Gendhuk La Nina

Photo by Roberto Nickson from Pexels10

Pengetahuan seharusnya bersifat universal namun bahasa kadang memaksa menjadikannya kembali lokal. Pertanyaan yang kerap muncul dalam diskusi terkait “traditional knowledge” salah satunya adalah apakah pengetahuan lokal bisa bersinergi dengan dunia sains modern. Kalau yang dimaksud dengan sains modern adalah alat dan perlengkapan canggih termutakhir, pendapat saya: tentu saja bisa. Mungkin catatan tentang Gendhuk La Nina ini bisa mewakili jawaban tersebut.

La Nina, sebuah anomali cuaca yang namanya diambil dari kata yang berarti anak perempuan dalam Bahasa Spanyol. Peristiwa alam La Nina ini adalah kondisi menyimpang berupa menurunnya suhu permukaan laut Samudera Pasifik di Amerika Selatan. Dalam Sibar Mafaza September lalu, dari Pak Roem Topatimasang baru saya tahu bahwa di Jawa fenomena alam ini disebut dengan istilah Gendhuk atau anak perempuan. Sama saja.

Perubahan penurunan suhu laut Gendhuk La Nina akan diikuti anomali sirkulasi atmosfer di atasnya dengan semakin kencang angin pasat timur dan berakibat pada peningkatan curah hujan di Pasifik Barat (Indonesia dan Australia). National Oceanic and Atmostpheric Administration (NOAA) mengeluarkan laporan resmi tentang El Nina September lalu. Prakiraan NOAA tersebut memberitakan prediksi sebesar 70% bahwa Gendhuk El Nina akan datang lagi akhir tahun ini hingga pertengahan tahun depan.

Lazimnya La Nina datang setiap 6-7 tahun sekali dan memengaruhi cuaca global. Gendhuk ini umumnya juga dikenal akan membawa musim hujan yang panjang dengan curah hujan yang berlebih. Catatan untuk waspodo ke depan untuk bersiap menghadapi kedatangan Gendhuk setidaknya ada pada kewaspadaan untuk menghadapi potensi banjir dan longsor di berbagai wilayah di Indonesia. Dan catatan untuk eling sudah kita temui pengalaman lumpuhnya ibu kota negara dan wilayah pesisir dataran rendah karena banjir, juga longsor di beberapa wilayah perbukitan dan pegunungan di beberapa pulau beberapa waktu yang lalu.

A blessing in disguise, Gendhuk La Nina dan curah hujan hingga tengah tahun depan juga akan berarti banyak bagi praktik pertanian di Indonesia. Sawah-sawah tadah hujan juga dapat tertopang oleh air dalam waktu yang lebih panjang. Bahkan pada pertanian dengan irigasi teknis, dukungan pada produksi tanaman pangan harusnya juga lebih dapat diandalkan. Gendhuk La Nina memberikan juga berdampak pada sumber daya air dan efeknya pada percepatan atau perluasan area tanam.

Di antara dua kutub kewaspadaan dan keberkahan untuk menyambut Gendhuk La Nina tersebut, jika pembaca sadar penulis ternyata sudah sejak awal tulisan lebih percaya pada alat-alat mutakhir NOAA sebagai bagian dari National Weather Services (NWS) atau BMKG-nya Amerika Serikat. Forecast tentang La Nina ini masih berada pada kisaran akurasi 60-70%, artinya masih ada kemungkinan pada 30% ketidakakuratan prediksi. Jikapun meleset, data-data dari alat termutakhir ini sudah mengingatkan kita untuk selalu waspada pada banjir dan tanah longsor beserta perlunya berbagai perangkat kesiapsiagaan atas bencana alam.

La Nina hanyalah fase dingin dari El Nino atau si Thole atau anak lelaki. Panel diskusi untuk si Thole El Nino (EL Nino/Southern Oscillation) atau ENSO akan dilakukan pertengahan Oktober 2021 ini. Saya tidak keberatan untuk menunggu hasilnya dan mencatat lagi apa-apa saja yang harus diwaspadai ke depan dari prediksi alat-alat modern itu.

Bagi sebagian petani di Jawa “Jaman iku owah gingsir” alias zaman selalu berubah dinamis dan siapa yang bergerak di atas bumilah yang harus menyesuaikan diri. Pengetahuan tentang si Gendhuk dan si Thole ini juga dimiliki oleh banyak suku dan tradisi di Indonesia. Pengetahuan apakah lokal maupun universal, bertujuan sebagai usaha ikhtiar manusia untuk menjadi lebih baik. Dalam hal ini alat-alat, tools, model prediksi cuaca baik modern atau tradisional hanyalah satu saja bagian dari ikhtiar manusia untuk menghadapi tantangan-tantangan kehidupan.

Lainnya