Gowes dan Kenikmatan Inna Ma’al ‘Usri Yusra

Photo by Farhan Abas on Unsplash

Pukul sebelas siang. Cuaca terasa sangat panas. Saya berangkat pulang dari Kemayoran, titik istirahat terakhir rute gowes, menuju Sawangan. Ndilalah teman yang biasa searah jalur pulang harus langsung menuju kantor sehingga saya pulang sendiri.

Kesempatan ini saya tunggu sejak libur gowes menjelang puasa bulan lalu. Mengapa? Dengan gowes sendiri, nggenjot pedal sendiri, tanpa teman ngobrol sepanjang perjalanan, rasanya lebih nikmat untuk berdialog dengan diri sendiri.

Bismillah, saya berpamitan dengan teman-teman dan mulai mengayuh sepeda. Meter demi meter saya lalui, berusaha tetap terhubung dengan diri sendiri. Kesempatan ini saya gunakan untuk nuturi diri sendiri. Pertama, saya mau tidak mau harus menerima dan menikmati cuaca yang gerah dan super panas sepanjang perjalanan. Seluruh indera, tenaga, dan sikap berpikir melakukan conditioning agar nerima sekaligus selaras dengan keadaan yang saya alami saat itu.

Kedua, saya mengatakan pada diri sendiri agar jangan terburu-buru ingin cepat sampai rumah. Pokoknya, nikmati saja. Berbekal komitmen pada poin pertama, sepenuhnya saya menyadari bahwa saya sedang mengayuh sepeda di tengah cuaca panas yang sangat tidak nyaman. Saya mempertahankan kecepatan, menjaga jalur, dan posisi di jalan raya layaknya bersepeda pada pagi hari yang segar.

Ketiga, berbekal tekad pada poin pertama dan kedua, lengkap sudah mental dan stamina untuk mengayuh sepeda menempuh perjalanan sepanjang 30-40 km.

Pada momentum itu saya teringat Mbah Nun yang pernah menyatakan, semakin engkau ingin cepat sampai, maka engkau akan semakin lama merasakannya. Ternyata ada benarnya. Saya mengalami hal itu selama gowes di perjalanan. “Wes toh, tidak usah berpikir ingin melaju cepat seperti motor apalagi mobil. Berpikir ala sepeda, bersikap ala sepeda, berstamina pun ala sepeda,” demikian kira-kira wejangan Mbah Nun yang saya ingat. Inna ma’al ‘usri yusra akan mengalirkan energi yang menyuplai kedewasaan dan kesabaran sambil terus konstan mengayuh pedal sepeda.

Jadi, “bersama kesulitan ada kemudahan” dalam framing kegiatan bersepeda adalah terus-menerus menemukan kenikmatan selama mengayuh sepeda, bagaimana pun cuacanya, berapa pun jarak tempuhnya. Caranya? Kita mengerahkan segenap tenaga dan menata mindset bahwa bersepeda ya disikapi secara sangat-sangat sadar bahwa kita sedang bersepeda. Hanya itu dan sesederhana itu.

Persoalannya, sadar yang bagaimana sehingga kita bisa tegak di tengah situasi apapun? Bahasa Jawa menyodorkan satu kata: eling — keadaan mental pikiran yang kira-kira berada satu tingkat di atas kata “sadar”. Eling membawa kita menuju waspada, dan ketika waspada kita kembali menjadi eling.

Aktivitas eling ditandai dengan kesadaran penuh bahwa kita menggenapkan fokus pandang, sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang hingga mental pandang agar “nerima” sekaligus “nyawiji” dengan konteks dan kondisi aktual yang sedang kita alami. Bukankah laku pengalaman semacam itu juga merupakan kenikmatan “yusra” di tengah cobaan “’usra”? Dan kemudahan pun tidak selalu linier berbentuk fisik, kasat mata, dan materi.

Nyawiji-nya logika dan mental, pikiran dan perasaan, akal dan hati sesungguhnya adalah kemudahan (yusra) sebagai akibat dari aktualisasi kesulitan (‘usra) yang tengah kita hadapi sehingga Rahman dan Rahim Allah Swt pun mengejawantah dalam diri.

Kekuatan kita menjalani ujian dan kenikmatan pun bertambah. Mbah Nun pernah menyarankan, “Berdoalah agar Allah menambah kekuatanmu. Ya Allah, tambahkan kekuatan hamba dalam menerima dan menjalani segala cobaan dan permasalahan hidup.”

Bertambahnya kekuatan di tengah ujian dan cobaan adalah bukti bahwa bersama datangnya kesulitan datang pula kemudahan.

Sawangan, Juni 2021

Lainnya