Dua Model Berpikir: Berpikir Kreatif dan Berpikir Reflektif

Photo by Daniele Franchi on Unsplash

Hari-hari ini kecakapan dan keterampilan manusia dalam menciptakan sesuatu sedang menunjukkan tajinya. Beberapa hasil karya manusia yang begitu mengagumkan telah digunakan secara menjamur di berbagai belahan dunia. Alat-alat yang canggih itu diciptakan dengan pikiran yang kreatif. Bukankah demikian? Olah pikiran yang brilian; hasil dari pengaplikasian konsep ide yang diterjemahkan dengan metode saintifik.

Namun di tengah zaman yang semakin maju ini orang mulai kehilangan kesadaran keseimbangan dengan menyebut model berpikir yang lain, misalnya, berpikir reflektif. Padahal kedua-duanya adalah sebuah komplemen dalam membangun sebuah peradaban. Kita tidak bisa membiarkan mobil kita melaju kencang tanpa pertimbangan menginjak rem. Bisa dibayangkan jika orang hanya berpikir kreatif tanpa memikirkan dampak positif maupun negatif teknologi yang dibuatnya. Begitu pula jika orang hanya berpikir reflektif di dunia ini, maka ia seperti orang yang kekurangan gairah dalam menjalani hidup.

Adapun yang ingin saya tulis di sini yaitu membahas apa itu berpikir kreatif dan berpikir reflektif beserta contoh-contohnya.

Berpikir kreatif jika kita teliti memang bersifat mengolah atau mendayagunakan sesuatu yang berada di luar. Lingkup wilayah kerjanya bisa berasal dari alam, benda-benda di sekitar, atau dari fenomena sehari-hari. Biasanya berangkat dari kendala atau masalah yang dialami manusia. Kemudian manusia berpikir bagaimana mencari solusi dari masalah tersebut. Jika kita ingin berkomunikasi dengan keluarga yang jauh di sana tapi terkendala ruang dan waktu maka orang menciptakan telepon.

Jika makanan cepat basi atau kurang segar bila dibiarkan pada suhu ruangan maka orang menciptakan refrigerator. Jika saat malam kekurangan cahaya maka orang menciptakan lampu sebagai pencahayaan. Jika ingin bepergian jarak jauh, misalnya antar pulau agar lebih cepat, maka orang kemudian menciptakan pesawat. Dan masih banyak contoh penemuan-penemuan lainnya.

Adapun mengenai berpikir reflektif memang lebih bersifat mengolah sesuatu yang ada di dalam. Domain kajiannya berada di wilayah kepribadian manusia. Berpikir reflektif ibarat kita melakukan perjalanan ke dalam dimensi kemanusiaan kita sendiri. Berusaha untuk jujur dalam menilai diri sendiri: kelebihan dan kekurangannya. Bagaimana bergaul dengan orang lain, dengan masyarakat yang lebih luas? Bagaimana bangkit dari sebuah keterpurukan. Semua itu adalah sesuatu yang tak terlihat namun dapat kita rasakan manifestasinya dalam tindakan. Dengan demikian berpikir reflektif lebih bertujuan mendandani mental dan moral manusia untuk sampai ke tingkat ahsanu taqwim.

Dr. Edward de Bono ahli mengajar berpikir kreatif memperkenalkan konsep lateral thinking dan enam topi berpikir. Lateral thinking adalah berpikir dengan pendekatan penalaran yang berbeda dengan tujuan mendapatkan hasil yang berbeda pula. Bahasa sederhananya berpikir nyleneh untuk memecahkan masalah. Sementara untuk konsep enam topi berpikir, de Bono menjelaskan bahwa sistem berpikir manusia itu bersifat sekuensial. Manusia memproses informasi secara berurutan (serial) tidak bisa langsung banyak sekaligus (paralel). Sepertinya itu hal yang mudah dilakukan. Tapi hal ini menjadi sedikit rumit karena banyak unsur yang mempengaruhinya seperti emosi.

De Bono mengatakan tujuan mempengaruhi urutan. Apa artinya? Langkah-langkah dalam pengambilan kesimpulan harus berurutan sesuai dengan hasil apa yang ingin dicapai. Jadi kita menggunakan sebuah kerangka berpikir dalam menyelesaikan masalah. Ia menganalogikan model berpikir dengan warna topi. Satu topi berpikir hanya efektif untuk memikirkan satu topik saja kemudian dilanjutkan dengan topi-topi lainnya sehingga menghasilkan keputusan yang terbaik. Sesungguhnya apa yang diperkenalkan de Bono adalah sebuah sistem berpikir yang komprehensif. Dipetakan dulu masalah-masalahnya, kemudian disusun sebuah alternatif-alternatif solusinya. Dan untuk eksekusinya tinggal menyesuaikan dengan hasil yang ingin dicapai.

Dari paparan di atas bisa ditarik kesimpulan: ada dua unsur yang mempengaruhi bagaimana manusia berpikir, (1) logika dan (2) emosi. Banyak orang yang kaya pengetahuan. Ia mengumpulkan berbagai macam jenis pengetahuan tapi tidak atau kurang bisa mengkonstruksi menjadi sebuah gagasan. Padahal yang lebih dibutuhkan adalah mesin berpikir untuk memproses informasi, bukan hanya sekadar mengumpulkan informasi.

Dalam dinamika zaman yang semakin maju, bisa kita pahami bahwa ilmu pengetahuan mengajak manusia untuk berpikir kreatif sementara agama mengajarkan manusia untuk lebih berpikir reflektif. Batasan-batasan tersebut kurang dipahami atau memang malah diabaikan. Padahal yang kita butuhkan adalah keseimbangan di antara keduanya. Kecanggihan teknologi mengajak manusia untuk mengeksplorasi sementara agama mengajak manusia untuk belajar mengendalikan. Sehingga muncul anggapan atau stigma negatif bahwa ilmu pengetahuan tidak cocok dengan orang yang beragama. Karena orang yang beragama terlalu banyak pertimbangan moral. Sehingga untuk jadi ilmuwan harus menjadi ateis (tidak ber-Tuhan).

Anggapan demikian tentunya keliru, perkembangan ilmu pengetahuan di Barat awalnya adalah hasil penerjemahan kitab-kitab para ilmuwan muslim. Malah dunia Barat sempat mengalami yang namanya Abad Kegelapan dengan menolak semua hal (termasuk ilmu pengetahuan) yang tidak sesuai dengan doktrin agama Kristen. Banyak ilmuwan yang dieksekusi mati karena dianggap melakukan subversi terhadap ajaran agama. Justru Islam-lah agama yang compatible dengan etos ilmu pengetahuan. Banyak bukti kebenaran wahyu dalam agama Islam yang dibuktikan secara sains. Misalnya proses perkembangan janin dalam kandungan yang dengan begitu detail dijelaskan di dalam Alquran. Maka agak aneh jika ada yang mengatakan bahwa agama (Islam) tidak bisa menerima sains.

Zaman dulu banyak sekali ulama-ulama Islam klasik yang membuat kitab-kitab tentang ilmu pengetahuan selain tentu kitab-kitab tentang fiqih atau tasawuf. Mereka tidak hanya berada dalam domain berpikir reflektif tapi juga kreatif. Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Jabar, Ibnu Batutah adalah orang-orang yang bisa mengkombinasikan dua model berpikir tersebut. Keilmuan dunia ia kuasai sama baiknya dengan ilmu-ilmu keagamaan.

Namun amat disayangkan umat Islam zaman sekarang cenderung menolak ilmu pengetahuan sains. Mereka taqlid buta pada doktrin agama. Bukankah para ulama juga sering berbeda pandangan tentang suatu permasalahan. Lalu kalau kita tidak menggunakan pikiran untuk mensintesikan hal tersebut bagaimana kita memilih yang terbaik? Padahal sudah diwanti-wanti dalam Al-Qur’an, apakah kalian tidak berpikir? Bukankah berpikir menjadi perintah yang justru sangat penting? Kenapa tidak dijalankan sama baiknya dengan perintah Tuhan yang lain seperti misalnya rukun Islam? Tapi entahlah umat Islam sendiri sangat tidak open minded menerima ilmu pengetahuan. Mereka terlalu sibuk dengan hal formalitas agama saja. Bukan hal itu tidak baik tapi kurang sesuai dengan peran dan fitrah manusia sendiri sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah di bumi manusia harus bisa mendayagunakan apa yang telah dianugerahkan Allah.

Masyarakat tertentu cenderung menganggap rendah model berpikir reflektif. Mungkin karena hasilnya tidak tampak atau juga karena berat — karena yang harus dikendalikan adalah ego dalam diri sendiri. Tapi jangan menyepelekan hasil dari pengolahan jiwa ini. Konon masyarakat nusantara zaman dulu untuk berkunjung ke handai taulan tidak perlu menggunakan mesin yang beroda, cukup ia masuk ke dalam dirinya sendiri, konsentrasi sampai ia akhirnya in dan konek dengan sambungan frekuensi orang di seberang sana. Apakah orang dengan domain berpikir kreatif bisa memahami hal tersebut? Akhirnya kita sampai pada pembahasan bentuk manfaat yang didapat dari berpikir reflektif. Salah satunya hal-hal yang tidak bisa dinalar dengan logika seperti ini. Pernah dengar cerita ada orang yang bisa berjalan di air, atau ada orang yang bisa terbang? Dalam khasanah ilmu hikmah hal itu mungkin saja sebagai akibat olah jiwa yang mengerikan. Tentu itu semua tidak terlepas dari penggunaan model berpikir reflektif.

Kita mungkin akan takjub dengan penemuan-penemuan barang-barang canggih, teknologi supramodern, teknologi perang, dan rekayasa genetika. Tapi kita menyisakan sedikit kekecewaan jika melihat dampak dari penemuan-penemuan tersebut justru untuk menciptakan kerusakan ekologis. Bukan hanya alam yang rusak tapi psikologi dan mental manusia juga ikut dirusak. Maka berpikir kreatif bisa jadi sangat membahayakan jika tidak diiringi dengan moral pelakunya.

Paralel dengan itu jika kita tarik ke spektrum yang lebih luas, kita bisa membandingkan peradaban Barat dengan peradaban Timur, jika bangsa Barat menciptakan penemuan alat dan mesin yang canggih, lalu apa sumbangsih peradaban Timur. Seperti dibahas di awal penemuan bangsa Timur tidak kasat mata, karena ia lebih bersifat pengolahan batin. Borobudur, Prambanan, atau peninggalan-peninggalan kuno lainnya bisa kita kategorikan sebagai peninggalan yang me-ruh. Sebuah ciptaan yang bulat dan utuh.

Mungkin kita bisa teliti daya magis dari bangunan-bangunan tersebut. Adakah arsitektur bangunan selama berapa abad tidak mengalami kerusakan yang parah. Sementara bangunan arsitektur modern yang katanya dibangun dengan bantuan komputer yang canggih dan teknologi material terbaik belum terbukti mampu menandingi bangunan-bangunan bersejarah tempo dulu. Jadi siapakah yang akan memenangkan kontestasi ini. Orang dengan kemampuan berpikir kreatif ataukah orang dengan pikiran reflektif? Saya bisa pastikan: orang yang bisa mengabungkan keduanya!