Idulfitri: “Sungkem” ke Pangkuan “Ibu Quran”

(Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, 1994)
Photo by T Foz on Unsplash

Idul Fitri. Inilah momentum anugerah tertinggi. Inilah kondisi kebahagiaan teragung. Inilah situasi karamah, kemuliaan, yang paling menggiurkan.

Hamba-hamba-Mu tergetar menggemakan takbir, musik yang paling musik dari segala musik. Yang terpendam di dalamnya puisi tersunyi dari segala aras keheningan yang hanya mungkin diwakili oleh dua kata: Allah dan Akbar. Allah, satu-satunya nama yang orisinal, satu-satunya yang benar-benar nama.

Dan, Akbar, bukan Kabir. Kabir itu maha-besar, maha-agung, maha-unggul. Akbar adalah maha lebih besar, maha lebih agung, maha lebih unggul.

“Lebih”, karena hamba-hambalah yang mengucapkan kata itu: di dalam kesadaran para hamba, di dalam penghayatan dan cinta para hamba—Allah senantiasa terasa lebih besar, lebih agung, dan lebih unggul. Memuai. Akbar.

Para hamba meninggikan tangan dalam ketakjuban total. Para hamba tersujud-sujud di hamparan shirath mustaqim, jalan yang ditegakkan. Jalan an’amta ‘alaihim, jalan di mana Sang Maha-Engkau menyiapkan setinggi-tinggi nikmat: suatu kondisi kosmologis, yang diraih dengan teologi Ramadlan dan Idul Fitri, serta melalui pergulatan filosofis ilaihi roji’un. Menempuh perjalanan kembali. Kembali ke hadirat-Nya. Kembali fitri. Kembali sejati. Betapakah wajah para hamba yang Engkau beri nikmat, ya Akbar? Menjadi siapakah mereka?

An-Nabiyyin. Para Nabi yang Engkau nobatkan serta para pewaris tongkat mereka. Para pembawa kabar gembira. Para wartawan segala peradaban. Penabur kebenaran, basyir wa nadzir, yang membangun, mengontrol, dan memperbaiki.

Oleh karena itu, merekalah as-shiddiqin, orang-orang yang kepada mereka kita bisa sandarkan kepercayaan. Orang-orang yang jujur. Yang utuh dan memelihara kejujurannya dengan terus-menerus bertahan menjadi syuhada, pejuang. Syuhada itu jamak dari syahid. Saksi. Orang-orang yang menyaksikan, bersaksi, dan memperjuangkan kesaksiannya atas kebenaran Allah, haqqullah dengan pena dan kata-kata, dengan badan dan keringat, dan akhirnya dengan kematian — karena kebenaran sebisa mungkin harus tersertakan di sisi mautnya, agar kematiannya pun menyaksikan dan bersaksi atas kebenaran itu.

Tak heranlah bila Allah menyebut mereka As-Shalihin. Orang-orang saleh. Pelaku-pelaku ishlah, yang setiap kali siap dan bersedia memperbaiki zaman, merombak dan membenahi sejarah, merevisi, mereformasi, merestrukturisasi, meresistemasi, mengubah, dan melahirkannya kembali. Ya Allah, semoga itulah kami. Semoga karena itulah tak ragu kaki kami melangkah ke aras agung Idul Fitri-Mu dan menggemakan Akbar-Mu.

Totalitas Tangis Bayi

Adapun dengan common sense, barangkali kita bisa mengasosiasikan arti Idul Fitri secara sederhana. Id itu ‘kembali’. Fitri itu ‘fitrah’. Asli. Orisinil. Bayi. Bayi itu “telanjang”, tidak banyak embel-embel. Tidak rewel dan penuh pamrih oleh tetek bengek sebagaimana orang dewasa.

Bayi itu masih alam, belum budaya. Mengidul fitri, kembali mengalam. Tidak lantas berarti “undur-budaya”, melainkan menanggalkan — minimal pada level kesadaran dan sikap — setiap anasir budaya yang tidak relevan atau terutama yang destruktif terhadap kemurnian alam.

Idul Fitri itu retrospeksi total. Kalau bayi tertawa, nature-nya, keasliannya yang tertawa, sehingga seakan-akan Tuhan itu sendiri yang tertawa. Sebab, siapa lagi, selain Dia, yang asli sejati dalam arti yang sebenar-benarnya?

Kalau ia menangis, yang menangis bukan naluri untung ruginya, bukan kemabukan hayawani seperti bila orang dewasa berdagang, berpolitik, dan berkarier.

Tangis bayi adalah ekspresi batas alam dan budaya, di mana dimensi keindahan, kebaikan, dan kebenaran masih menyatu, total dan masih bisa “dijamin”. Tangis bayi itu haq (kebenaran) Allah, sekaligus hubb (cinta)-Nya yang baik dan indah. Tangis bayi itu suci. Tanpa pamrih.

Mungkin juga bayi menangis karena awal rasa sakit dan penderitaan: salah satu “tema” gagasan penciptaan atas makhluk. Namun, tangis bayi masih berupa “derita alam”, yang merupakan bagian dari keindahan orkestrasi nilai ciptaan Tuhan. Bukan tangis oleh stres, oleh kesengsaraan artifisial sebagaimana kelak terjadi pada kehidupan orang-orang dewasa — sesuatu yang sebenarnya bisa tak perlu terjadi.

Tangis bayi itu total, utuh, karena antara Khalik dengan makhluk belum dijaraki oleh kebudayaan atau rekayasa manusia (iradatunnas). Padanya masih bersatu tiga unsur: asal usul alam (amrullah), sebab alam (iradatullah), dan disiplin untuk kembali kepada-Nya (ilaihi roji’un) — yang pada orang dewasa, pada realitas sosial, kebudayaan, dan peradaban: unsur ketiga itu ditempuh melalui sejumlah jarak, yakni hisab atau perhitungan dosa dan pahala, rugi dan untung, perohanian, neraka, dan surga.

Manajemen Lima Sifat Allah

Kalau kita ngomong tentang bayi, pasti teringat Ibu. Dan, untuk menemukan rujukan-rujukan orisinil tentang bayi dan kefitrian, ada kemungkinan kita lantas ingat juga “Ibu Qur`an” (Ummul Qur`an), yakni Al-Fatihah, sebagaimana kita temukan hikmah as-shirath al-mustaqim dan an’amta ‘alaihim di atas.

Kemudian kalau di gua garba Ibu Qur`an itu kita bertapa rohani dan bertepekur intelektual, tampaklah anasir-anasir inti sang Ibu. Apa gerangan? Ialah cikal bakal ajaran cinta, kasih sayang, kepengasuhan, dan pengelolaan, yakni rahman (pencinta, pengasih), rahim (penyayang), rab (pengasuh), dan malik (maharaja).

Maka, bagi setiap dan semua manusia, Idul Fitri bermakna memosisikan dirinya kembali pada titik paling sehat di tengah mizan (perimbangan) manajemen empat sifat Allah yang terkandung dalam Ummul Qur`an, sebagai nukleus dari ragam dan kesempurnaan asma-Nya.

Ini berlaku baik dalam kedudukan manusia sebagai bagian dari hamparan al’alamin (alam semesta, universalitas) maupun sebagai titik-titik relatif di tengah realitas sosial (komunitas, negara, kebudayaan, peradaban).

Manusia tidak dapat mengambil hanya salah satu dari al-asmaul al-a’dham — nama-nama teragung — itu. Seseorang, sebagai produk inisiatif ciptaan Allah (iradatullah), tidak relevan untuk hanya mentransfer — umpamanya — sifat maharaja-Nya belaka, tanpa persenyawaan dengan sifat cinta, kasih sayang, dan kepenyantunan serta pengasuhan-Nya.

Segala macam praktik otoritarianisme, ketidakadilan, pengisapan manusia atas manusia, tak lain merupakan akibat dari pengambilan secara parsial atas sifat Allah yang terjelmakan pada diri manusia. Gejala yang sama juga terjadi tatkala kelengkapan acuan dalam Qur`an diambil hanya berdasarkan dan untuk melegitimasikan subjektivitas kepentingan, pamrih kelompok, atau egosentrisme. Itulah sumber permasalahan kenapa agama sering disalahpahamkan, dimanifestasikan secara pincang atau manipulatif.

Mari kita pakai kiasan bersahaja lagi: ibaratkan buah mangga. “Daging” isinya adalah rahman, cinta individual. Rasa manisnya adalah rahim, kasih sayang universal. Kulitnya adalah rabb, pengasuh yang menyantuni dan melindungi. Kerekatan antara isi dengan kulit mangga adalah malik, otoritas yang dipelihara. Apa biji yang terletak di pusat buah mangga itu? Ia lebih tersembunyi, pahit rasanya, tapi dialah yang menyangga mandat regenerasi, pertumbuhan, kelestarian, dan pengabdian.

Ketika Allah memaparkan skema pokok asma-Nya di berbagai surah Qur`an, nama rahman dan rahim selalu didahului oleh ‘alimul ghaib: (Khalik) yang mengetahui segala yang tak terketahui (oleh segala makhluk).

Bertumbuh dan memuaikan pengetahuan kita tentang kandungan sifat itu? Tentulah substansi ‘alimul ghaib itu ilmu pengetahuan, sebagaimana kesengajaan Allah sendiri untuk menuturkan iqra’ — bacalah! — sebagai kata firman yang pertama. Sebab, Dia Maha Mengetahui, Dia mencintai kita, menyayangi kita, dan mengasuh kita. Ilmu pengetahuan adalah sumber atau sebab alami dan sekaligus perangkat pokok dari cinta dan kesantunan. Maka, padanya pulalah mata air dan muara (makrifah) perimbangan pengelolaan cinta, kasih sayang, kepengasuhan, dan otoritas.

Bayangkanlah orang mencintai dan menyayangi tanpa ilmu: dekat dengan kemungkinan keterjerumusan. Bayangkanlah orang-orang mengasuh tanpa ilmu: destruksi sangat mungkin terjadi. Bayangkanlah orang menyantuni tanpa ilmu: kemanjaan hasilnya. Dan, bayangkanlah orang berkuasa tanpa ilmu, apalagi tanpa cinta, kasih sayang, dan kesadaran kepengasuhan dan kesantunan: Fir’aunisme yang dibangunnya.

Allah juga menyebut diri-Nya tidak sekadar ‘Alim, tapi juga ‘Alimul Ghaib. Bukan sekadar Maha Mengetahui, tetapi juga Maha Mengetahui Segala Yang Gaib. Gaib itu simbol dari ketakterhinggaan. Cerminan dari kenyataan relativitas dan keterbatasan ilmu yang dipinjamkan-Nya kepada manusia. Jadi, jabaran keilmuwan kata gaib ialah keterbatasan terhadap ketakterhinggaan. Efek moralnya bagi manusia, tentunya adalah kerendah-hatian. Tawaduk. Yang diasah terus-menerus dengan tradisi sujud.

Bayangkanlah perilaku manusia yang tanpa kerendah-hatian. Bayangkanlah ideologi, teknokrasi kehidupan masyarakat dan negara, institusi ilmu, partai politik, kritik sosial, atau langkah-langkah adab-budaya masyarakat manusia yang tidak berhikmah dari kerendah-hatian. Produknya mungkin keterjebakan berabad-abad, bumerang peradaban yang terlalu mahal ongkosnya, artifisialisasi kebudayaan, perang, stres, mabuk, dan bunuh diri.

Oleh karena itu, puasa adalah media autokritik bagi manusia, komunitas, kebudayaan, dan peradaban. Juga, peluang untuk proses pengambilan jarak dari diri sendiri — baik “diri personal” maupun “diri sosial”, diri dalam arti “masing- masing” maupun “bersama”, diri pada segala konteks dan skala. Kemudian, mengevaluasinya dan melahirkan pembaruan yang memungkinkan kondisi Idul Fitri bisa diperoleh.

Lainnya