Hati Bagi (Diri) Manusia

Photo by Luis Dalvan from Pexels

Beberapa hari saya tidak mendengar kabar dari bocah (baca: guru saya) yang sedang berjuang melawan sakitnya. Bocah yang memberi sebuah kitab kecil Al-Ma’tsurat yang diberikan kepada saya dengan diberi surat kecil yang diselipkan di dalam kitab itu. Terakhir kontak dengan ibunya, Bu Lely, ketika saya sedang menguji residen. Beliau telepon tetapi saya tidak bisa mengangkatnya. Sesudah selesai, saya beri kabar via WA, “Maaf bu, saya tadi sedang menguji.”

WA tak terespons.

Hari berikutnya, karena feeling saya kok kurang enak, saya mencoba mencari kabar via teman Bu Lely yang saya kenal.

“Selamat siang bu, sudah ada kabar dari Solo?,” sapa saya melalui chat.

“Siang dok, belum ada kabar. Terus terang saya kepikiran,” balas teman Bu Lely.

Pada saat yang hampir bersamaan saya mendapat notifikasi juga dari Bu Lely. Sebuah foto dengan segenap tulisan permohonan maaf dan memohon membaca Al-Fatehah.

“Assalamu’alaikum dokter Eddot, terima kasih sudah merawat ananda Restu selama ini. Mohon maaf selama pengobatan banyak salah dan khilaf dari kami. Mohon dimaafkan njeh Dok” dengan emoticon air mata yang berlinang.

Saya jawab, “Wa ’alaikum salam Ibu, maafkan saya yang banyak salah kepada Restu dan Ibu. Kemampuan kami sebagai manusia tidak bisa menguak rahasia sakit dan sehat dari Allah. (Sekali lagi) Maafkan kami tidak bisa menjangkau rahasia sakit dari Allah. Insya Allah Restu tersenyum bahagia di sana.”

Rasa mencekat di tenggorokan, saya terdiam. Teringat bagaimana santunnya Restu kalau mengirim voice note ke saya. Apapun topiknya, dari menanyakan kabar saya sampai menagih saya kapan saya mau menjenguknya (karena bukan pas jadwal saya visit).

Sontak saya teringat harus mengabari teman Bu Lely yang kepadanya saya mengulik informasi kabar dari Solo. “Bu, Restu sudah berpulang kemaren sore….”

Teman Bu Lely menjawab, “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.

“Dokter bohong…!”

“Kenapa bunda (Restu) enggak ngabari saya Dok?”

“Dokter tahu dari mana?”

Emoticon nangis banyak banget….”

Kematian adalah ketetapan sekaligus rahasia Allah. Manusialah yang harus menjaga kehidupan itu. Mengisinya dengan hal yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Tidak jahat kepada sesama, tidak menyakiti, dan tidak berkhianat.

Saya juga masih termenung dan membicarakan kepergian Restu dengan teman-teman sekantor. Tentang bagaimana penyakitnya ditilik dari aspek medis. Termasuk refleksi kekurangan-kekurangan yang ada pada kita.

Dalam hal penyakit yang diderita guru saya Restu, masih banyak kekurangan kita. Mulai dari segi diagnostik yang meliputi alat serta sarana lain. Kelengkapan yang mestinya sesuai dengan standar diagnostik yang sudah ditetapkan. Terus terang kita belum memenuhi standar diagnostik yang ditetapkan oleh badan kesehatan dunia (WHO). Bahkan separuh standar pun belum! Dan ini terjadi di seluruh wilayah negara kita. Padahal dari titik awal ini (diagnostik) akan ditentukan stratifikasi dari penyakit. Stratifikasi ini akan menentukan macam obat yang diberikan. Dengan catatan: ketersediaan obat juga harus ada dan dijaga kesinambungannya. Pemantauan kondisi penyakit juga sangat penting.

Dalam sebuah diskusi saya dengan Cak Nun dalam acara bertajuk ‘Pasinaon Piwulang Luhur’ saya mendapat banyak poin penting yang bisa saya implementasikan di dalam perawatan pasien.

Cak Nun berkata, “Sebagai nakes, (bidan, perawat, dokter), mindset dan mainsetnya adalah sebagai manusia”. Lalu saya bertanya, “Lha esensi manusia itu apa Cak? Otak atau hatinya? Kenapa Nabi Muhammad Saw dulu dibedah dadanya? Bukan kepalanya?,” kejar saya.

Cak Nun menjawab, “Manusia adalah hatinya, bukan akalnya. Esensi manusia ada di situ. Makanya Allah bilang yang sakit itu hatinya. Fi quluubihim marodlun. Qalbu (jamak: quluub), bukan otaknya/pikirannya”.

Rasulullah Saw bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka, sebelum proses kenabiannya, Nabi Muhammad dibedah dadanya, diambil jantung hatinya, (dibersihkan oleh-Nya), sehingga, akan baik seluruh tubuh.

Sudahkah saya mengikuti kata hati? Sudah bersihkah hati saya? Astaghfirullahal ‘adhim.

Ya Allah semoga selalu Engkau tuntun jalanku.

Yogyakarta, 20 September 2021.

Lainnya