Wisdom of Maiyah (55)

Gusti Allah Maiyahan

Di dalam Maiyah, “Roso” adalah suatu hal yang utama, kita tidak akan merasa bersama kalau kita mati rasa, maka kita akan merasakan kesendirian.

Because it’s in Maiyah kita mengutamakan roso, sehingga kepekaan, rasa, kelembutan, ayem di saat Maiyahan itu sangat kuat, dan secara tidak sadar itu sudah terbangun dengan sendirinya.

Saat kita maiyahan sampai pulang lalu beraktivitas kembali pada kesibukan masing-masing, kesadaran kepekaan itu tertanam dalam diri kita, sehingga pikiran dan hati kita selalu diusahakan agar selalu connect dengan Allah Swt.

Di dalam teori Maiyah kita shalat itu bukan mengutamakan hukum bahwa itu wajib, kita lebih mengedepankan kesadaran berpikir lalu mengendap di hati kita. “Oh iya masa kita tidak shalat, kurang apa Allah kasih rahmat kepada kita, ya mesti kita sholat lah”. Tetapi juga tidak menganggap bahwa fiqih tidak penting, penting untuk referensi, meneguhkan kembali, karena sifatnya hukum. Jadi shalat bukan karena jaminan surga arau pahala 27x lipat misal kalau berjamaah.

Pernah salah satu rombongan jamaah sholat mengatakan kepada saya karena saya shalat paling akhir dan sendiri, dia berkata bahwa pahala saya dipotong 27X lipat, saya jawab saya tidak cari pahala, saya selalu dirasani oleh mereka dan saya guyoni bahwa saya shalat saya tidak sendiri karena jamaah Jin saya banyak, saya gitu. Inilah ilmu ngeyel Maiyah untuk diri saya sendiri. Saya shalat bukan karena terjebak oleh surga atau pahala yang berlipat-lipat, maka saya berdaulat untuk diri saya sendiri.

Disinilah perbedaan Maiyah dengan yang lain. Tetap menjaga jati diri sebagai orang Jawa yang Jawa, diajak untuk menyapa Kanjeng Nabi sampai leluhur dan anak cucu yang belum lahir kita sapa dan bershalawat bersamanya. Dengan alasan roso tadi, beda dengan yang sudah ada sebelumnya dengan perhitungan dan asumsi yang padat menurut saya.

“Lakukan saja kalau isi hatimu niat baik insyaallah jadi,” begitu kata Si Mbah. Maiyah itu pembeda, Maiyah itu suatu pancaran Nur Muhammad untuk kita semua. Matursuwun Mbah Nun, KiaiKanjeng, Progress, dan Jamaah Maiyah seluruh dunia.

“Maiyah is the verse of Allah that was spoken for us, Indonesians in particular, if he is aware that he needs awareness to be aware.”

Lainnya