Kebon (143 dari 241)

Gertak Sambal” dari Allah

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Pelacur menerima tamunya, melayaninya, memberinya kesenangan dan kenikmatan. Si tamu menukarnya dengan sejumlah jasa atau uang. Mereka melakukannya mau sama mau, rela sama rela.

Tidak ada kedhaliman atau penganiayaan di antara mereka. Tetapi mereka bersama-sama menganiaya konsep etika penciptaan yang digariskan oleh Allah, mendhalimi tata hidup kemakhlukan dan harkat kemanusiaan. Maka di dalam pasal hukum Bumi maupun Langit, apa yang terjadi di antara mereka berdua dinisbahkan sebagai kemakshiatan, kemunkaran, dan kejahatan yang outputnya adalah dosa.

Negara-negara yang dibangun oleh manusia menentukan hukum yang berbeda. Ada yang mengizinkan karena peristiwanya adalah mau sama mau dan tidak ada yang disakiti. Ada Negara yang melarangnya, karena berpikir panjang tentang tata bebrayan kemanusiaan, serta berperhitungan luas sampai ke spektrum hukum Tuhan.

Setiap orang yang mengerti asal-usul dan akibat hukum, mengerti filsafat hukum, ushulul-fiqh hingga komprehensi kemashlahatan masyarakat manusia, tahu bahwa hal itu tidak berlaku terbatas hanya pada hubungan seksual antara lelaki dengan perempuan. Itu adalah prinsip tata hidup yang merangkum seluruh kemungkinan perhubungan antar manusia di dalam bermasyarakat, berkebudayaan, dan berperadaban.

Ada sangat banyak orang merekam pembicaraan saya di suatu acara, dalam obrolan atau forum apa saja, kemudian mendesain audio-visualnya, entah menghadirkan wajah dan suara saya atau tidak. Lantas mereka mengajukan ke Pos Jaga saya, kemudian mendapatkan izin untuk diupload di Youtube atau media sosial lainnya. Itu sudah cukup. Berbeda dengan kasus perzinaan pelacur dan pelanggannya yang saya tuliskan di atas.

Begitu ringan, simpel dan praktis “hukum” yang diterapkan oleh Pos Jaga hidup saya di Kadipiro. Ibarat hubungan lelaki-perempuan, Pos Jaga ini tidak mempersyaratkan KUA, Surat Nikah dll. Tetapi itu pun masih terus menerus dilanggar. Jam’iyatus Sariqin, rombongan Maling, mendapat peluang seluas-luasnya sedemikian rupa oleh Dunia Maya, Internet, dan Media Sosial, untuk kapan saja dan terus menerus memperkosa hak-hak saya.

Youtube, Google, tidak punya algoritma, sistem kontrol, yang bisa memagari tindakan pemerkosaan ini. Tiap pagi, siang, sore dan malam, perkosaan berlangsung teruuuuuuuuuus menerus tak henti-hanti. Saya sudah berulangkali menyatakan kekaguman saya kepada para pemerkosa. Tapi rasanya tak pernah cukup. Sebab mereka ternyata jauh lebih hebat dari kadar kekaguman saya.

Mereka adalah makhluk-makhluk Allah yang sangat pemberani untuk mencuri, sangat gagah perkasa untuk berbuat adigang adigung adiguna. Mereka sama sekali tidak terikat oleh hukum sebab akibat dalam putaran nasib kehidupan. Mereka tidak percaya kepada “kuwalat”. Mereka mampu mengalahkan “alkarmah”atau hukum karma. Mereka beriman bahwa hidupnya bersama keluarganya pasti selamat, tidak akan ditimpa bencana apa-apa. Mereka mentertawakan pernyataan Allah Swt:

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.

وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.

وَمَكَرُواْوَمَكَرَٱللَّهُۖوَٱللَّهُخَيۡرُٱلۡمَٰكِرِينَ

Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Mana buktinya? Itu Tuhan hanya “bluffing” saja. Allah menggertak sambal saja. Tapi tidak ada faktanya. Dalam hati para pemerkosa itu mengatakan: “Saya sekeluarga baik-baik saja. Sehat walafiat dan makmur sejahtera. Honor dan pendapatan dari upload-2 saya tetap mengalir menebalkan nafkah penghidupan saya. Dan semua editing beberapa konten yang sebenarnya tidak saling bekaitan namun saya kaitkan, terbukti efektif untuk pendidikan politik Indonesia. Siapa bilang itu adu domba? Itu dakwah dan tabligh nasional”.

Sepakbola baru ketahuan skornya sesudah usai 90 menit. Perilaku manusia tidak bisa diidentifikasi akibat baik buruknya sebelum tiba kehidupan Akhkrat. Dan sudah pasti, Iblis, pemimpin mereka, bernegosiasi dengan Allah:

قَالَ أَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ

Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.

Dan Allah menyetujui klausul negosiasi yang diajukan oleh Iblis itu:

قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”.

Selama puluhan tahun hidup saya, ada banyak orang mengalami sakit keras, menjalani sisa hidupnya di kursi roda, stroke akut dan berat, mbrodol ususe, pecah ndase, rumah atau pabriknya terbakar, bahkan mati. Yang mengalami itu semua adalah orang-orang yang memang berbuat jahat, tetapi juga yang saya kenal baik hidupnya.

إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kita tidak akan bisa menyimpulkan bahwa Allah tidak adil. Satu-satunya penjelasan adalah bahwa pengetahuan kita atas manusia sangat relatif, sempit, sektoral dan parsial. Sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi hasil penilaian adil atau tidak adil. Sementara pengetahuan Allah maha luas, luar biasa detail, lembut, dan adil bahkan terhadap sehelai daun atau seekor semut. Sehingga penilaian Allah pasti dan mutlak benar. Keadilan-Nya pun solid dan valid. Apa yang menurut kita tidak adil karena ukurannya selingkup kesempitan pandangan kita, itu adil menurut Allah karena kemahaluasan dan ketidakterbatasannya skala pandangan-Nya.

Andaikan soal “diberi tangguh” kepada Iblis itu sudah tiba waktunya, dan orang-orang yang kita mengalami perilaku mereka sebagai dhalim, menganiaya dan mencuri, baru bisa kita persaksikan kelak di Akhirat.

خَٰلِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمُ ٱلۡعَذَابُ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ

Mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh.

Dengan narasi lain: seluruh hal dalam kehidupan dunia ini bersifat relatif dan dibingkai oleh hanya pagar kemungkinan. Sementara kehidupan akhirat segala faktanya bersifat pasti tidak mengandung relativitas.

Lainnya