Hidup Penuh Penyesuaian Diri

Tahun sudah berganti, sementara situasi pandemik Covid-19 ini belum juga reda. Kita masih harus bersabar untuk tidak bisa Maiyahan seperti sedia kala. Teman-teman di Kenduri Cinta memilih untuk menjadikan forum Reboan sebagai ajang silaturahmi untuk bertatap muka, setidaknya sesama penggiat Kenduri Cinta memiliki momen seminggu sekali untuk bertemu, beranjangsana, saling bertukar kabar, namun tetap diisi diskusi menarik yang dipantik.

Menertawakan kehidupan adalah salah satu kelihaian teman-teman Jamaah Maiyah. Melihat fenomena kehidupan yang sedemikian rupa dinamisnya, peristiwa demi peristiwa silih berganti menghiasi. Dan manusia hidup dengan masalahnya sendiri-sendiri.

Cukup kita melihat fenomena peristiwa yang terjadi di Negeri kita yang tercinta ini. Dalam medio beberapa bulan terakhir saja ada banyak peristiwa yang tidak hanya membuat kita mengernyitkan dahi, menggeleng-gelengkan kepala, bahkan sampai pada tahap tidak bisa berkomentar apa-apa yang pada akhirnya yaaa kita tertawakan saja.

Pada Reboan minggu ini (6/1), diskusi yang digelar teman-teman penggiat Kenduri Cinta sangat menarik. Membincangkan teknologi, hingga soal vaksin Covid-19. Ada sebuah opini yang menarik dari salah satu penggiat Kenduri Cinta, Toni. Bahwa selama masa pandemi Covid-19 ini bisnis provider internet mengalami peningkatan keuntungan yang sangat drastis. Hampir semua segmen saat ini membutuhkan jaringan internet. Mulai dari anak-anak yang harus belajar secara daring sampai para orang tua yang juga harus WFH, memanfaatkan jaringan internet demi kelancaran pekerjaan.

Ada sebuah pertanyaan menarik; jangan-jangan, virus Corona ini dimanfaatkan kehadirannya untuk mempercepat perkembangan teknologi internet? Eitts, jangan curiga dulu. Ini hanya opini. Bukankah kita semua bebas beropini? Ada juga pertanyaan yang lain muncul; Jangan-jangan, industri farmasi juga memanfaatkan Virus Corona ini untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Kebutuhan logistik medis dalam 9 bulan terakhir tentu sangat banyak. Dan sangat banyak hal yang menjadi pertanyaan kita semua. Toh pada akhirnya, yang terpenting adalah kita bersyukur bahwa hingga detik ini kita masih bisa survive.

Berbicara mengenai daya tahan hidup, setiap manusia memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup. Ada banyak pilihan, di antaranya adalah mengikuti arus zaman dengan menjalani aturan main di zaman yang konon disebut zaman edan ini atau berani mengambil keputusan untuk memilih jalan yang anti mainstream.

Diskusi di Reboan sampai pada sebuah temuan fakta bahwa mayoritas orang kaya di dunia ini justru bukan orang Islam. Pada tahap ini pasti muncul pertanyaan, kenapa mereka yang masuk dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia justru lebih banyak bukan dari kalangan Islam? Apakah memang benar Islam dikondisikan oleh segelintir pihak untuk tidak merasakan kembali kejayaannya?

Semakin malam, diskusi semakin menarik, dalam hati saya justru muncul sebuah pandangan, bahwa jangan-jangan memang dinamika kehidupan seperti ini yang dikehendaki oleh Allah? Sementara kita sebagai manusia sibuk untuk mempertanyakan apakah kenyataan hidup yang kita alami ini benar-benar fakta keadilan hidup yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita?

Saya kemudian membayangkan bahwa memang alur kehidupan alam semesta yang seperti sekarang ini yang dikehendaki oleh Allah. Kita sebagai manusia, sebagaimana Mbah Nun menjelaskan bahwa kita adalah makhluk kemungkinan, memiliki pilihan untuk memilih mengikuti arus atau memilih menjadi semut Ibrahim yang sebenarnya sadar bahwa setetes air yang ia bawa tidak akan mampu memadamkan api yang membakar Ibrahim, namun satu keyakinan yang diyakini oleh seekor semut itu adalah bahwa ia telah memantapkan pilihannya untuk berada di pihak Ibrahim bukan pihak Namrud.

Dalam salah satu seri tulisan KEBON, Mbah Nun menegaskan; “bahwa hidup di hadapan Allah yang utama bukanlah kehebatan, melainkan kebersahajaan. Bukan kecanggihan, melainkan kemurnian. Bukan prestasi, tapi keikhlasan. Bukan kekuasaan dan kegagahan, melainkan kepatuhan dan kerendahan hati”.

Sebagai makhluk kemungkinan, manusia sebenarnya sangat beruntung dengan adanya sebuah tool yang bernama hidayah. Bahkan, setiap membaca surat Al-Fatihah, kita selalu meminta kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Lho, bukankah Islam kita yakini sebagai jalan yang lurus? Tetapi kenapa Allah masih menyuruh kita untuk berdoa demikian?

Pada konsep hidayah, saya memiliki rumusan bahwa hidayah Allah itu selalu hadir. Persoalannya adalah kepekaan yang kita miliki apakah cukup mumpuni untuk mengakses hidayah tersebut?

Dan akhirnya, kita hidup dipenuhi dengan penyesuaian-penyesuaian diri. Dalam seri tulisan KEBON tadi, Mbah Nun mengibaratkan bahwa manusia memang dikondisikan untuk hidup dalam kamar-kamar. Kita bebas menentukan untuk masuk ke kamar yang mana saja. Kamar-kamar berupa segmen, ideologi, partai, organisasi, aliran, golongan. Kapanpun saja kita bebas memasuki kamar yang mana saja. Kecuali kita gagal menyesuaikan diri, dan kemudian kita terjebak dalam satu identitas kamar yang kemudian mempersempit jarak pandang kita terhadap kehidupan.

Ilmu keseimbangan yang diajarkan oleh Mbah Nun di Maiyah begitu sangat berharga dan benar-benar terasa manfaatnya ketika menghadapi dinamika kehidupan yang terjadi hari-hari ini. 

Lainnya