Membaca Surat dari Tuhan (35)

Hari-Hari Mergangsan Satu

Foto: Adin (Dok. Progress; 2019)

Safir, tajid ‘iwadlon ‘amman tufariquhu, merantaulah engkau akan mendapatkan ganti (masa depan) atas apa yang engkau tinggalkan (masa silam). Saya merasa harus memberi makna baru atas bunyi mahfudlat yang saya hafal waktu di bangku sekolah. Konteks menjadi berubah. Sehabis beberapa saat istirahat di Kotagede untuk mengontrol kesehatan dengan pergi ke dokter selama beberapa bulan, saya suatu hari mendapat surat panggilan dari kantor Harian Masa Kini. Darimana harian ini tahu kalau saya pulang kampung? Mungkin Mas Soeparno S Adhy mendapat info dari seorang teman. Mas Parno sendiri pernah merantau ke Sumatera Selatan lalu pulang ke Yogyakarta dan bekerja di Harian Masa Kini, kemudian pindah bekerja di Harian Kedaulatan Rakyat sampai tua. Salah satu pendiri Persada Studi Klub ini adalah yang mengusulkan agar saya direkrut untuk bekerja di Harian Masa Kini karena waktu saya merantau di Jakarta saya sudah secara rutin mengirim beita ke koran ini.

Awalnya saya datang ke kantor Harian Masa Kini di kantor pagi Jl. Mayor Suryotomo naik andong, demikian juga pulangnya. Tempat mangkal andong di barat kantor. Saya masih punya uang tabungan banyak, jadi untuk membiayai ongkos transportasi naik andong pergi dan pulang masih mampu. Saya belum perhitungan banget dengan honor atau gaji. Yang penting ada. walau sedikit. Dan tugas saya sebagai alumni Balai Pendidikan Wartawan Jakarta terasa sangat ringan. Yaitu mengedit dan meringkas berita. Pelajaran pertama yang saya terima di balai pendidikan itu.

Karena diangggap bisa bekerja sebagai penyunting berita rilis saya kemudian diuji praktik mencari berita ekonomi. Memantau harga kebutuhan pokok di pasar. Saya sering diprotes oleh para pedagang ketika harga sembako di pasar sering lebih tinggi dibanding yang dimuat di koran dengan bahan berita hasil pemantauan dari sebuah kantor resmi. “Mas, beli saja barang-barang kebutuhan pokok ini di koran. Jangan di pasar, sebab kami pedagang di pasar harus menyesuaikan diri dengan naik turunnya harga barang dagangan,” kata salah seorang pedagang di sebuah pasar.

“Lantas yang menaikturunkan harga barang kebutuhan ini sebenarnya siapa nggih Bu?,” tanya saya menyelidik.

“Ya, nggak tahu.”

“Tahu-tahu harga barang naik atau turun?.”

“Ya, tahu-tahu harga barang naik. Naik lagi, lalu kadang harga barang turun.”

“Naik dan turun begitu saja Bu?”

“Ya.”

Berpuluh tahun kemudian ketika saya terus menjadi wartawan dan setiap ada gejolak pasar puluhan pedagang pasar selalu menjawab tidak tahu tentang siapa yang mengendalikan harga barang-barang di pasar. Kalau harga BBM jelas, naik dan jarang atau tidak pernah turunnya harga BBM ditentukan oleh Pemerintah dengan alasan tertentu yang kurang difahami masyarakat. Hasil minyak kita melimpah, kita negara eksportir minyak bumi, tetapi kenapa harga BBM cenderung naik? Siapa yang diuntungkan? Demkian juga setiap ada kenaikan harga kebutuhan pokok para pedagang selalu menjawab tidak tahu siapa pengendali harganya. Oleh karena itu suatu hari saya bertanya kepada seorang ekonom. Dia malah menegur saya, ”Pertanyaanmu salah Dik, seharusnya Sampeyan bertanya siapa yang selalu selalu diuntungkan dengan naiknya harga-harga ini.”

“Ya, siapa nggih yang selalu diuntungkan dengan kenaikan haga di pasar-pasar Indonesia?,” tanya saya.

Ekonom itu malah tertawa.

“Masak tidak tahu?” dia malah balik bertanya, “Wartawan yang cerdas seharusnya tahu.”

“Orang-orang yang tengah menghimpun dana untuk memenangkan Pemilu bagi dirinya nggih?.”

“Nah ini Sampeyan mulai cerdas. Tapi masalahnya, kenapa Sampeyan berkesimpulan seperti ini?.”

“Sebab setiap dua tahun atau setahun menjelang Pemilu selalu muncul gejala anomali harga. Bahkan muncul peristiwa yang aneh-aneh di negeri ini karena ada yang melakukan kapitalisasi keadaan atau bahkan investasi isyu,” jawab saja bersemangat.

“Tulis saja semua itu, kalau berani,” tutur ekonom itu sambil terkekeh.

“Saya sih berani menuliskannya. Tetap apa koran tempat saya bekerja berani memuatnya?.”

“Nah, tahu sendiri kan. Menjadi wartawan itu tidak bisa semaunya. Kerjanya dibatasi.”

“Bertanggung jawab untuk ikut menjaga stabilitas nasional?,” tanyaku masgul.

“Ya, tentu saja. Sebab tanpa stabilitas nasional kita tidak bisa melakukan pembangunan.”

“Pembangunan ini sebenarnya untuk kepentingan siapa nggih? Sebagai ekonom Bapak tentu lebih tahu.”

“Maaf, sebagai ekonom saya mungkin tahu banyak. Tetapi untuk zaman ini adalah tidak bijaksana mengobral pengetahuan saya. Lebih-lebih di depan wartawan yang pemberani seperti Sampeyan.”

Lainnya