Kebon (38 dari 241)

Digerebeg Dua Truk Tentara

Dok. Progress

Sebelum bertransformasi menjadi KiaiKanjeng, Nevi cs menggarap keseimbangan peran musik dan puisi dalam aransemen-aransemen aneh yang dipentaskan. Pada dasarnya semua lagu yang dikenal luas oleh masyarakat adalah puisi yang dinyanyikan. Bahwa sebagai puisi, kualitas lirik-lirik lagu mayoritas dianggap kurang memenuhi syarat, itu bab lain. Atau ada juga formula di mana puisi dibaca dengan diberi latar belakang bunyi musik lamat-lamat. Musik hanya ilustrasi, fokusnya tetap puisi.

Yang dilakukan oleh Karawitan Dinasti bukan seperti semua itu. Konsep musik-puisi agak berbeda, atau sangat berbeda. Musik dan puisi tampil bergantian atau bersamaan, tetapi tetap dengan menjaga fokus dan kekuatan masing-masing. Musik bukan pelengkap penderita, atau puisi juga bukan pelengkap musik.

Itu formula estetika bunyi dan pementasan yang benar-benar belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Saya mendapat kelegaan atau kepuasan, serta kemantapan, jauh lebih tinggi dibanding kalau saya membaca puisi sendiri tanpa musik. Musik bukan hanya tidak mengganggu bunyi puisi, tetapi bahkan mendukung dan memperkuatnya. Saya takjub sendiri siapa sebenarnya yang merancang nuansa bunyi yang sangat menusuk yang dipancarkan oleh misalnya nomor “Berguru”, “Jakarta Meraung” atau “Main Cinta Model Kwangwung”.

Bahkan di “Nyanyian Gelandangan” saya mendapat ruang untuk bernostalgia: melantun semacam adzan yang dulu saya lakukan dengan “corong seng” manual di atas Imaman Langgar Etan Menturo. Di Masjid Gontor saya juga sering bertugas adzan, tetapi tidak pernah merasa seromantis dan sekhusyuk di Menturo dan Musik-Puisi Dinasti. Sahabat kami di Surabaya, Bambang Sudjijono merasa menemukan sumber nuansa kenapa ia sangat menyayangi saya — sampai-sampai ia menolong nafkah Sabrang dan Ibunya ketika pada tahun 1984-1985 saya terlempar ke Jerman dan Belanda.

Dengan Mas Bambang, Dinasti bahkan sempat punya gawe “Teater Dua Kota”, Yogya dan Surabaya, yang mengangkat naskah “Bui” karya Akhudiat. Pentas “Bui” itu merupakan pengalaman yang “keras” tapi juga sangat mengharukan. Sebab satu dari tiga orang pemain Yogya tiba-tiba mengundurkan diri kecuali saya sebagai EO (event organizer) atau ketika itu disebut PO (project officer) di tahun 1977 itu memenuhi honorarium untuknya, yang jumlahnya sangat di luar jangkauan saya.

Saya mengkomandani pementasan “Bui” tidak dalam rangka berdagang atau mencari apapun, kecuali dituntun oleh semangat berkesenian. Kami bukan hanya tidak punya sponsor untuk pembiayaan, bahkan saya menggadaikan mesin ketik untuk menggelar “Bui” di Art Gallery Senisono ujung selatan Malioboro.

Akhirnya dengan sisa waktu hanya dua hari, saya mencari aktor pengganti, sahabat SMA saya sendiri, Yahya Syarbani, yang berlatih nonstop sampai muntah darah karena tidak beristirahat sama sekali. Alhamdulillah “Bui” berhasil dan selamat digelar di Yogya maupun Surabaya. Gedung Senisono seperti “Ibu” para seniman Yogya, juga bagi kami Dipowinatan dan Dinasti, dengan Bu Suliantoro Sulaiman penanggung jawab Gedung kesenian itu sebagai “pengasuh” kami semua.

Di Senisono pulalah berulang kali dilaksanakan pentas Musik-Puisi Dinasti, sesudah diperdanakan di Cemara Tujuh halaman Balairung Gedung Pusat UGM. Kemudian kelak banyak pentas di Gelanggang Mahasiswa UGM, serta keliling ke berbagai kota.

Ketika diundang oleh Panitia Ramadlan in Campus Masjid Salman ITB Bandung, Kelompok Karawitan Dinasti dihadiahi oleh Tuhan pengalaman yang manis dan mengesankan. Di halaman Masjid itu, dengan ribuan jamaah Bandung, Musik-Puisi Dinasti kami tabuh dan lantunkan. Aslinya saya lupa dan susah melacak kembali kalau untuk keperluan seperti itu dulu saya omong apa saja kepada hadirin, juga saya lupa persisnya nomor musik-puisi apa saja yang kami bawakan.

Yang pasti tidak mungkin saya hadir di panggung dengan segala hal sebagaimana para ustadz atau kiai. Tahun-tahun itu adalah prime-time kekuasaan Orde Baru. Pemerintah, terutama TNI dan Kepolisian over-sensitif terhadap kaum seniman dan aktivis agama. Sebelum tiba di Bandung saja pun mereka sudah berpikiran negatif kepada saya dan kami semua. Apalagi kebiasaan saya di panggung untuk nyeletuk-nyeletuk hal-hal yang bikin gatal dan njarem para penguasa. Sehabis pentas di Senisono di mana saya membawakan puisi “Dokar” yang asosiasinya adalah Golkar, partai paling berkuasa saat itu — saya dikejar-kejar tentara untuk ditangkap. Mereka menguntit dari Senisono ke Patangpuluhan kemudian bergerak ke warung lesehan gudeg di Wirobrajan lewat tengah malam. Tapi alhamdulillah mungkin karena malam telah larut, maka para petugas tidak bisa menemukan saya. Mungkin wajah dan seluruh badan serta pakaian saya berubah menjadi hantu, dan mereka tidak ditugasi untuk menangkap hantu. Demikian juga pernah saya alami di Semarang, Sampang Madura, dan Makassar.

Ketika asyik-asyiknya pentas di halaman Masjid Salman ITB itu, mendadak massa bergolak dan bubar karena ada dua truk bermuatan penuh prajurit TNI datang meringsek. Sebagaimana biasanya, sebelum mereka bertindak, saya turun panggung dan menyongsong menemui Komandan mereka. Massa menjadi tenang karena sepertinya ada dialog. Kemudian kami sepakat pementasan digeser ke dalam Masjid. Saya pun meneruskan dengan massa yang juga langsung memenuhi Masjid untuk menjalankan agenda acara. Tidak ada benturan apa-apa, bahkan tidak ada ketegangan apa-apa. Saya terus bergembira dan tertawa-tawa dengan jamaah di dalam Masjid.

Lainnya