Membaca Surat dari Tuhan (35)

Hari-Hari Mergangsan Satu

Latihan tidur di luar rumah juga saya lakukan waktu organisasi pelajar Muhammadiyah Kotagede mengadakan Expo. Pameran karya seni dan barang kerajinan dan makanan awet di sebuah rumah besar di barat Pasar Kotagede. Berhari-hari panitia menyiapkan pameran ini, dan berhari-hari kami menjaga pameran. Kami tidur di tempat pameran walau ada bagian dari rumah kuno ini katanya angker. Biasanya sehabis Subuh kami pulang untuk bersiap-siap sekolah. Dan di malam liburan, malam Jum’at beberapa anggota panitia mengajak iseng jalan-jalan untuk mengamati keadaan sebuah makam kuno di timur Kotagede yang ramai diziarahi orang. Makam tokoh terkenal yang menampung istri Ki Ageng Mangir ini tiap malam Jum’at ramai. Kami bergaya melakukan penelitian lapangan. Kami menyusup ke dalam makam, meneliti ruang-ruang terbuka dan setengah tertutup di dalam makam. Termasuk di depan makam tokoh berpengaruh itu. Kami menemukan hal-hal yang mendebarkan, lucu, sedikit menakutkan dan hawa mengandung godaan maksiat di sela-sela nisan hitam dan gelap itu. Di dalam makam tidak ada lampu penerangan, mungkin sekarang sudah berbeda. Nah, waktu kami pulang saling berbagi pengalaman yang lucu dan mendebarkan itu. Kami jajan lontong sayur di utara pasar lalu kembali ke markas panitia. Karena paginya libur, kami boleh tidur lumayan puas. Pengamatan mendalam semacam ini di kemudian hari saya kembangkan bersama teman-teman di Kuntum sebagai model investigasi lapangan, untuk mengumpulkan bahan pembuatan laporan yang asyik.

Tentu pengalaman tidur di luar rumah terlama adalah ketika saya merantau ke Jakarta itu. Dengan demikian ketika harus tidur di kamar kos di Mergangsan saya sudah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan baru ini. Kadang kalau hari libur kantor pagi, hari Ahad misalnya, saat tidak ada kegiatan sastra atau apa di pagi hari, saya sengaja bemalasan-malasan di kamar. Menatap langit-langit yang tampak berongga di antara genteng, atau menatap tembok tempat saya memasang paku untuk mencantolkan tas, baju, atau barang lain. Juga saya perhatikan buku di rak yang terpasang di dinding, buku-buku makin lama makin beetambah banyak. Saya beli satu persatu di Shopping Center atau di toko buku UPI depan Beringharjo, atau di toko buku Hien Hoo Sing selatan Perpustakaan Negara. Waktu itu saya memang memilih buku nonfiksi untuk dibeli, sebab buku fiksi dapat saya pinjam dari koleksi Darwis Khudori, Mas Warno, atau tempat lain. Kalau buku nonfiksi yang menjadi bahan penulisan fiksi saya perjuangkan untuk saya beli karena buku semacam ini cukup laris. Kalau terlambat membeli bisa kehabisan. Bahkan saya membeli buku karya Schumacher Kecil itu Indah sampai tiga kali. Sebab setiap kali membeli buku ini dipinjam orang tidak kembali, beli lagi dipinjam lagi. Bahkan buku yang saya beli untuk ketiga kalinya juga ada yang mau pinjam. Saya membolehkan asal dengan barter, setelah dia membawa buku saya, saya pun ikut dia ke tempat kos dia dan meminjam buku dia yang lumayan tebal dan bagus, buku itu semacam saya sandera. Dan ketika buku Kecil itu Indah tidak kembali saya tidak kecewa banget, saya sudah mendapat gantinya.

Pemilik kos di Mergangsan Kidul ini punya dua rumah. Satu rumah dari dinding bambu dia buat di kebun dan dia tempati sendiri bersama keluarga. Rumah dinding bata dengan empat kamar kami tempati. Saya berada di sudut kamar timur laut lalu kamar yang lain ada yang ditempati mahasiswa IKIP Karangmalang dan ada yang ditempati teman dari Pacitan. Dia bekerja di sebuah tempat kursus mengetik dan administrasi yang kantornya di dekat THR. Satu kamar lagi saya lupa ditempati siapa. Kami kompak. Kalau hari Ahad tidak ada kegiatan, kami berbelanja di tempat penjualan sayur di bekas rel kereta api yang memanjang antara Pojok Beteng timur ke timur terus sampai melewati jembatan Kali Code, di simpang empat Lowanu terus ke timur bablas melewati jembatan besi Kali Gajah Uwong sampai ke Kotagede. Ini bekas rel kereta api jurusan kota Yogyakarta-Pleret lewat Stasiun Tinalan Kotagede. Stasiun ini telah berubah menjadi kompleks sebuah sekolah menengah negeri. SMN 9 Kotagede. Di bekas rel kereta api di simpang empat Lowanu ada penjual sayur yang berjualan pagi hari. Kami membeli kubis, slederi, tomat, telur, garam, lombok dan bumbu. Kami juga membeli tiga bungkus Supermi. Yang kami perlukan adalah mienya yang gurih. Kami campur dengan sayur dan bumbu. Kami memasak di penggorengan besar. Untuk nasi, kami masak di ketel alumunium. Nah, sampai di rumah kos kami bekerja keras untuk menghasilkan makan pagi bergizi. Nasi putih panas dengan lauk sayur dicampur mie dari Supermi tadi, dicampuri telur. Kami makan pagi sambil ngobrol dan ketawa-ketawa. Sisa nasi dan sayur disimpan untuk makan siang.

Akan tetapi siang itu saya tidak makan di rumah. Saya makan di warung 125 di depan kantor koran di Jl. Sultan Agung. Mengapa disebut warung 125 karena apapun yang kta makan asal paket nasi sayur gorengan, minuman harganya selalu sama Rp125,-. Waktu itu lembar Insani makin ramai, kadang di Hari Ahad kami mengadakan pertemuan. Kalau dalam minggu itu tidak ada pertemuan, banyak teman berkumpul di hari Rabu menemani saya menggarap lembar Insani. Cak Dil waktu itu selain aktif di Kuntum juga membantu Harian Masa Kini. Teman lain sering muncul dan nimbrung di kantor. Ngobrol jajan di warung itu. Kadang kalau beruntung kami mendapat kesempatan untuk menikmati pemandangan yang indah. Anak-anak perempuan siswa sebuah SMA Swasta lewat di depan kantor dan kami mengamati sampai hilang dari pandangan. Lucunya, gerombolan anak Insani ini penakut. Hanya omongannya yang besar. Melihat rombongan anak-anak perempuan siswa SMA semua diam, hanya bengong mengamati mereka, tanpa ada satu pun yang berani menyapa atau sekadar bersuit-suit untuk menarik perhatian mereka. Kami memang memilih tempat duduk yang bisa membuat kami bebas menikmati pemandangan di jalan raya. Dan kami selalu kehilangan momentum untuk sekadar berkenalan dengan anak SMA itu. Baru setelah mereka lewat kami gaduh memamerkan keahlian memuji mereka yang lewat.

Lainnya