Membaca Surat dari Tuhan (35)

Hari-Hari Mergangsan Satu

“Siapa yang wajilat hari ini?,” tanya Cak Dil.

Maksud dia, siapa yang hatinya bergetar melihat cewek-cewek segar tadi lewat. Tentu tidak ada yang mengaku walau di dalam hati banyak yang bergetar. Termasuk saya. Getaran aneh itu sering mengganggu tidur. Dan dengan menyembunyikan getaran hati di muka temam-teman ini kami menjadi tidak kehilangan muka kalau tiba-tiba kami tidak berhasil mendekati siswa SMA itu. Bahkan karena rasa malu atau minder kami tidak ketulungn, terhadap sesama aktivis sastra di Insani yang perempuan kami dingin-dingin saja. Padahal ada beberapa dari mereka pantas untuk dijadikan pacar penyair. Sebenarnya. Mungkin kami masih mewarisi tradisi Persada Studi Klub yang menyetel kesadaran bahwa ketika bertemu kami semua adalah sesama manusia yang belajar menulis puisi, bukan sebagai laki-laki dan wanita. Bukan sebagai yang jantan dan yang betina. Mungkin begitu.

Yang jelas kantor harian Masa Kini di Jalan Sultan Agung ini produktif bagi kami. Kami sering bertemu, mengadakan pertemuan dengan meminjam tempat di rumah Cah Insani, termasuk di rumah Mas Dalhar Shodiq di Kauman Pakualaman, di rumah Mbak Ning Yuwono di Dukuh Bantul, di tempat kosnya Cak Dil di Kadipaten Lor, di rumah Bambang Isti Nugroho di Timuran, di rumah Jauzi di Wirobrajan, atau di kantor Harian Masa Kini. Bahkan kami merancang terbitnya buku kumpulan puisi walau dengan distensil. Saya pun makin mantap bekerja sebagai wartawan. Sebab menjadi wartawan, di koran kecil waktu itu, ada harapan untuk memegang uang setiap hari. Logikanya begini. Kalau kemarin saya berhasil menulis dua atau tiga berita dan dimuat, muncul di koran hari ini, maka jam sembilan pagi saya bisa mengambil honor berita di kasir, di tempat Mbak Mung atau istrinya Mas Parno. Honor satu berita lumayan, bisa untuk makan di warung 125 dua kali. Apalagi kalau hari itu ada tulisan lain juga dimuat. Dan saya pernah bekerja keras pontang-panting dari pagi sampai sore, menghasilkan lima berita. Habis mengetik lima berita yang berbeda temanya, saya kelelahan, hampir pingsan. Tapi puas. Sebab besoknya saya hampir dipastikan bisa mengambil honor lima berita itu. Apalagi waktu itu saya kemudian diangkat menjadi karyawan tetap sehingga biaya menyewa kamar kos di Mergangsan aman, dan sedikit-sedikit bisa menabung. Saya kemudian pindah ke kamar yang lebih besar di dekat sumur. Waktu itu teman mahasiswa dan lainnya sudah pindah kos. Dan rumah induk ditempati tuan rumah. Rumah kecil dia disewa oleh pegawai hotel bersama keluarga.

Ayah suatu hari muncul di kamar kos Mergangsan. Dia memberi saya hadiah sajadah berwarna hijau. Sajadah indah yang sering dipakai oleh para ulama dengan diselempangkan di pundak.

“Krasan indekos neng kene, Mus?,” tanya Ayah.

“Krasan, Pak,” jawabku mantap.

Jawaban mantap saya ini merupakan jawaban bersejarah. Sejak itu, saya ngekos di Mergangsan sampai lima tahun.

Yogyakarta, 16 September 2021

Lainnya