Wisdom of Maiyah (85)

Ibu, Sekolah, dan Maiyah

Sekolah itu muasalnya skhole. Sekadar aktivitas pengisi spare time, leisure, waktu luang. Maka jangan heran jika dari seorang Cak Nun senantiasa muncul etos ‘menggugat’. Sekolah kok untuk hidup! Hidup kok harus sekolah!

Bahkan semenjak dini Cak Nun kecil yang ‘alergi’ sekolah, pemuda Cak Nun yang ‘mogol’ sekolah, hingga sepuhnya Mbah Nun yang malah bikin aneka jenis sekolah, energi itu mungkin tak pernah redup. Dan nampaknya, sulit menemukan contoh dan suri tauladan yang bisa saya jadikan patokan tentang sekolah dari pribadi Cak Nun.

Bahkan ketika saya kenal Maiyah, ini juga semacam forum ‘di luar’ pagar sekolah. Baik secara denotatif maupun konotatif. Padahal, pesan Ibu saya yang seumur hidup beliau tak pernah mencicipi bangku sekolah sangat jelas. Kamu harus sekolah!

Ini paradoks. Namun anehnya, Maiyah menginspirasi saya menemukan formula optimalisasi energi keduanya. Karena di sekolah hanya diajarkan menghapal jenis, sumber, dan hukum kekekalannya. Energi sekolah untuk membahagiakan ibumu! Yang dari sana, saya rela mengikuti UMPTN sampai 3 kali untuk bisa sekolah di PTN. Itu pun baru pada tahun ke-3 dan pilihan ke-3 akhirnya saya diterima di jurusan Antropologi UGM.

Orang sering keliru dengan astrologi, astronomi, dan arkeologi. Semacam ilmu klenik yang tak diminati pasar kerja dan dunia industri. Karena mungkin bukan itu yang saya cari. Dari level SD hingga PhD. Saya malah kecanduan sekolah. Dari Wonosobo sampai Tokyo, Amerika menuju Eropa, Indiana hingga Belanda, Sydney balik Helsinki, Niigata ke Abuja, Incheon lanjut London, Berlin loncat ke Paris, Shanghai mampir Nairobi, Roma puter Ankara, semua ternyata terlewati karena memori kosakata itu. Memori ‘dipuasani’ oleh Ibu saya. Memori waktu luang ibu yang selalu ada untuk anaknya.

Dan dalam khazanah keislaman dan keindonesian yang Maiyah mentadaburi harmoni di antara keduanya, spektrum Ibu dan sekolah itu sebegitu luasnya. Sehingga sekolahmu, yang juga adalah leisure-mu, seharusnya mampu membuatmu mampu membangun tiga hal. Memiliki jarak pandang yang lebih presisi untuk melihat dan memperlakukan Indonesia sebagai ibu pertiwi. Meng-kata kerja-kan Islammu sebagaimana ajaran Nabimu yang Ummi. Dan menjadikan ibu sebagai parameter utama untuk semua peran sosialmu.

Lainnya