Kebon (115)

Download dari Server Jibril

Foto: Adin (Dok. Progress)

Sesudah tengah malam Nuriman bangun, ambil wudlu, kemudian membawa kentongan kecil, berjalan ke rumah-rumah para tetangga. Membangunkan mereka dan mengajaknya ke Langgar Wetan kami untuk melakukan shalat malam. Penduduk Menturo berduyun-duyun ke Langgar Wetan dan Nuriman memimpin sembahyang.

Desa saya seperti mengalami lindhu atau gempa bumi. Malam-malam penduduk digiring untuk shalat malam, kemudian diceramahi, kemudian diajak beramai-ramai ke kuburan timur Menturo. Massa dibagi-bagi menjadi sekian kelompok. Setiap kelompok diantarkan oleh Nuriman untuk berhenti di suatu titik dalam kuburan. Mereka tidak boleh beranjak sebelum Nuriman mengajaknya pulang.

Semua orang takut bertemu dengan Nuriman. Karena khawatir ia akan menuding dan membuka kesalahan-kesalahannya. Hampir setiap malam dimobilisasikan ke kuburan. Ternyata ia juga minta kepada Ayah saya untuk diizinkan berkhutbah pada shalat Jumat. Sesudah itu melebar ke banyak masjid di desa-desa sekitar Menturo ke segala arah. Saya mendapat tugas untuk melakukan adzan dan Nuriman yang berkhutbah.

Gus Nur bukan anak yang jatuh dan kejedug bagian belakang kepalanya sehingga gegar otak, sehingga itu membuatnya menjadi punya kecerdasan tertentu. Ada susunan helai-helai sarafnya yang tersambung yang selama ini tidak tersambung. Seperti radio mati kita pukul-pukul lantas bunyi kembali. Saya tidak heran setiap kali mendengarkan Gus Nur berkhutbah. Tetapi saya tidak menjelaskan bagaimana anak yang usianya hanya terpaut 2 tahun di atas saya bisa sedemikian pintar berkhutbah dan tahu sangat banyak hal. Mungkin ia “kesamper” sesuatu dari langit. Atau ada peristiwa download tak sengaja dari servernya Malaikat Jibril.

قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞۖ وَلِنَجۡعَلَهُۥٓ
ءَايَةٗ لِّلنَّاسِ وَرَحۡمَةٗ مِّنَّاۚ وَكَانَ أَمۡرٗا مَّقۡضِيّٗا

Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.

Saya juga harus ceritakan bahwa saya tidak ikut diajak oleh Nuriman ke kuburan. Saya bebas mobilisasi. Saya dibiarkan menjadi penduduk independen. Malah Nuriman memberi tugas khusus kepada saya. Ia sering mengajak diskusi tentang ayat-ayat tertentu dan hadist-hadits. Saya patuhi ajakan diskusi itu, meskipun saya masih duduk di kelas 5 SD Bakalan.

Nuriman yang selalu membuka diskusi, membawa topik, ayat atau hadits tertentu, dan selalu bertanya: “Kalau ini menurut Cak Nun maknanya bagaimana?” Saya juga selalu menjawabnya, meskipun saya tidak tahu apakah saya bisa menjawabnya.

Saya masih anak-anak. Jangankan pernah belajar Ilmu Qur`an dan Ilmu Hadits. Jadi apapun yang ketika itu saya jawabkan atau diskusikan dengan Gus Nur, sama sekali tidak bisa dibenarkan oleh metodologi ilmu apapun. Sebab sama sekali tak saya punyai seluruh persyaratan akademis ilmiah untuk itu. Saya hanya terbiasa ngasak, memunguti sisa-sisa padi orang mengetam. Sehingga saya pungut saja sekenanya apa-apa di dalam hati dan pikiran saya untuk merespons Nuriman.

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً

Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mati besok pagi.

Saya bilang kepada Gus Nur bahwa ada yang menggerunjal di dalam pikiran saya setelah membaca hadits itu. Hanya itu yang saya bilang. Pasti di usia itu saya belum mampu menjelaskan tentang posisi sekaligus dunia-akhirat di setiap konteks perbuatan manusia. Bahwa tidak ada yang berposisi dunia saja dan lainnya akhirat saja.

40 tahun kemudian seorang Doktor di UIN Alaudin Makassar menginformasikan bahwa berdasarkan penelitiannya, ia menemukan ketidakyakinan bahwa narasi itu orisinal merupakan sabda Rasulullah saw.

Setahu kami semua di desa, Nuriman bukan anak kiai atau keturunan wali, habib atau siapapun. Tetapi karena di Jawa Timur, dengan kemampuan aneh seperti itu, kami semua lantas memanggilnya Gus Nur. Dalam idiom budaya di sana, itu namanya Wali Tiban. Orang yang ditibani atau dijatuhi karomah oleh Allah. Seolah-olah yang berlangsung adalah seperti Lailatul Qadar:

تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Nuriman tampaknya bukan hanya hafal Al-Qur`an. Jangan tanya apakah saya mengujinya dengan cara tertentu dalam waktu sekian lama untuk chek and recheck untuk membuktikan apakah ia benar-benar hapal Al-Qur`an. Yang disebut hafal Al-Qur`an biasanya adalah kita sebut awal kalimat kemudian yang bersangkutan bisa meneruskannya. Sedangkan Gus Nur ini: saya buka Qur`an, halaman sekian, saya hitung baris kesekian dan huruf kesekian, Gus Nur langsung bisa menjawab huruf yang dimaksud.

Gus Nur ini “horror”. Tanazzalul Malaikatu war-Ruhu fiha, bi idzni Rabbihim. Kepalanya adalah hardisk dengan operating system sedemikian rupa, sehingga tatkala tersambung dengan “server” di tangan Malaikat Jibril atau entah Malaikat siapa lainnya yang bertugas, Gus Nur langsung online.

Bagaimana Menturo tidak “gempa”. Setiap orang lari menghindar, daripada Gus Nur “browsing” lantas “download” data tentang dia. Untung saya masih kelas 5 SD dan bertugas hanya di unit “tadabbur”. Itu pun boleh “ngasak” saja. Tidak perlu akademis dan disiplin sanad matan atau apapun yang saya pasti “kempong” dan “ngaplo” karena tidak tahu.

Sekarang saya baru menyadari arti dan maksud kosakata “download” yang sangat terkenal sedunia 15 tahun terakhir ini. Saya timik-timik ikut mengenali internet sejak kemunculannya, tapi baru sekarang, 58 tahun sepeninggal Gus Nur, saya bersentuhan dengan titik hakiki “download”. Unduhan sejati adalah yang mengakses ke servernya para Malaikat yang bertugas. Entah itu nama dan levelnya adalah ilham, fadhilah, ma’unah, karomah, wahyu atau apapun.

Rupanya di kelas 5 SD saya sudah mulai diikutkan kursus. Itu mentornya baru Gus Nur. Bagaimana kalau Gus Rur atau Ning Nur, pasti lain lagi kurikulumnya. Apalagi Yai Sahlan sendiri. Mbah Ud. Mbah Hamid. Imam Lapeo. Syaikhona Kholil. Sayyid Sulaiman hingga Sayyidina Hasan bin Ali. Kemudian Kanjeng Nabi sendiri dan Panembahan Khidlir ‘alaihissalam.

Sedangkan Kakek saya sendiri yang “bukan siapa-siapa” ketika dikeluhi oleh Ibu bahwa adik bungsu saya seayah seibu sangat luar biasa nakalnya sehingga sangat berat mengendalikannya, lantas mengubah namanya dan bilang “Tapi nanti anak ini jadi pendiam”. Anak itu sampai usianya lebih 40 tahun sekarang, sungguh-sungguh sangat pendiam.

وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ

Dan pada sisi Allah-lah kembali segala urusan.

Untung Allah mem-broadcast firman-Nya itu. Saya mengilmui informasi itu. Tetapi pintu gerbangnya adalah iman terhadap Maha Pemberi informasi. Ilmu saya dan semua manusia tidak bisa berdiri sendiri.

Lainnya