Emangnya Masih Mau Belajar Demokrasi dari Amerika?

Foto: Ahmad Jamaluddin Jufri.

Seandainya jadi dosen Civic Education, itu pertanyaan pertama saya ke mahasiswa. Karena dulu, saat saya kuliah di Ciputat, doktrinnya adalah: kalau mau maju, harus berdemokrasi, dan belajarlah dari Amerika. Karena waktu itu, awal 2000-an, Indonesia sedang kesengsem berat sama demokrasi.

Tapi kini, 20 tahun kemudian, Amerika merasa malu. Wajah demokrasinya tercoreng. Presidennya sendiri mengompori massa pendukungnya yang berdemonstrasi di depan Gedung Putih, untuk “menyerbu” gedung DPR/MPR-nya Amerika: US Capitol. Dan ribuan massa itu benar-benar menyerbu, sampai merusak jendela, mendobrak masuk ruang sidang pengesahan hasil Pilpres.

Sidang pun terhenti. Anggota kongres dievakuasi. Keadaan kacau. Belakangan di antara para pendemo ditemukan ada yang bawa bom pipa dan bom molotov. Kabar terakhir, lima orang meninggal: empat pendemo dan satu polisi dalam drama empat jam penyerbuan itu.

Rabu, 6 Januari kemarin, Trump pidato di hadapan pendukungnya berbekal kebenaran versinya sendiri: Pilpres kemarin penuh kecurangan. Di pidato itu, Trump menekan Wakil Presidennya sendiri, Mike Pence, yang sedang memimpin sidang mengesahkan hasil Pilpres di Capitol, untuk menolak kemenangan Joe Biden.

Tentu Pence yang masih “waras” tidak mau. Apalagi memang tidak ada peluang hukum dan konstitusi yang membuat Pence mengikuti kemauan Trump.

Sejak hasil perolehan Pilpres lalu yang dimenangkan Biden, Trump lewat Twitter-nya berkoar adanya kecurangan. Dia memang terkenal sebagai badak. Seruduk terus.

Tidak ada kata menyerah, apalagi mengaku kalah dalam kamus hidupnya sepanjang 74 tahun. Dia mencoba “memutar balik” hasil Pilpres ke pengadilan: gagal. Menggugat ke Mahkamah Agung: juga gagal.

Maka harapan dan upaya terakhirnya ya sidang tanggal 6 itu. Padahal, sidang itu hanya formalitas belaka. Karena hasil Pilpres sudah disahkan di tiap negara bagian. Setidaknya ada sidang “pengesahan” tingkat nasional, yang secara konstitusi dipimpin Wakil Presiden.

Mengetahui pendukungnya rusuh, sore itu dia ngomong ke mereka dalam video yang diunggah lewat akun Twitter-nya: pulanglah ke rumah dengan tertib, jangan rusuh. Tapi tetap dengan dibumbui kata-kata Pilpres curang. Padahal Capitol sudah terlanjur rusak dan jatuh korban jiwa.

Malamnya, keadaan sudah tenang kembali, sidang pun bisa dilanjutkan. Hingga menjelang subuh. Sidang yang ketika dimulai penuh debat, terutama dari Senator negara bagian Arizona, yang mencoba menolak hasil Pilpres.

Namun akibat kerusuhan, sebagian Senator dari Partai Republik itu kehilangan angin pada sidang lanjutan. Akhirnya sidang berjalan lancar. No debat! kalau kata Cing Abdel.

Tepat jam 3.39 Kamis pagi, Pence mengetok palu mengesahkan kemenangan Biden, dan akan dilantik 20 Januari besok.

Mungkin Trump sedih, perlawanannya gagal. Kebenaran versinya yang diimani pendukungnya bahwa sebetulnya dia yang menang, sia-sia melawan kebenaran orang banyak: dia kalah.

Dan yang bikin dia sedih lagi, dia tidak bisa lagi mainan Twitter. Akibat kerusuhan itu, Twitter memblokir akun @realDonaldTrump miliknya selama 24 jam.

Tapi per jumat sore ini (Sabtu pagi WIB), Twitter mencabut akun Donald Trump, selamanya! Media sosial yang lain pun akhirnya juga ikutan: Facebook, Snapchat, dan Instagram.

Baru kali ini ada akun media sosial presiden, dari negara adikuasa di dunia pula, di-suspend.

Serangan balik kepada Trump pun datang, dari para anggota Kongres, baik Demokrat maupun partai pendukungnya sendiri, Republik, yang hancur lebur akibat ulah Trump.

Walaupun masa jabatannya praktis tinggal 11 hari lagi, mereka mau memakzulkan Presiden Trump. Karena sudah dianggap tidak punya kemampuan lagi secara mental sebagai Presiden.

Waktunya tinggal minggu depan. Kalau jadi, apes bin apes ini Trump. Sudah lah kalah, di masa injury time, kena impeach pula.

***

Sekarang kembali ke pertanyaan di awal. Masih mau belajar demokrasi dari Amerika?

Jamaah Maiyah tentu sangat bijak. Sudah dibekali ilmu keseimbangan di Maiyahan. Demokrasi hanya satu cara saja dalam tata kelola hidup bersama. Tiap tanah punya senyawanya masing-masing.

Tanah Amerika mungkin bersenyawa dengan demokrasi, yang hari ini kita saksikan wajahnya begitu. Tanah Nusantara senyawanya beda lagi. Mungkin cocok dengan demokrasi tapi ya nggak bisa copy paste dari negeri mana pun.

Terhadap demokrasi, seyogianya tetap selalu mengikuti petuah dari Gunung Merapi: Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat.

Kalau tidak, mungkin nanti kita termasuk golongan orang-orang yang disindir Mbah Nun dengan Demokrasi La Roiba Fiih. Orang yang memandang demokrasi itu segala-galanya.

Chicago, 8 Januari 2021

Lainnya