Wisdom of Maiyah (76)

Dapur-Dapur Sunyi

Sebelum kenal Maiyah hidup saya rasanya masih mentah, tiga tahun silam pertama saya ikut Maiyah berlokasi di Cepu-Blora. Tidak tahu kenapa tiba-tiba hati saya tegerak tanpa paksaan, murni, ikut berMaiyah. Padahal saat itu cuaca mendung dan curah Hujan pun turun. Mengapa hati saya tidak bergumam “Turu lak penak, lapo melu Maiyahan bereng”.

Mungkin Allah mulai memasak diri saya yang asalnya mentah diubah melalui Mbah Nun menjadi matang. Padahal pulangnya hujan malah sangat deras. Lirih hatiku berkata, “Duh nek udane nerus aku gak iso kerjo sesuk”. Keadaan pun tidak membawa mantel akhirnya masih gerimis-gerimis saya terabas, lalu di pertengahan jalan hujannya reda hingga sampai di rumah.

Bi Barkah Allah, Rasulullah, dan pandungone Mbah Nun beserta dulur-dulur Maiyah. Yang memasak diri saya dalam dapur-dapur sunyi. Sehingga saya pun benar-benar berjalan menjadi manusia yang Mutahabbina Fillah.

Lainnya