EMituhu-EMitayani

Dok. Kenduri Cinta.

EMituhu

Kiprah Mbah Nun yang berdendang di sepanjang mahluk manusia — Masyarakat Maiyah — abad ke-21 ini, Alhamdulillah — bagi siapa saja yang dikehendaki Gusti Allah Lita’aarafuu bersama Mbah Nun.

Kredo yang sudah Mbah Nun ukir di hamparan keluasan dan di hamparan kedalaman alam pikirannya, alam batinnya, dan alam jiwanya, adalah benang merah yang menjurus ke wilayah Mituhu. Kesetiaan, kesungguhan, dan kepatuhan adalah makna Mituhu — sependek pengetahuan saya.

Papan keberwakilan Mituhu itu, hulu-hilirnya siapa? Sewajib-wajibnya, sesungguh-sungguhnya, dan semutlak-mutlaknya adalah Gusti Allah; pancangan raksasanya adalah Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun.

Sukar dibayangkan, tatkala makhluk manusia yang bersematkan Antum al-Fuqaraa’ malah sumeleh pada ihwal yang mutlak gapuk, mutlak gabug, mutlak gampang rusak, dan mutlak enteng bobrok. Padahal sudah cetho welo-welo formulasinya, (Q.S. al-Faathir; 15); Yaa ayyuha al-Naasu, Antum al-Fuqaraa’ (problem). Maka, Ila Allah — wa Allahu Huwa al-Ghaniyyu al-Hamiid (solusi).

Tetapi kesalahan sikap, kekeliruan jalur, dan kefatalan empan-papan Mituhu semodel itu, jangan lantas membikin putus asa, lalu mungkes begitu saja. Supaya tidak mudah mungkes, kita punya suplai amunisi cinta kasih dari Rasulullah; Dayagunakanlah lima perkara sebelum kedatangan lima perkara; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Sehatmu sebelum sakitmu. Kayamu sebelum faqirmu. Waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Hidupmu sebelum matimu.

Ayo, sebentar waktu saja, kita mengembara ke wilayah kredo hidup-kehidupan Mbah Nun – Alhamdulillah, kalau dibimbing Gusti Allah dan Rasulullah untuk menemukan mosaik dan super mosaik-Nya;

“Aku mengerjakan keyakinanku tentang kewajiban manusia untuk selalu memperbaiki seluruh segi dirinya. Aku menyatakan simpati dan cinta kasihku kepada mereka yang dimiskinkan jiwa raganya. Aku membuktikan tanggung jawabku terhadap mimpi-mimpi sendiri tentang kehidupan yang lebih hidup.”

Kata-kata yang Gusti Allah mengizinkan Mbah Nun untuk merangkainya sebagai kredo itu, adalah kumpulan kayu-kayu yang keberagaman nilainya, kemajemukan ukurannya, dan kekayaan jenisnya adalah misteri bagi ilmu manusia. Bisa dibilang nol puthul atlas ilmu manusia tentangnya — kalau yang difungsikan adalah kejumudan, kecerobohan, kesembronoan, dan ketakaburan.

Kalau kredo Mbah Nun itu diekstrak menjadi kumpulan kayu-kayu. Maka keganjilan pertama Masyarakat Maiyah adalah meneguhkan pertanyaan; apa yang mesti dirancang-bangunkan dari kumpulan kayu-kayu itu? Masyarakat Maiyah sudah langsung tahu jawabannya. Ya, Perahu Besar — mungkin, sebentuk Perahu Nabi Nuh.

Al-Marhum Sutan Takdir Alisjahbana, mengungkapkan clue (Mengutip tulisan, Pak Goenawan Mohamad, Laut, 2021); “Dunia modern di awal abad ke-20 berkiaskan “laut”; Generasi muda meninggalkan dunia tradisi yang tertata, tetapi statis, ibarat “tasik yang tenang tiada beriak”. Mereka bergerak “menuju ke laut”, ke dunia yang lepas, kreatif, dengan segala risikonya”.

Riilnya sekarang, tidak hanya generasi muda. Keseluruhan generasi makhluk manusia di sepanjang abad ke-21 ini, tidak hanya sedang “menuju ke laut”, tetapi “sudah berada di wilayah laut”.

Adapun Masyarakat Maiyah sudah banyak menggali kelengkapan-kelengkapan yang Allah memeramkannya-memisterikannya, di hamparan keluasan-kedalaman dirinya — meski mustahil berpredikat tuntas. Keseluruhannya sudah “Jejeg Ajeg, Tatag Teteg” mengerahkan sinau bareng di mana saja dan di waktu kapan saja; untuk menemukan potensi-potensi yang Gusti Allah sudah menganugerahkannya; untuk merancang-bangunkan Perahu Besar — mungkin, sebentuk Perahu Nabi Nuh.

Keyakinan Masyarakat Maiyah tentang Perahu Besar ini, sekaligus adalah cuaca bening, cerah, dan jernih, yang lamat-lamat memagnet penghayatan-permenungan ke wilayah lirik awal lagu “Perahu Retak”(1996) — Masyarakat Maiyah sangat mengenalnya;

Perahu negeriku, perahu bangsaku
Menyusuri gelombang
Semangat rakyatku, kibar benderaku
Menyeruak lautan
Langit membentang, cakrawala di depan
Melambaikan tantangan

Semoga Allah Senantiasa Merahmati Perahu Besar ini — konstruksinya dibikin kuat, kokoh, dan tangguh; untuk menyusuri gelombang.

Semoga Allah senantiasa Merahmati Perahu Besar ini — semangat rakyatku pethenthengan menyatu, kibar bendera mengombak, tetapi tidak sudi robek begitu saja; untuk menyeruak lautan.

Langit membentang, cakrawala di depan; kami songsong Engkau dengan cinta kasih ke-Mituhu-an.

EMitayani

Gusti Allah yang Murni-Mutlak Menganugerahkan gelar kehormatan al-Amin atau al-Mitayani untuk Kekasih-Nya; Rasulullah Muhammad Saw.

Alhamdulillah, Mbah Nun masih diperjalankan Gusti Allah untuk menapaki tahun ke-68, di dunia ini. Semoga Mbah Nun senantiasa dilimpahi ketangguhan oleh Gusti Allah, untuk menebar-luas-hunjam-hamparkan kebersyukuran, kebermanfaatan, dan kebijaksanaan hidup-kehidupan; bagi siapa saja yang mendambakan “Pertemuan Agung” dengan Gusti Allah dan Rasulullah.

Lainnya