Dari Kans Ilmu sampai Menyeru Kebajikan

Majelis Ilmu Padhangmbulan Menturo Sumobito Jombang, 19 Desember 2021
Dok. Padhangmbulan

Di mimbar dakwah, buletin, hingga spanduk ungkapan “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar” seakan menjadi jargon. Ucapan imperatif yang berasal dari Al-Qur’an itu dipakai untuk menyeru kebenaran dan memberantas kebatilan. Ada satu pokok yang terlupakan. Dalam majelis ilmu Padhangmbulan tadi malam (19/12) Cak Nun mewedarkan persoalan tersebut lebih lanjut.

“Kan yang sering dibicarakan hanya amar ma’ruf dan nahi mungkar. Padahal lengkapnya ‘waltakum mingkum ummatuy yad’ụna ilal-khairi wa ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulā`ika humul-mufliḥụn’. Ada pokok dakwah khair. Yang pertama ini bersama-sama mengajak kebaikan. Dan pada dasarnya amar adalah perintah maka batasnya harus ma’ruf,” ucap Cak Nun mengutip QS. Ali-‘Imran ayat 104.

Lebih lanjut beliau menganalogikan ma’ruf seperti undang-undang. Sesuatu yang telah dirundingkan serta diarifi bersama. Maka ia diperintahkan atau diterapkan oleh aparatur negara. Sedangkan nahi mungkar, menurutnya, dilakukan bersama oleh rakyat dan pemerintah.

Dengan menjelaskan kedudukan ayat di atas, Cak Nun memberikan perhatian pada persoalan “menyeru kepada kebajikan” yang kerap diabaikan dan condong mereproduksi ungkapan yang dalam terminologi fiqih disebut sebagai Al-Hisbah.

Muasal paparan ini bermula dari pendalaman jawaban atas pertanyaan jamaah. Sebelum itu Cak Nun meminta mereka berdaulat untuk menentukan tema. Usulan tema jamaah merupakan bagian dari sinau bareng yang diharapkan berlangsung dialogis.

Banyak pertanyaan yang dikemukakan jamaah. Seperti bagaimana menyelaraskan hati dan akal. Hati menginginkan takwa tapi pikiran kerap beralasan: perbuatan maksiat akan diampuni Tuhan. Juga menghitung rasa syukur, menikmati syukur, serta meminta penggalian Cak Nun terhadap pitutur luhur berupa urip, urup, dan urap. Lalu soal modernitas membuat degradasi moral. Juga pertanyaan klise namun selalu kontekstual: apa hakikat cinta itu.

Keingintahuan jamaah lumayan besar. Antusiasme mereka semula atas dorongan Cak Nun, “Kans ilmu adalah orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu. Maka pelajarilah yang Anda tidak tahu. Kunci ilmu adalah semangat untuk meneliti dan mendata apa yang belum tahu itu.”

Menurut Cak Nun, menukil konsep Al-Ghazali, terdapat empat lapisan pemahaman seseorang. Pertama, rojulun yadri wa yadri annahu yadri. Seseorang yang tahu dan dia tahu kalau dirinya tahu. Kedua, rojulun yadri wa laa yadri annahu yadri. Orang yang tahu tapi dia tak tahu kalau dirinya tahu. Ketiga, rojulun laa yadri wa yadri annahu laa yadri. Seseorang yang tak tahu dan mengetahui kalau dia tak tahu. Keempat, rojulun laa yadri wa laa yadri annahu laa yadri. Seseorang yang tak tahu dan tak tahu kalau dia tak tahu.

Dok. Padhangmbulan

“Yang jadi masalah orang terakhir ini. Minimal kita yang ketiga. Jangan sampai nomor empat. Karena kata orang Jombang dia disebut sebagai kemeruh,” ujarnya. Paparan Cak Nun tersebut juga mendorong jamaah agar memahami kans terbukanya ilmu. Pertama dan terutama mengetahui kalau dirinya tak tahu. Dengan begitu dia belajar, membuka pintu dialog, menerima informasi. Dari sudut mana pun dan kapan pun.

Cak Nun menambahkan adanya metode sinau bareng membuat perjalanan pemahaman seseorang tumbuh menerus. “Dari tidak weruh menjadi weruh. Dari gak iso menjadi iso. Dari gak gelem jadi gelem,” tambahnya. Persoalan lain yang segera muncul adalah orang yang sudah memahami tapi enggan melaksanakan.

Bagi Cak Nun kecenderungan semacam itu menjadi masalah sertaan berikutnya. Sebab banyak cendekiawan “sekolah” menguasai pengetahuan apa pun, namun tatakala menjabat suatu posisi enggan melakukan. Contohnya banyak. Beliau sedikit menyentil mereka yang semula aktivis periode 60-an, 90-an, bahkan sampai sekarang memiliki pola serupa.

Populer