Cita-Cita dan Ketentuan Yang Maha Menentukan

Image by Peggy und Marco Lachmann-Anke from Pixabay

Setiap insan atau manusia mempunyai cita-cita. Atau setidaknya punya angan-angan. Dengan cita-cita, setiap manusia bisa memfokuskan diri untuk meraih cita-citanya tersebut. Tetapi, cita-cita tetap saja merupakan keinginan, angan, atau harapan manusia. Keputusan orang ini mau jadi apa atau mau bagaimana, tetaplah Allah yang mempunyai hak prerogratif untuk menentukannya. Allah punya rencana, Allah yang akan memelihara rencana itu.

Yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2).

Begitu pula dengan pengalaman saya. Apalah saya bercita-cita jadi seorang dokter? Ternyata, tak sedikit pun terbersit pada benak dan pikiran ini bahwa saya bercita-cita menjadi seorang dokter. Jiwa advonturir dan ada sedikit seni membuat saya tak pernah bercita-cita menjadi seorang dokter.

Pada waktu penjurusan di SMA pun hampir saja saya masuk ke kelas bahasa. Pada zaman SMA dulu di SMA saya ada jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Nah syaratnya dibuka kelas bahasa kalau minimal ada 8 murid. Saat itu sudah ada 6 orang yang terdaftar di kelas bahasa. Saya minta izin Bapak saya apakah saya direstui kalau masuk kelas bahasa. Bapak sih setuja – setuju saja, karena beliau juga bergelut di bidang sastra Indonesia, sebagai guru.

Masa kecil saya waktu sekolah di SD dan SMP, saya akrab dengan bacaan sastra. Sebut saja karya-karya Hamka seperti: Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, kemudian saya baca juga karya AA Navis: Robohnya Surau Kami, atau karya-karya besar dari Sutan Takdir Alisyahbana dengan karya monumentalnya ‘Layar terkembang’, NH Dini – Pada Sbuah Kapal dan Aman Datuk Madjoindo dengan karyanya Si Doel Anak betawi. Karya sastrawan angkatan 45 seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, dan lainnya juga saya baca. Ada juga karya-karya Karl May: Winnetou, Ketua Suku Apache, Old Shatterhand, Kara Ben Nemsi, Petualangan di Kurdistan, dll. Itulah yang yang mengilhami saya untuk masuk ke kelas Bahasa/Budaya.

Saya berniat pada waktu itu, kalau ada satu murid pendaftar lagi di kelas bahasa (berarti 7 pendaftar), maka saya akan nggenepi menjadi 8. Dan akan dibuka kelas bahasa/budaya. Sayang pada batas waktu berakhir untuk kelas bahasa, murid terdaftar tetap 6. Jadi andaikata saya mendaftar menjadi murid ke-7, tentu juga tidak akan dibuka kelas itu, karena tidak memenuhi jumlah minimal. Jadilah saya masuk ke kelas IPA.

Walaupun tidak pinter-pinter amat, saya berhasil membuang angka ‘6’ di ijazah SMA saya. Nilai-nilai berkisar antara 7, 8, dan 9 di mata pelajaran. Dan saya membuktikan bakat saya di bidang bahasa dengan nilai 9 di bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Sesudah kelulusan SMA, teman-teman saya pada sibuk mencari bimbingan tes, dengan ekstra bayar tentunya. Saya menyadari kemampuan bapak saya, seorang Oemar Bakri dengan tanggungan 5 anak tentu akan berat bila harus mengeluarkan biaya ekstra untuk bimbingan tes. Maka saya jalani persiapan tes masuk dengan belajar mandiri. Belajar dari soal-soal yang ada.

Ada beberapa tahapan sebelum kita bisa tes. Saya hanya mendaftar di satu universitas yaitu UGM.

Sebenarnya saya juga dibekali uang untuk mendaftar di satu perguruan yang lain, yaitu di UPN, bila saya luput di penerimaan UGM. Pilihan saya di UPN adalah Teknik Perminyakan.

Dari keinginan dan hobi saya, saya mempunyai keinginan atau cita-cita menjadi seorang insinyur di bidang teknik elektronika. Sejak SD dan SMP, saya suka dan senang dengan elektronika ini. Di SMP saya juga ambil kegiatan ekstra kurikuler elektronika, bahkan bikin-bikin radio komunikasi dengan antenna long-wire yang membentang dari pucuk wuwungan rumah ke ujung pohon kluwih di ujung sawah. Waktu itu sangat bahagia bisa berkomunikasi dengan kawan amatir di Surabaya dan Balikpapan. Dan hobi ini masih berlangsung hingga saat ini.

Proses pertama seleksi di perguruan tinggi pada waktu itu adalah dengan mengambil formulir pendaftaran di dekat Bunderan Bulaksumur. Kalau tak salah ingat waktu itu membayar Rp 12.500,-. Beberapa kali sistem penerimaan di Perguruan Tinggi mengalami metamorfosis. Pada waktu itu sistem penerimaan mahasiswa baru bernama Perintis I dan perintis II. Kemudian berganti dengan Sipenmaru terus ganti lagi UMPTN dan ganti lagi sampai sekarang saya tak begitu mengerti.

Dalam pengisian formulir pendaftaran kita diberi 2 pilihan. Sebenanya saya mempunyai pilihan pertama yaitu Teknik Elektro ITB. Tapi sewaktu saya menyampaikan ingin kuliah di Bandung, bapak saya hanya bilang: ‘mbok sekolah kuwi rasah adoh adoh.’ (Kalau mau sekolah nggak usah jauh-jauh).

Saya paham betul, sebenarnya bukan masalah jarak yang jauh, tetapi sejumlah uang yang harus dikeluarkan Bapak, kalau saya harus sekolah di Bandung. Bapak mempunyai tanggungan yang tidak sedikit. Bahkan untuk menambah penghasilan, Bapak membuat buku ajar ‘Bahasa Indonesia’ untuk dijual di kalangan terbatas. Dibikin manual dengan mesin ketik manual, diketik di atas kertas stensil dan kemudian dicetak stensil dan dijilid. Itulah salah satu perjuangan almarhum bapak saya dalam rangka memenuhi kebutuhan kami. Maka saya pilih Teknik Elektro UGM sebagai pilihan pertama dan Pertanian sebagai pilihan ke dua.

Saya sangat mantab dengan kedua pilihan tersebut, sampai pada malam hari sebelum formulir dikembalikan di gedung administrasi UGM (BPA- di Sekip), saya melihat satu acara di TVRI (satu-satunya televisi dan masih hitam putih).

Acara yang saya tonton semacam reality show yang menampilkan 9 orang dokter muda yang baru lulus dan oleh pemerintah ditawari untuk membaktikan diri mereka ke daerah di luar Jawa. Setelah berdiskusi di antara mereka, 8 orang tidak mau bekerja ke luar Jawa, dan 1 orang saja yang mau, dan itu satu-satunya wanita diantar 9 dokter yang baru lulus tersebut. Sampai di situ saja saya menontonnya. Kemudian saya pergi tidur. Tetapi ada yang mengusik benak dan jiwa saya. Jiwa petualang! Dari tayangan televisi tersebut tersisa pertanyaan ‘barangkali profesi dokter menarik juga…!

Sampai esok paginya saya harus mengembalikan formulir ke gedung BPA di sekip. Mantab dengan kedua pilihan saya tersebut saya masuk gedung BPA. Sambil antre untuk numpuk formulir, saya ketemu dengan teman SMA, Indera Istiadi, teman-teman memanggilnya Indro. Sambil ngobrol ringan saya tanya, “Ndro, kowe milih opo?” (Ndro Kamu milih (fakultas) apa?).

“Kedokteran karo Pertanian.”

Thuinggggg… entah kenapa saya lalu teringat acara TV semalam. Sontak saya bilang Indro, “Ndro, njilih setip (penghapus)’ (Ndro pinjem penghapus)”.

Loh ngopo, Ed? (kenapa Ed?)

Arep ngganti pilihan…,” jawab saya.

Begitulah pada akhirnya saya menjadi seorang pediatric oncologist, dokter yang bekerja di bidang kelainan/penyakit darah dan kanker anak. Sampai sekarang!

Hingga sekarang saya tak habis pikir, dan tak mengerti secara nalar, bagaimana Allah ‘membelokkan cita cita dan rencana’ seorang manusia. Cita-cita yang saya bangun dan saya impikan bertahun-tahun, seketika hilang dengan pertemuan dengan Indro (yang sekarang jadi spesialis THT) dan tayangan TV sebagai awalannya.

Cita-cita adalah cita-cita, tetapi seberapa kuat cita-cita yang kita punya, seberapa ampuh usaha kita, tetaplah kita harus menyerahkan sepenuhnya kepada sang Maha Penentu. Do’a dan restu dari orang tua tak kalah pentingnya. Tanpa restu dari orang tua–terutama ibu–pasti hidup kita tidak mulus!

Atau profesi yang saya jalani saat ini adalah do’a dari ibu saya? Saya bahkan tak pernah bercerita tentang cita-cita saya ke ibu saya. Barangkali beliau mempunyai doa khusus untuk saya semasa hidupnya.

Wallahu a‘lam.

Lainnya