Dies Natalis ITS Adakan Kajian Mushaf Tadabbur Maiyah

Dok. Komunikasi Publik ITS

Mushaf Tadabbur Maiyah kini diperbincangkan di perguruan tinggi. Usai diluncurkan di Malang dua bulan silam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai tuan rumah gayung bersambut ikut mendiskusikan. Rabu malam (22/09) bertempat di Masjid Manarul Ilmi jajaran civitas akademika ITS ikut melingkar. Menyimak paparan Cak Nun, Cak Fuad, dan K.H. Ahmad Musta’in Syafi’i, acara ini sekaligus ditayangkan virtual lewat Zoom dan YouTube.

Rektor ITS, Prof. Mochamad Ashari, mengapresiasi kajian di lembaganya karena merupakan bagian dari serangkaian Dies Natalis ke-61 tahun. Perguruan tinggi yang kerap berurusan dengan segi intelektual, Rektor harapkan seimbang dengan merangkul segi spiritual. Kajian Tadabbur Maiyah Padangmbulan menurutnya mampu mengharmonikan intelektual dan spiritual di lembaganya.

“Dies natalis ini menjadi sarana kita mengevaluasi diri selama setahun. Tidak yang ilmiah-ilmiah, conference, dan yang lain tapi juga spiritual-spiritual. Semoga ITS yang berusia ke-61 tahun ini memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Terima kasih Cak Nun, Cak Fuad, dan Kiai Ahmad Musta’in atas kehadirannya,” ungkap Rektor periode 2019-2024 itu.

Mengawali paparan narasumber, Cak Fuad memulai dengan menuturkan sejarah tadabbur di Maiyah. Menurutnya, peristiwa pengajian Padhangmbulan sejak 1992 memberikan andil dan fondasi utama kajian tadabbur. Embrio Maiyah di Jombang ini sekarang sudah berusia 29 tahun. Semula ia hanya diselenggarakan bagi kalangan terbatas, yakni keluarga dan masyarakat sekitar. Namun, seiring berjalannya waktu, khalayak luas tertarik melingkar bahkan sampai mencapai ribuan orang.

Dok. Komunikasi Publik ITS

“Sejak awal acara ini diberi judul Pengajian Tafsir Padhangmbulan. Pada tahun 1993 sampai 1994 kami juga pernah mendokumentasikan hasil tadabburnya lewat buletin yang waktu itu kamu beri nama Afwaja. Kata ini bukan singkatan tapi diambil dari surah An-Nasr ayat 1-2. Kata afwājā kemudian menginspirasi kami,” jelas Cak Fuad.

Padhangmbulan mengalami transformasi di tahun-tahun berikutnya. Khususnya saat ditandai oleh momentum 1997 tatkala kecamuk politik nasional menyeruak. Itulah sebabnya, Padhangmbulan mulai membincang wacana politik, bahkan menurut Cak Fuad agak dominan. “Lalu tahun 2001 lahir istilah Maiyah yang sejak awal meneguhkan kemandirian dan penguatan kompetensi individu jamaah di daerah masing-masing,” lanjutnya.

Sementara itu, Cak Fuad juga memaparkan posisi dan esensi tadabbur. Beliau mengatakan kalau tadabbur punya makna merenungkan akibat dari sesuatu. Akibat ini karenanya mengamsalkan tadabbur sebagai sesuatu yang keluar dari dubur. “Jadi, tadabbur ayat itu memahami ayat dengan menghubungkan dengan diri sendiri. Tadabbur berarti merespons makna ayat tentu setelah seseorang memahami makna ayat,” ungkap Cak Fuad.

Manakala membincang kedudukan tadabbur maka tak dapat dilepaskan dari takwil maupun tafsir. Ketiganya berpaut erat dengan pemaknaan ayat. Pertama, tafsiran berupaya menjelaskan makna. Kedua, takwil cenderung bertujuan untuk memaknai ayat dengan pemahaman baru dan berpretensi menggantikan pemaknaan asal. Ketiga, tadabbur lebih pada memetik pelajaran dari ayat Al-Qur’an demi kemanfaatan individu maupun sosial.

“Maka tafsir mencakup secara luas. Ada makna ayat dari berbagai segi. Dari kebahasaan, kesastraan, kesejarahan, pengambilan hukum, dan lain sebagainya. Sedangkan takwil menyangkut ayat-ayat yang mustahabiyat yang masih mengandung kemungkinan makna lain,” paparnya lebih lanjut. Pada titik itulah letak pembeda antara tafsir, takwil, dan tadabbur.

Dok. Komunikasi Publik ITS

K.H. Ahmad Musta’in Syafi’i, akrab disapa Pak Ta’in, Kiai Mufasir dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, memperkaya horizon diskusi malam itu dengan membentangkan diskursus Al-Qur’an dalam perspektif internasional. Beliau mengajukan satu pertanyaan yang dinukilnya dari “masyarakat sekuler”. Mereka menggugat apakah Al-Qur’an masih dibutuhkan di tengah dunia yang memakai etika dan rasio saja sudah dianggap cukup memadai.

“Pertanyaan ini tidak mungkin muncul dari kalangan santri tapi dari kalangan orang modern. Jawabannya terserah user-nya. Kalau mau bahagia di dunia saja, maka sangat mungkin bisa tanpa Al-Qur’an. Kalau ingin memproyeksikan dunia dan akhirat maka mutlak pakai Al-Qur’an,” tandasnya. Dari pertanyaan ini Pak Ta’in mengajukan satu gugatan kritis. “Tidak seluruhnya muslim itu islami. Kenapa?”

Berangkat dari hasil penelitian “Islamic Index” yang membuat daftar negara “sekuler” tapi perilakunya sangat “islami” Pak Ta’in mengatakan hasil riset tersebut menjadi cambukan bagi negara berpenduduk mayoritas beragama Islam. “Mengapa Indonesia yang mayoritas Islam dan sehari-hari warna keislaman begitu kuat tapi malah berada di rangking bawah ya karena kita minim tadabbur. Artinya, nilai-nilai Islam diterapkan dalam perilaku sehari-hari,” ujarnya.

Pak Ta’in meyakini bahwa gerakan tadabbur di Maiyah sangat substansial. Sebab tadabbur meniscayakan upaya pengejawantahan Al-Qur’an secara amali. Pun bukan sekadar filsafati. “Maka orang yang bertadabbur itu spiritualnya dan sosialnya juga akan naik dan seimbang. Karena mereka mampu men-download situs Tuhan dari suluk Maiyah yang kemudian rambatan-nya menuju Tuhan,” imbuh dosen di Ma’had Aly Pesantren Tebuireng Jombang itu.

Dok. Komunikasi Publik ITS

Melengkapi sekaligus menjadi puncak acara, Cak Nun merespons kendati kedudukan tadabbur berbeda dengan tafsir dan takwil, sebagaimana disinggung Cak Fuad di awal, beliau cenderung mengambil jalan tengah. “Tafsir dan tadabbur ini tidak boleh dianggap seperti beras dan jagung. Tidak. Tidak mungkin tadabbur dilakukan tanpa kadar tafsir. Masio presentasenya rendah, tetap harus ada fungsi tafsirnya,” tandasnya.

Mufasir, imbuh Cak Nun, mustahil melakukan penafsiran Al-Qur’an tanpa “psikologi maupun jiwa” tadabbur. Beliau menegaskan posisi keduanya bersifat simbiosis mutualisme.

“Tadabbur membuat Al-Qur’an semakin mendekatkan kita kepada Allah. Bahwa kamu bersentuhan sama Al-Qur’an secara akademik atau tidak, itu bukan jadi soal sebab yang terpenting Al-Qur’an itu bagian dari cinta dan dia membuatmu lebih baik. Jadi, tadabbur itu perlu dilihat akibat dari persentuhan kita dengan Al-Qur’an,” pungkasnya.

Lainnya