(Sinau Puasa, bag. 9)

Fungsi Niat Melaparkan Diri

Photo by Rifky Nur Setyadi on Unsplash

Dalam sepinya siang puasa hari pertama, saya sedikit melamun dan dalam lamunan saya terpikirkan apa saja pengaruh puasa dalam diri manusia pada sisi psikologis.

Bukankah puasa membuat lapar, dan kata para bapak-bapak pinter, lapar membuat orang gampang marah. Benarkah? Perasaan saya sih kalau berpuasa, kita jadi lebih gampang mengendalikan diri, lebih rileks, lebih ‘adhem’, lebih tenteram dan merasakan lebih bahagia. Padahal dalam kondisi lapar berpuasa. Kemudian saya coba menggali, apa yang sebenarnya terjadi pada saat tubuh berniat untuk melaparkan diri (berpuasa).

Dalam pencarian ke beberapa sumber dan bahan bacaan tersebut saya menemukan bahwa puasa akan merangsang pelepasan senyawa yang disebut brain-derived neurotropic factor (BDNF), yang ini akan juga pada akhirnya memperbaiki fungsi otak.

Pelepasan senyawa BDNF ini akan meningkatkan fungsi otak, merangsang otak bekerja dan memproduksi banyak sel-sel, dan akhirnya akan mengurangi risiko demensia (pikun), dan juga mengurangi risiko depresi. Pada sebuah penelitian yang lain, didapatkan bahwa dengan puasa, tubuh akan memproduksi banyak ‘hormon bahagia’ (endorphin), yang akan menaikkan mood, yang tentunya akan mencegah depresi dan mengurangi kecemasan.

Penelitian yang lain lagi menemukan bahwa dengan berpuasa dapat meningkatkan serotonin yang tersedia di dalam otak yang berefek menjadi lebih merasa bahagia, santai dan mampu mencegah migrain. Banyak efek positif dari puasa ini, di antaranya kita akan lebih berperilaku positif, itu karena otak juga mengalami perubahan positif.

Timbal-balik dari kondisi puasa (dan perilaku positif manusia dari efek puasa itu) dan perubahan di dalam otak, nantinya akan merangsang korteks pre frontal di otak merupakan area kortikal pada otak bagian depan yang mengatur fungsi kognitif dan emosi. Jadi, emosi akan terkontrol dan fungsi kognitif (daya ingat, kemampuan bahasa, eksekutif, perhatian) akan bekerja dengan baik.

Lalu apa bedanya dengan kondisi lapar yang kemudian memicu orang akan gampang mengamuk?

Begini, kalau kita berpuasa pasti kita akan melakukan niat, sadar atau tidak, baik niat itu dilafalkan atau tidak. Maka niat tersebut diolah oleh otak — kalau di dalam Bahasa komputer dinamakan CPU ataupun microchip yang ada di dalam otak — dan otak akan memerintahkan semua organ yang berhubungan dengan kondisi puasa untuk bersiap melakukan penyesuaian diri. Maka lambung akan begini, ginjal akan begitu, kontrol fungsi luhur akan begono, dan lain-lain organ akan menyokong proses puasa ini dengan satu kata kuci: ‘Niat’.

Lain halnya kalau kita lapar tetapi terpaksa lapar, tidak ada niatan untuk berpuasa, maka kondisi ‘lapar’ ini tidak disiapkan, tidak ada koordinasi antar organ, sang mikrochip tidak pernah menerima instruksi ‘Niat’. Sehingga, CPU tidak akan mengolah apa-apa untuk didistribusikan ke organ-organ terkait. Bahkan sebaliknya, organ yang butuh asupan kalori akan berteriak-teriak bilang ke organ lain termasuk produksi hormon-hormon seperti adrenalin dan kortisol yang akan mengubah ataupun merusak mood manusia, menjadi marah, mudah tersinggung dan segala akibatnya.

Lalu apakah dengan puasa langsung tercipta suasana perbaikan mood tadi? Tentu saja hal ini melalui sebuah proses, tidak serta merta begitu puasa maka langsung akan terbebas dari sedih, cemas, dan tertekan. Proses menjadi penting, dan mestinya kita akan berproses terus-menerus sepanjang hari sepanjang hayat.

Bukankah sejatinya sepanjang hidup kita adalah puasa?

(bersambung)

Lainnya