Kebon (51)

Dosa Lupa

Foto: Adin (Dok. Progress).

Ada sahabat abadi, teman dunia akhirat, seperti rekan-rekan Dipowinatan, Dinasti, Perdikan, KiaiKanjeng dan pusaran tertentu komunitas Maiyah. Meskipun yang terakhir ini lebih “nggetih” dan “njarem” sedemikian rupa karena ditumbuhkan dengan perjalanan nilai, pengembaraan spiritual dan perjumpaan ideologis. Sampai-sampai masyarakat Maiyah menyebut dirinya “Al-Mutahabbuna Fillah”, orang-orang yang bersaudara tidak karena hubungan darah atau kesamaan profesi apalagi kepentingan politik. Melainkan bersaudara semata-mata karena saling mengikatkan diri di patokan iman dan taqwa kepada Allah.

Ada teman yang bertahun-tahun tetap menjadi teman. Ada teman beberapa saat atau sesaat karena suatu pertemuan temporer. Di antara yang terakhir ini ada yang teman sekilas-sekilas, tetapi ada yang meskipun sekilas namun substansial sejarahnya dan mendalam pengalamannya.

Misalnya, ya Allah kok saya lupa siapa nama sahabat saya yang dulu di tahun 1980 mengantarkan saya selama di Amerika Serikat dengan menyetiri mobilnya dari Muncie City ke Iowa. Juga dari Ithaca ke New York. Yang menemani dari Indianapolis ke Chicago. Berjalan malam di Athen Columbus. Mengantarkan saya ke Toko Buku Loakan di Washington DC dan ketemu sastrawan Mochtar Lubis. Mencari masjid di Hongkong sampai ke Koowloon.

Yang menyediakan rumahnya untuk menginap di Michigan dan di kompleks Cornell University maupun Columbia University tempat kuliah pak Kuntowijoyo. Yang menggembirakan saya selama luntang-luntung antara Iowa dengan Des Moines. Suami istri Dosen sepuh yang saya inapi rumahnya di Ann Arbor dan menemani saya ketika pertama melihat salju turun.

Yang berombongan dengan saya jalan-jalan di Chicago yang mereka dibegal oleh penjambret-penjambret di jalanan dan saya tidak mungkin karena “jeruk tidak makan jeruk”. Yang di Chicago juga menggelandang dengan saya di sisi-sisi preman Airport, bercengkerama dengan anak-anak buah Lech Walesa pemimpin gerakan anti komunis Polandia, yang sibuk membagi-bagi selebaran revolusinya. Kemudian malamnya mengembara di café-café perkampungan hitam tempat musik blues bertebaran sampai hampir pagi. Juga seorang Amerika tua yang setelah jumpa begadang di Jl. Broadway Mahattan saya temani mencari anaknya jauh di Michigan.

Yang mengajari saya main Ski timik-timik di salju, menemani saya ambyur dalam suasana Halloween, menyertai ke pabrik traktor pertanian John Deere dan mencobanya di ladang-ladang jagung. Keamanan Gedung di Iowa City tempat pertunjukan sinden Jazz Ella Fitzgerald yang bisa saya rayu untuk mblusuk masuk sambil bawa tape recorder di balik jaket saya, padahal resmi dilarang merekam pertunjukan.

Atau gelandangan-gelandangan tua di U Bahn stasiun kereta bawah tanah di Berlin, Jerman. Juga para pengungsi antar-Negara dari Afrika sahabat-sahabat kesepian saya di balik tembok-tembok Central Statsioon Amsterdam Belanda, yang kalau saya kelihatan mau pergi dari stasiun mereka merengek-rengek dan menangis “Pleeease don’t go. Pleeease stay with us here”. Ketika itu saya belum punya wacana untuk menjunjukkan bahwa saya pun seperti mereka: refugee peradaban modern.

Sampai-sampai ketika saya dapat tugas wajib dari International Writing Program untuk bikin pentas drama di Festival Iowa, saya pentaskan “kepengungsian” nasib saya itu dengan menggambarkan bias dan kegamangan masyarakat Indonesia di awal-awal datangnya teknologi modern. Di panggung saya lompat ambil bohlam listrik dan saya kremus sebagai bagian dari gegar budaya atau cultural shock Negara Dunia Ketiga. Mata pandangan dan hati serta pikiran penonton Iowa “dislamur” oleh Malaikat sehingga pementasan saya terbaik dari pentas duta bangsa-bangsa lain: Brazil, Irlandia, Palestina, Jepang, Uruguay, dll.

Teman yang menyetiri saya antar kota-kota yang jauh, yang mempertemukan saya dengan orang-orang PKI dari Berlin sampai Vancoover dan Frankfurt yang benderanya Merah Putih persis Indonesia. Kemudian menginap di rumah-rumah di sela sawah-sawah perkampungan Grööne masyarakat pelaku Green Revolution. Termasuk teman yang minta saya kursus Bahasa Indonesia tukar dengan dia mengajari saya Ekonomi Sosialisme dan Kapitalisme.

Teman di Australia yang ringan kaki menggembalakan saya ke toko-toko second hand atau rombengan alias loakan di Sydney, Melbourne, London, Cairo, Amsterdam, Canberra, Perth, bahkan Roma dan Helsinki. Terangkum juga berbagai perjalanan, ragam kunjungan, macam-macam pengalaman yang teman-teman itu menyertai saya.

Terutama ketika bersama KiaiKanjeng keliling kota-kota Netherland selama 19 hari. Ya Allah siapa nama sopir Ibu-Ibu yang canggih di Belanda itu, siapa yang mengantar ke Piramid Mesir yang Pak Ardani tertinggal di Bus karena ketiduran sehingga Pak Sopir mengantarkannya kembali ke penginapan KiaiKanjeng yang jaraknya Solo-Yogya. Siapa Ibu itu yang terheran-heran melihat Pathak warak KiaiKanjeng, lama-lama ikut mengangkut alat-alat musik masuk gedung, berikutnya memotret-motret pertunjukan KiaiKanjeng, akhirnya belajar Bahasa Indonesia dan bertekad akan berkunjung ke negeri romantis ini.

Siapa itu nama Sopir yang mengantar KiaiKanjeng dari Roma ke Teramo, ke Napoli dan balik Roma. Yang tinggi gagah ganteng dan saya tinggali peci Maiyah. Ya Allah betapa banyaknya manusia-manusia mulia, orang-orang baik dan hamba-hamba Allah yang ikhlas menemani KiaiKanjeng di berbagai belahan dunia. Belum lagi teman-teman Jawa Suriname yang belum pernah ke Indonesia tapi bertemperamen dan bermulut Indonesia ketika bercengkerama dengan KiaiKanjeng. “Aku apik, kowe apik. Nek ono sing elek nang kowe, tak pateni”. Ditanya apakah mereka Muslim, menjawab: “Islam itu baik. Baik sekali. Saya tidak mau mengotori Islam. Sebab saya pemabuk…”

Pun sangat banyak sahabat-sahabat sedunia yang saya lupa namanya, tanpa pernah melupakan jasa-jasa dan kemuliaan hati mereka.

Lainnya