Kebon (108)

Hanya Allah. Tapi Allah Tidak Hanya.

Foto: Adin (Dok. Progress).

Salah satu hymne Maiyah adalah aransemen syair dan lagu “Hasbunallah”. Banyak langgar-langgar atau surau di Jawa Timur yang memakai itu sebagai “pujian” sebelum shalat Maghrib atau Isya dan Subuh. Apa artinya, maksud, dan bagaimana mem-breakdown pemaknaannya?

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami.

Segelombang dan sudah diteguhkan dengan:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Kita ditimpa masalah dalam kehidupan di dunia. Kita perlu pertolongan. Butuh perlindungan. Dalam Islam kita sangat dianjurkan untuk selalu berukhuwah, bekerja sama, saling tolong-menolong. Jamaah Maiyah sejak awal membangun “Paseduluruan Tanpa Tepi”, mengidentifikasi kebersatuan mereka dengan “Al-Mutahabbina Fillah”. Orang-orang yang menyatu dan bersaudara semata-mata karena Allah. Yang simpul pusatnya adalah cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Tetapi ada tingkat-tingkat urusan dan masalah yang berada di luar jangkauan kerjasama dan tolong-menolong antar manusia. Dalam narasi “Hasbunallah” itu ditegaskan bahwa yang menolong adalah Allah sendiri, dan manusia yang bermasalah tidak perlu meminta pertolongan serta perlindungan kepada yang selain Allah. Tidak kepada sesama manusia. Tidak kepada teman, keluarga, suami, istri, anak-anak, sahabat, anak buah, ummat, masyarakat, kolega, santri, geng, klub, golongan, teman separtai atau ormas, kantor, institusi, atasan atau bawahan, hukum negara, hukum adat, norma sosial atau apapun. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Dan itu cukup. Cukup Allah yang menolong dan melindungi kita.

Suatu hari rumahmu dibakar orang entah oleh siapa. Karena paugeran budaya para tetangga berdatangan berkerumun berjuang ikut memadamkan api. Tapi kalau apinya abstrak, rumah yang dibakar bukan rumah fisik, melainkan mungkin martabat, harga diri, keselamatan sosial atau koordinat eksistensi dalam peta masyarakat – para tetangga itu tidak jelas. Karena perkaranya mungkin tidak kasat mata dan ada di depan penglihatan.

Saya pernah didemo oleh suatu kelompok di Makassar. Buku-buku dan gambar wajah saya dibakar. Para pendemo memaki-maki dan mengutuk saya. Koran-koran memuat peristiwa demo dan pembakaran itu. Saya ditelepon seorang wartawan untuk diwawancarai. Saya menjawab: “Bagus itu, Biar mampus itu si Emha. Nanti kapan saya akan datang ke Makassar, supaya mereka bisa membakar tubuh saya”.

Saya tahu yang mewancarai saya itu adalah salah seorang arsitek atau perekayasa demo itu. Saya langsung seperti melihat gambar pemetaan eksistensional di Makassar itu dan langsung tampak wajah-wajah utamanya di antara mereka. Saya mengerti asal-usulnya, memahami korsluiting komunikasi dan pemahamannya, yang terkait dengan batalnya KiaiKanjeng pentas di sana.

Acara demo itu melahirkan wacana “Emha dicekal di Makassar”. Dan saya juga bikin pengumuman: “Makassar saya cekal. Saya tidak akan memenuhi undangan acara apapun di Makassar. Saya akan masuk Makassar kapan hati saya ikhlas dan ada keperluan yang Allah mewajibkannya”.

Pada suatu hari saya naik pesawat Merpati Yogya-Surabaya-Makassar. Anak-anak saya Pasukan Mandar dari wilayah paha kaki kanannya Sulawesi menyongsong saya di Bandara. Ketika saya turun pesawat dan berjalan keluar gedung Bandara, anak-anak Mandar memandu saya untuk melewati pintu belakang yang bukan jalanan umum. Saya tahu mereka berpikir gerilya dan intelijen.

Saya menolak. Saya mau lewat jalan umum yang normal dan dilewati semua orang. Saya persilakan kalau ada pasukan Jin melaporkan kepada kelompok pendemo bahwa saya datang ke Makassar, tetapi saya tidak akan bersembunyi. Saya minta kendaraan teman-teman Mandar untuk membawa saya ke area demo, halaman sebuah komplek gedung-gedung. Kami masuk ke dalamnya. Saya turun dari kendaraan dan berjalan ke bagian depan gedung dekat pintu masuk. Saya duduk bersandar di dinding. Saya mengambil rokok. Menyulutnya dan menikmatinya.

Saya tidak menunggu atau menunggu siapapun akan keluar dari gedung itu. Mungkin satu dua orang yang tempo hari ikut mendemo saya. Niat saya hanya duduk dan merokok. Sesudah 30 menit lebih tidak terjadi apa-apa, saya dengan anak-anak saya Mandar pergi ngeloyor mencari Sara`bah dan Coto Makassar di dekat Pantai Losari.

Iyyaka na’budu wa iyyaKa nasta’in. “Hasbiyallah la ilaha illa Huwa ‘alaihi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Adhim.

Saya tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Dan itu lebih dari cukup. Selama hari-hari sesudah demo saya menerima SMS dan telepon dari sejumlah tokoh dan teman-teman Makassar, yang menyatakan bahwa mereka tidak tahu-menahu soal demo itu. Bahwa mereka tidak terlibat dalam demo itu. Mereka tidak ikut-ikut dalam persoalan yang melahirkan demo itu. Bahasa Jawa slang-nya: “Atu ola elu lho”.

Sejenis itu juga yang saya alami ketika peristiwa lumpur Sidoarjo, demo 1 juta orang di alun-alun utara Yogya sesudah Pak Harto saya turunkan. Juga ketika pelaku-pelaku medsos memanipulasi saya, mengeksploitasi pernyataan saya, mengedit video saya, memotong buntut ucapan saya, bikin framing yang memfitnah saya, memanfaatkan editan dari bahan saya mengadu-domba kelompok-kelompok kepentingan politik nasional. Serta berbagai macam bentuk kemudlaratan sosial dan fitnah.

Jawabannya tetap sama.

بَلَىٰٓۚ إِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ وَيَأۡتُوكُم مِّن فَوۡرِهِمۡ هَٰذَا
يُمۡدِدۡكُمۡ رَبُّكُم بِخَمۡسَةِ ءَالَٰفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ

Ya. Cukup. Jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِأَعۡدَآئِكُمۡۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَلِيّٗا وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ نَصِيرٗا

Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong bagimu.

Saya memilih bersikap minimal. Bersikap puasa sehingga tidak memimpikan makanan. Tidak berharap siapapun penduduk bumi membelamu. Tidak juga ummatmu. Jamaahmu. Keluargamu. Para perjuang di Markas Besar gerakan sejarahmu. Sahabat-sahabat dekatmu atau teman-teman jauhmu. Atau siapapun saja. Bahkan kita harus siap untuk tidak hanya tidak dibela, melainkan malah disalahkan dan dimarahi.

Tapi juga jangan salah sangka. Tidak berarti sesama manusia tidak ada yang menyayangimu.

Lainnya