi ke rumah Mbah Dulah Qomari, kakak dari Mbah Hasyim. Saya berangkat sore menjelang Maghrib. Kadang berjamaah Maghrib di masjid Perak tempat Mbah Dullah Qomari jadi imam. Atau saya berjamaah di langgar milik orang tua Kang Abdul Muhaimin di kampung Prenggan, dekat dengan rumah Mbah Buyut saya.

Saya senang bermain di langgar ini. Banyak teman sebaya. Kalau di lapangan Karang ada pemutaran film Deppen kami kangsenan (janjian) nonton bareng. Habis shalat Isya saya berlari ke rumah Mbah Dulah Qomari. Yang ada Mbah Putri. Saya makan malam sebentar dengan lauk paling lezat, tempe bacem dua potong. Setelah itu saya pamit sama Mbah Putri, bilang kalau mau nonton film layar tancap. Saya diberi uang untuk membeli kacang rebus atau kacang goreng.

Nah, malam itu kami bersama Kang Abdul Muhaimin dan keponakan dia, ditambah beberapa teman di kampung ini pergi ke lapangan Karang nonton bareng. Seneng juga. Apalagi kalau film yang diputar film humor campur horor. Pemain Srimulat membintangi film berjudul Drakula Mantu misalnya. Waktu dalam suasana remang saya iseng menghitung teman yang kemul sarung. Lho kok jumlahnya tambah satu. Siapa ini? Waktu film usai diputar, saya hitung lagi teman saya. Sama dengan waktu datang. Penonton kemul sarung yang tadi ikut duduk bersama kami, mungkinkah demit? Ketika saya tanya ke teman-teman, mereka malah berlari sambil berkata, “Hi itu demit kuburan sini atau sana.” Saya ikut berlari sambil melempar kulit kacang.

Memang lapangan Karang ini dikelilingi oleh tiga makam kuno di sudut yang berbeda. Kami datang dan pulang harus melewati salah satu dekat tembok makam ini.

Malam itu saya tidur di rumah Mbah Dulah Qomari. Saya memilih tidur di lantai di tempat yang diterangi lampu teplok. Mbah Dulah tidur di dalam kamar di tengah rumah. Sebelum tidur Mbah Putri bilang kalau saya harus bisa minum teh panas dalam teko yang ditutup dengan tekosi alias bantal pelindung teko. Ada makanan ketela goreng dan pisang goreng di gledeg atau almari khusus menyimpan makanan.

Besoknya, hari Jum’at saya punya pekerjaan rutin. Pertama, mengisi bak mandi dengan mengangsu air dengan timba. Kedua, membrongsong jambu agar selamat tidak dimakan tikus. Ketiga, membersihkan kebun. Termasuk panen singkong untuk dimakan dan sebagian dibawa pulang sesuai perintah Mbah Dulah Kakung.

Oya, Mbah Dulah Qomari ini tidak punya anak. Dan dulu ketika pengantin baru ayah dan ibuku pernah tinggal di rumah ini sebentar. Hubungan kami sangat dekat. Dan setelah Mbah Dulah Kakung meninggal saya masih sering bermalam di sini kalau malam Jum’at. Dan suatu hari Mbah Putri menangis, bercerita kalau dia baru saja bermimpi bertemu dengan Kanjeng Nabi Muhammad. Saya menghibur dia dengan bilang bahwa itu pertanda baik.

Setelah umur saya bertambah dan makin banyak kesibukan, hari malam Jum’at atau hari Jum’at saya jarang ke rumah Mbah Dulah Qomari lagi. Apalagi ketika saya dan teman-teman diberi tugas menjaga Perpustakaan Pemuda Muhammadiyah Kotagede yang dibuka Jum’at pagi, Ahad sore, dan Rabo sore.

Perpustakaan yang berdiri sejak tahun 1926 ini punya koleksi unik. Termasuk satu almari berisi buku sastra dan budaya. Buku sastra klasik dengan ejaan lama ada, buku tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa dengan huruf Jawa ada. Ketika kami masuk dan ikut mengelola, perpustakaan ini kami isi dengan buku terbitan Pustaka Jaya dan jurnal serta buku terbitan LP3ES. Ditambah langganan majalah Panji Masyarakat.

Buku baru yang sekiranya menarik kami beli. Dengan demikian banyak anak muda yang menjadi anggota perpustakaan. Mereka ada yang suka datang di hari Ahad sore, Rabo sore atau Jum’at pagi.

Pelan-pelan Perpustakaan ini tumbuh menjadi pusat gerakan dan pemikiran anak muda Kotagede. Mereka berkumpul dan ngobrol. Sering kali ide kreatif muncul di sini.

Apalagi kalau Jum’at Legi, pasar ramai sekali karena merupakan hari pasaran. Banyak yang datang ke perpustakaan ini, termasuk mereka yang disebut warrior atau jagoan kota yang ketika diajak ngobrol asyik juga. Mereka punya kelompok pecinta alam yang antik, sedang kami punya kelompok pecinta alam yang anggotanya sering diledek sebagai pecinta alam intelek. Kami dan mereka akrab dan akur, tidak pernah bentrok. Sebab mereka juga tahu kalau di antara kami adalah siswa Tapak Suci dan karate. Saling segan dan hormat. Bahkan saya pernah mewancarai mereka untuk dimuat di media lokal.

Meski Jum’at Legi pasar ramai, dulu ada sebagian toko buka setelah Jum’atan. Jum’at pagi untuk silaturahmi ke saudara. Ada keluarga besarnya Kang Habib Chirzin yang kalau Jum’at pagi kumpul di rumah kakeknya yang rumahnya bersebelahan dengan kakek saya. Kami akrab karena tahu kalau Mbah buyut kami kakak beradik. Mbah buyut putri saya adalah kakak dari Mbah buyut Kakung dari keluarga Kang Habib Chirzin.

Saya sendiri kalau tidak ada kegiatan, ketika kecil selain ke rumah Mbah Dulah Qomari, juga diajak silaturahmi ke tempat kakek oleh Ayah. Hanya Ayah kalau mengajak saya keliling mulai setelah shalat Subuh. Dimulai dengan berziarah ke makam leluhur (ini masih lumayan, kadang Ayah mengajak ziarah tengah malam Jum’at di makam ini) lalu keliling desa sekitar Kotagede. Dan ketika di sebuah desa yang warganya gemar memelihara anjing kami dikejutkan suara nyalak anjing yang membuat saya takut sampai gemetar. Ayah tiba-tiba mengangkat tangan ke arah anjing itu sambil berdoa cepat. Anjing terbungkam. Macet suaranya. Dengan tenang Ayah mengajak saya lewat di depan anjing yang bengong. Baru setelah puas berkeliling desa seputar Kotagede, pagi sudah agak siang Ayah mengajak silaturahmi ke rumah Mbah Hasyim. Minum teh hangat dan jajan pasar.

Untung saya masih merasakan hari Jum’at yang dirayakan sebagai hari libur sejak di TK, SD, PGA, bahkan sampai kuliah. Tradisi libur di hari Jum’at ini dulu merupakan inti dari tradisi libur di kasultanan di mana pada hari Jum’at pagi ada pisowanan alit dengan sidang kabinet di kerajaan sultan ini. Ada laporan dari para menteri yang didampingi Patih melapor kepada Raja. Lalu kalau ada kasus hukum, dilanjutkan dengan sidang yang ditutup sebelum shalat Jum’at. Para Sultan selalu shalat jamaah Jum’at bersama dengan hadirin di pisowanan alit ini. Di dalam ruangan dalam masjid, Sultan disediakan ruang khusus yang disebut maksuro, berupa ruang dipagar kayu tebal yang dijaga prajurit pengawal raja.

Tradisi libur Jum’at atau merayakan hari Jum’at sebagai hari besar kerajaan yang kemudian dirusak oleh Belanda dengan mengenalkan hari Ahad (Ngaat) sebagai hari libur. Hari Ahad kemudian disamarkan sebutannya menjadi hari Minggu. Padahal minggu adalah nama satuan hari selama tujuh hari sebagaimana pasaran adalah nama satuan hari Jawa selama lima hari.

Dan ketika belajar di sekolah guru agama (PGA) anak-anak diharuskan menghafal surat Jumuah. Hampir dipastikan kalau ada imam shalat Jum’at membaca surat itu, dia mantan murid Sekolah guru agama. Kiai Sunardi Syahuri misalnya, saya mendengar dia selalu membaca surat itu kalau jadi imam Jum’at. Ternyata dia adalah lulusan Madrasah Muallimin Muhamadiyah Yogyakarta seangkatan dengan mas Suparno S Adhy yang pendiri Persada Studi Klub Malioboro.

Kegiatan merayakan hari Jum’at juga dilakukan masyarakat Arjoso (Arab Jogja Solo) yang jumlahnya lumayan banyak. Klaster Arjoso yang dulu berada di kampung Sayidan (kampung para Sayid) pasca Perang Diponegoro buyar, mengalami diaspora. Kabarnya ada dua marga Arab, yang satu Basyaiban yang diburu telik sandi Belanda karena diduga menjadi pengikut teguh Pangeran Diponegoro. Marga yang satunya lagi saya lupa.

Marga yang lain seperti Bahanan, Bafaqih juga tiarap, berbaur dengan masyarakat Jawa dengan cara menghilangkan nama marga dan menikah dengan orang Jawa sehingga kearabannya menjadi samar. Sedangkan marga Baswedan yang datang dari Surabaya setelah jauh hari dari perang ini selamat dan hidup bersama masyarakat karena mendeklarasikan sebagai bagian bangsa Indonesia dan diakui keIndonesiaannya. Demikian juga marga yang lain berasal dari Pekalongan dan Solo misalnya masuk Yogya dengan damai setelah masa perjuangan kemerdekaan, dan mereka tidak mendiami Sayidan.

Arjoso kontemporer ini menyebar tempat tinggalnya. Mereka yang masih punya jalur jelas dengan leluhurnya di Yaman ini masih memelihara tradisi merayakan hari Jum’at dan momentum sebelum Ramadhan dengan pertemuan silaturahmi yang dimeriahkan dengan makan makanan dengan menu Arab. Misalnya nasi kebuli dengan daging kambing pilihan, berdasar “ilmu semacam katuranggan untuk kambing” yang mengidentifikasi bagian dari daging kambing lengkap dengan peruntukannya. Ada yang asyik untuk sate, untuk nasi kebuli, dan untuk obat.

Saya pernah menikmati suguhan perayaan hari Jum’at dengan pesta kecil-kecilan siang hari sehabis Jum’atan di rumah sahabat saya Sholeh UG yang bermarga Gysmar. Pak Sholeh ini berasal dari Pasar Kliwon Solo dan pernah mentradisikan membaca surat Yasin di kantor setiap Jum’at.

Tradisi membaca surat Yasin, kemudian juga surat Al-Kahfi, dan membaca kasidah atau shalawat dengan membaca kitab standar untuk Dzibaan, Berjanjen, Burdah, dan lainnya akrab dan menyatu dengan kehidupan pondok pesantren. Ketika saya sekolah dulu mempelajari surat Jumuah memang banyak asyiknya dan mengandung kejutan makna. Saya baru menyadari ada masyarakat tertentu telah mengamalkan kandungan maknanya selama ratusan tahun.

Surat ini diawali dengan ayat yang berbunyi Yusabbihu lillahi ma fis samawati wal ardl Al Malikul Quddus Al ‘Aziz Al Hakiim. Sebuah ayat yang mengingatkan bahwa apa saja yang ada di bumi dan langit senantiasa mensucikan Allah Swt, di awal surat Jumuah, maka manusia sadar kalau hari Jum’at adalah momentum untuk mensucikan diri. Dimulai dengan malam hari, setelah bersuci membaca surat atau ayat yang dianjurkan.

Kemudian, menjelang siang sebelum berangkat ke masjid untuk beribadah Jum’at disunnahkan untuk mandi. Kesadaran mensucikan diri dan mensucikan nama Allah Swt terbangun dengan ayat ini. Dan uniknya, di ayat ini disebutkan ada empat Asmaul Husna: Al-Malik, Al-Quddus, Al-‘Aziz dan Al-Hakim. Konstruksi makna dari rangkaian Asmaul Husna ini sangat kokoh yang “menggambarkan fungsi dan peran” Ketuhanan Allah Swt sendiri. Peran dan fungsi Keberkuasaan, Kebersucjan, Kemuliaan, dan Kebijaksanaan Tuhan.

Dengan demikian perintah Allah untuk menjalankan ibadah Jum’at dipayungi oleh empat Asmaul Husna. Perintah yang amat sangat serius untuk diamalkan dan dilaksanakan seminggu sekali agar umat Islam yang membaca kitab suci Al-Qur’an menjadikan bacaannya fungsional dalam missi penyelamatan hidupnya. Tidak seperti umat yang diberi kitab Taurat tetapi tidak mengamalkan, seperti disindir oleh ayat tentang keledai yang memikul kitab suci.

Yang menarik lagi kalau kita mau merangkai konstruksi makna surat ini dengan menghubungkan awal surat dengan akhir surat kita bisa menyadari bagaimana pada hari Jum’at kita perlu meliburkan seluruh hari dari kegiatan mencari harta benda yang bermanfaat untuk menjalankan ibadah zakat, haji, qurban, sadaqah, infaq di bulan Ramadhan, Dzulhijjah, dan bulan lain.

Mengapa? Karena ujung surat ini tercantum salah satu Asmaul Husna, Ar-Roziq yang memberi rezeqi dan asal-mula rezeki. Bahkan di ayat kesebelas surat ini Allah SWT disebut sebagai Khoirur Roziqiin. Nah masyarakat muslim di Pekalongan dan Kotagede juga yang lain menerjemahkan atau menafsirkan atau mentadabburi dengan tindakan berupa membuka toko dan tempat perniagaan setelah shalat Jum’at. Perintahnya kan berbunyi: “Dan setelah usai beribadah Jum’at maka bertebaranlah kalian di muka bumi untuk menjemput anugerah Allah (rezeki).

Tafsir amali, terjemah amali, tadabbur amali seperti ini jika dilakukan (dioperasikan) untuk ayat dan surat yang lain sungguh akan membuat umat Islam memenangkan masa depan.

Semoga demikianlah adanya. Amin.

Yogyakarta, 28-30 Juni 2021.

Lainnya