Cowong di Hari Bahagia

Padhangmbulan, Agustus 2019.
Dok. Progress.

Malam menjelang 27 Mei, saya WA Cak Zakki, bertanya apakah ada poster resmi dari Progress untuk #68tahunCakNun mengingat esok harinya adalah hari istimewa bagi Masyarakat Maiyah. Cak Zakki menjawab “tidak ada, sengaja tidak bikin, supaya tidak trending di twitter”. Entah apa yang membuat Cak Zakki membuat kebijakan tersebut. Saya tidak berani bertanya lebih jauh, mengiyakan saja. “Kalau JM atau Simpul membuat poster sendiri dipersilakan”, lanjut beliau. Kembali saya mengiyakan instruksi Cak Zakki.

Selang beberapa menit, Cak Zakki menyusuli WA mengabarkan bahwa Yai Muzammil sakit dan dibawa ke RS PKU. Saya sempat makdeg, karena beberapa hari lalu ada teman sempat meminta kontak beliau untuk mengundang Yai Muzammil mengisi acara di yayasan yang ia naungi, belum senggang saya menyapa Yai Muzammil, ternyata beliau sedang diuji dengan sakit.

Malam itu, saya menyimak melalui channel Youtube Padhangmbulan, Mbah Nun menyampaikan secara live bahwa padhangmbulan penuh dengan kejutan. kehadiran Mr. Greey sarimbit dan Hyang Weldo di Menturo merupakan kejutan dan hadiah tersendiri bagi jamaah Maiyah untuk mengecap ilmu dan pengalaman hidup dari para tamu ini.

Kemesraan demi kemesraan hadir di setiap momen Maiyahan, begitu juga di Padhangmbulan, meskipun hanya bisa menyimak lewat daring, tapi sangat terasa kesejukannya. Seperti menemukan mata air di padang tandus.

Namun malam itu tetap saja ada yang kurang. Kelakar beraksen madura yang hangat dan segar dari Yai Muzammil yang bisa dibilang hampir rutin menemani Mbah Nun setiap Padhangmbulan harus ikhlas kita skip karena beliau sedang sakit.

Pagi harinya, 27 Mei, hari yang dinanti-nanti penuh kebahagiaan, hari yang menyejukan serta mengharubahagiakan ketika membaca timeline twitter yang dipenuhi tagar memperingati hari kelahiran Guru kami yaitu Maulana Muhammad Ainun Nadjib, pagi itu menjadi muram dirundung duka, tagar #maiyahberduka kembali memenuhi timeline. Kering, hampa, dan cowong manazmendengar kabar duka, Yai kita semua, Yai Muzammil pulang ke huma sejati. Allah begitu sayang pada Yai Muzammil, sehingga beliau diutus oleh-Nya untuk buru-buru pulang.

Rasa kehilangan begitu akrab dengan jamaah Maiyah dalam satu tahun belakangan, setelah Syeh Nursamad Kamba, Bunda Camana, Umbu Landu Paranggi, dan kini kita semua harus menelan kehilangan guru yang begitu baik dan terkenal dekat dengan Jamaah, Yai Muzammil. Satu tahun yang begitu berat. Kondisi yang mengharuskan kita “bekerja” lebih ekstra, baik dari segi tenaga, pikiran, juga rasa kehilangan yang mungkin tidak kita sangka dari mana datangnya kabar duka.

Mungkin ini jawaban, mengapa tidak ada trending #68tahunCakNun di twitter seperti tahun-tahun sebelumnya, karena kita semua diminta untuk melanjutkan “puasa” menundukkan kepala, menyusuri jalan yang benar-benar sunyi. Sunyi karena di saat kita masih membutuhkan bimbingan dari para Marja’ Maiyah, kita ditempa harus tangguh dan lebih tangguh lagi menyelami ilmu-ilmu tanpa tuntunan langsung dari beliau-beliau. Tetapi substansi dari kesunyian ini adalah tafakur, bagaimana kita semua melanjutkan perjuangan-perjuangan mereka.

Selamat Jalan Yai Muzammil, selamat berkumpul dengan para kekasih-Nya. Saya bersaksi, Njenengan orang baik. Sangat baik.

Selamat Ulang Tahun Bapak Guru, Maulana Muhammad Ainun Nadjib, saya bersyukur dan sangat yakin bahwa Bapak akan mengakui bahwa saya satu dari ribuan anak cucu Bapak yang Bapak kasihi. Tidak ada dari kami yang meragukan kasih sayang Bapak pada kami.

Semoga Allah melimpahkan kesehatan, juga kasih sayang-Nya pada Bapak.

30 Mei 2021

Lainnya