Kebon (122 dari 241)

Hamengku Negeriku Pusakaku

Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Bisakah mengubah kebencian menjadi cinta? Penderitaan menjadi bahagia? Tekanan menjadi kelapangan? Ketertindihan menjadi kemerdekaan? Sebagaimana tuntunan Islam “minadh-dhulumati ilannur”? Kegelapan dihijrahkan, diolah, dikhalifahi, ditransformasi, menjadi cahaya?

Apakah kedua-dua faktor itu yang disebut Tuhan “berpasangan” atau “berjodoh”? Apakah mereka berdialektika? Menyusun harmoni, dengan cara yang terkadang justru berkebalikan?

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ
وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Bukankah kadar kebencian ditentukan kadar cinta, sebelum karena sesuatu hal cinta itu diubah oleh suatu proses menjadi kebencian? Dan kalau sebesar itu kebencian karena sebesar itu pula cinta, bisakah berproses sebaliknya: sedalam itu kebencian akhirnya terolah menjadi sedalam itu pula cinta? Sebagaimana sepekat itu kegelapan menjadikan cahaya menjadi maksimal kebenderangannya?

Mungkin itu yang sedang saya alami terhadap atau di dalam Indonesia. Begitu banyak hawa atau gelombang atau atmosfer atau desakan dan tekanan dari Indonesia yang menerbitkan kebencian di dalam jiwaku. Dari politiknya, media diskomunikasinya, budaya kekuasaannya, kelemahan intelektual kerakyatannya, kerapuhan psikologi nasionalnya, ketersesatan pilihan pengetahuannya, keterseretan ilmunya, kepalsuan demokrasinya, kepura-puraan Pancasilanya dan sangat banyak sekali sumber-sumber lain dari sejarah Indonesia yang siang malam menerbitkan rasa benci dari kandungan terdalam jiwaku.

Tapi justru tekanan-tekanan dahsyat kebencian itu yang memberi cermin di hadapanku betapa besar dan mendalam sejatinya cintaku kepada Indonesia. Dan prinsip penciptaan Allah “khalaqal azwaja kullaha”, membeberkan betapa tak terbatas kemungkinan di antara cinta dengan benci, serta di antara apapun saja yang diperpasangkan atau diperjodohkan oleh Allah dalam kehidupan manusia.

“Berpasangan” atau “berjodohan” itu bisa berdialektika linier biasa, bisa berlipat-lipat, bisa berbalik-balik secara dinamis. Bisa saling menyebabkan dan mengakibatkan. Bisa berganti-ganti hulu hilirnya. Hulu menjadi hilir, berikutnya hilir menjadi hulu yang baru, dalam suatu mekanisme dinamis dialektik yang tanpa batas. Sangkan ternyata adalah paran, paran bisa jadi adalah sangkan itu sendiri. Karena kehidupan itu bulatan atau bundaran. Inna lillahi wa inna ilaihi. Pangkalnya “Hi”, ujungnya pun “Hi”. Pantas pernyataan paling mendasar dari Maha Pencipta yang seharusnya memang menjadi landasan utama cara berpikir dan cara bersikap semua ciptaannya adalah:

رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wahai Rabb Maha Pengasuh kami, niscaya tidaklah segala yang Engkau ciptakan ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Selamatkanlah kami dari siksa neraka.

Ketidaksia-siaan segala ciptaan Allah itu hanya bisa dipahami dan dijiwai kalau manusia mendayagunakan akal pikirannya secara optimal. Dan optimalisasi tugas manusia itu oleh Allah dikonsep dengan memberi pijakan fungsi manusia sebagai Khalifah.

Kemudian kita mangalami sekarang dari kurun ke kurun, dari zaman ke zaman, dari era ke era, dari dekade ke dekade, bahwa manusia mengalami kegagalan mendasar untuk mengkhalifahi tugas dan kewajiban hidupnya. Sistem-sistem yang dibangun oleh manusia terbukti menjadi silaturahmi menjadi silatudhdhulmi. Perhubungan kasih sayang menjadi perhubungan permusuhan dan kebencian. Komunikasi malah menjadi diskomunikasi. Kefahaman membuahkan gagal paham dan salah paham. Pembangunan menjadi perusakan. Kelembutan menjadi kebrutalan. Kemuliaan menjadi kehinaan. Kebenaran menjadi egoisme. Kebaikan menjadi kekonyolan. Keindahan menjadi kekumuhan.

Ayat-ayat Allah yang benar, begitu dipegang di tangan manusia, menjadi sumber pertentangan. Firman-firman Allah yang begitu memuat kebaikan, begitu digenggam oleh manusia malah menjadi egosentrisme dan penguasaan. Narasi wahyu Allah yang begitu indah, begitu diterjemahkan oleh kebudayaan manusia, menjadi kampungan dan kekonyolan.

Kalau melihat berbagai kegagalan manusia ini, maka protes para Malaikat dan tidak bersujudnya Iblis, bukan hanya bermotivasi cemburu atau dengki. Tapi juga ada reasoning futurologisnya.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ
قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ
وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Allah menutup dan mengunci dialog itu dengan menyatakan “Inni a’lamu ma la ta’lamun”. Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui. Termasuk hal-hal tentang Indonesia hari ini: Allah mengetahui apa yang aku dan kita semua tidak ketahui. Dan pernyataan “Inni a’lamu ma la ta’lamun” itu hanya logis untuk diungkapkan oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.

Sementara aku dan kita semua berada pada posisi tidak berkuasa, bahkan tidak berdaya. Bahkan terhadap Indonesia saja pun aku tidak berdaya. Maka kurayakan puja-puji atas Negeriku Pusakaku. Pusaka tidak sekadar dalam arti “warisan nenek moyang” sebagaimana yang tertera di kamus-kamus. Lebih dari itu, pusaka adalah sesuatu yang nyata dan sangat bernilai dalam hidupku. Bernilai tidak terbatas pada jasad dan budayaku, tapi juga bagi seluruh kedalaman jiwa dan rohku.

Itu tetap kuberlakukan di dalam jiwaku meskipun seandainya bangsa Indonesia sendiri sudah tidak lagi memiliki pemahaman dan penghargaan terhadap pusaka. Indonesia Raya tetap adalah pusakaku. Bagian dari harta termahal hidupku. Tak hanya kucintai dan kunjunjung tinggi. Meskipun ia sangat menyakitiku, sangat merendahkan dan meremehkanku. Namun tetap hamengku, ku-wengku, kupeluk dan kupangku pusakaku.

Lainnya