Doa: Memuji dan Mengakui Kesalahan Diri

Image by JuiMagicman from Pixabay

Minggu lalu, saya mengalami peristiwa genting yang baru sekali terjadi sepanjang hidup. Ceritanya, pukul setengah tiga dinihari istri saya terbangun dan merintih kesakitan. Tiba-tiba perutnya kaku, manteng, dan sulit bernafas. Keringatnya bercucuran. Mulutnya mengaduh sakit, dan tangan kanannya terus memegangi perut. Saya panik luar biasa.

Dalam posisi telentang, istri saya coba saya dudukkan. Ia masih sambat sesak nafas. Kedua kakinya saya selonjorkan, ia masih mengerang. Bagian ulu hati yang sedari tadi ia pegang, perlahan-lahan saya urut. Dielus dari atas ke bawah, pelan dan berulang-ulang. Tetap tak kunjung reda sakitnya.

Kepanikan saya kian bertambah tatkala anak bayi kami mulai menangis. Apakah dia kehausan, atau turut merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya. Entahlah! Saya raih telepon genggam, dan memberanikan diri untuk menghubungi salah satu rekan yang bekerja di Rumah Sakit.

Puji Tuhan, singkat cerita mobil RS sampai di rumah kami. Dan sang istri segera dilarikan ke IGD. Sendiri. Iya sendiri. Saya tak bisa menemaninya lantaran ada bayi dan kakaknya yang berusia 3 tahun sedang tertidur. Sangat tidak mungkin jika anak-anak dibawa ke RS. Terlalu riskan. Apalagi dinihari.

Saat itulah hati saya berkecamuk. Campur aduk rasanya. Takut, kalut, khawatir, cemas jadi satu. Di satu sisi tak tega karena tak bisa mendampingi istri yang terkulai sakit di RS. Di sisi lain iba menyaksikan si bayi yang ditinggal ibunya.

Dalam situasi kalut, posisi mangku bayi, sembari tangan kiri ngeplek-plek (memukul pelan-pelan bagian pantat) anak pertama yang setengah terjaga, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah ndremimil berdoa.

Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, Lindungilah anak-istri kami. Ya Rahman Ya Rahim, Ampuni dan selamatkanlah kami.

لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.” (Al-Anbiyaa: 87)

Ungkapan di atas adalah doa khusus Nabi Yunus ketika beliau berada di dalam perut hiu. Dan doa tersebut kerap dianjurkan oleh Mbah Nun apabila kita berada dalam situasi sulit sesulit apapun.

Sejak istri dibawa ke IGD, tak henti-hentinya lisan ini merapalkan doa itu. Bersyukur dedek bayi tenang, dan ndak rewel. Sampai satu jam-an kemudian, teman saya mengabari kalau istri sudah mendapatkan perawatan dan boleh langsung dibawa pulang. Alhamdulillaaah. Lega rasanya.

***

Jika kita mentadabburi doa Nabi Yunus yang diabadikan dalam surat Al-Anbiyaa: 87 tersebut, ada dua pernyataan penting di sana. Yang pertama yakni pernyataan pujian kepada Allah Swt. dan yang kedua pernyataan pengakuan diri yang dhalim.

Saat berada di perut ikan, Nabi Yunus memposisikan diri sebagai pihak yang salah dan terancam. Sehingga teknisnya ia memuji Allah dulu, baru kemudian mengakui kesalahan diri. Dengan dua modal (pujian dan pengakuan) itulah akhirnya Nabi Yunus terselamatkan.

Ini menarik. Jika doa yang berisikan pujian dan pengakuan dosa (kesalahan) ala Nabi Yunus ini berlaku di hadapan Allah, rasanya hal demikian juga berlaku dalam hubungan bebrayan dengan sesama. Contoh gampangnya, misal kita punya salah dengan pasangan, maka segera saja kita melontarkan pujian (lewat rayuan) kepadanya berikut mengaku salah dan meminta maaf. Besar kemungkinan kita akan dimaafkan, sehingga terhindar dari prahara.

***

Kembali ke kasus sakitnya istri. Sepulang dari RS, obat resep dari dokter diminumnya. Tak berselang lama istri muntah. Memuntahkan sesuatu (cairan) yang telah menyiksa hebat perutnya. Badannya lemas, tetapi perutnya tak lagi tegang. Ia akhirnya tertidur pulas.

Sebangun tidur, kami saling bertanya dan menganalisis. Apa kira-kira penyebab utama yang membuat perutnya sakit melilit? Dan kami berdua sepakat. Entah lalai, tak sengaja, atau seolah meremehkan, sang istri ternyata memakan sambal yang terdapat di sebungkus nasi kucing yang disantapnya malam hari sebelum kejadian.

Lagi dan lagi kita diingatkan. Sudah tahu perutnya rentan makanan pedas dan kecut, tapi masih abai dan dilanggar. Semakin jelas bahwa sakit itu tidak lain disebabkan oleh kelalaian (kecerobohan) manusia sendiri. Sedangkan kesembuhan dan kesehatan asalnya dari Tuhan. Benar kata dr. Eddot, yang namanya dokter, jamu, obat-obatan, suntikan, itu semua hanya wasilah (perantara/media). Yang sanggup menyembuhkan hanyalah Allah Swt.

***

Peristiwa dinihari yang nyeri dan ngeri itu mengajarkan bahwa doa bukan sekadar urusan permintaan atau permohonan semata. Bukan hanya soal diterima atau ditolak. Dikabulkan atau tidak. Tetapi di dalam doa juga terdapat etika — unggah-ungguh. Seperti halnya doa yang dipanjatkan oleh Baginda Yunus As. Di sana terkandung pujian, pengagungan kepada Allah Ta’ala, yang dibarengi dengan pengakuan dosa dan kesalahan-kesalahan. Seberapa dhalim-kah kita terhadap diri sendiri dan negeri ini?

Tepat di hari kemerdekaan ini, mari kita kobarkan doa-doa tinggi. Semoga lekas pulih ibu pertiwi. Merdeka-lah dari pandemi.

Gemolong, 17 Agustus 2021.

Lainnya