Cinta Ilahi Mengejawantah dalam Puisi Cak Nun

Jurnal

Seberapa mendalam wacana cinta seorang hamba kepada Tuhan terartikulasikan ke dalam sajak-sajak Emha Ainun Nadjib. Ekspresi dan konstruk cinta macam apa yang diwakilkan oleh pilihan kata di dalamnya. Bagaimana bentuk perbandingan atas posisi puisi sufistik Cak Nun dengan langgam stanza Hamzah Fansuri dan Ibnu Arabi, meskipun tentu saja kedua sosok ini terpisahkan jarak sejarah, latar budaya, serta usia tapi dianggap memiliki kekhasan divine love (cinta ilahi) dalam puisi-puisi ketiganya.

Pertanyaan demi pertanyaan itu ditelusuri oleh Muhammad Luthfi dalam artikel ilmiahnya berjudul Divine Love in Ibn Arabi, Hamzah Fansuri, and Emha Ainun Nadjib’s Poem (2020) 1. Kajian Luthfi merupakan ranah sastra bandingan yang mengasumsikan konsepsi cinta dalam puisi sufistik mempunyai idiosinkrasi satu sama lain meski sama-sama mengobjekkan Tuhan. Ibnu Arabi dianggap mewakili tradisi sufisme Timur Tengah, sedangkan Hamzah Fansuri dan Cak Nun merepresentasikan tasawuf Nusantara.

Ketiga tokoh ini dinilai Luthfi memiliki titik persinggungan dalam merefleksikan eksistensi Tuhan pada tiap sajaknya. Namun, pendeskripsian hubungan antara sang penyair dan kedudukan Tuhan dalam puisi-puisi mereka prakstis berbeda. Pertama, Cak Nun cenderung mengejawantahkan cinta ilahi dalam bentuk posisi Tuhan sebagai Sang Pencipta (khalik).

Sementara kedua, sajak-sajak Hamzah Fansuri, lebih netral dengan tidak menyebut Tuhan atau figur tertentu. Ia memilih membincangkan Tuhan sebagai mahbub atau “yang dicintai, dikasihi, atau disukai” (the lover). Berbeda dengan Fansuri, poin ketiga, Ibnu Arabi memilih kata isyqu atau cinta buta. Kecenderungan nuansa diksi tersebut membentuk pola dialogis di antara dua orang.

Menurut Luthfi, seorang sufi acap menyebut cinta bukan sebagai ekspresi sepasang kekasih antara manusia, melainkan sebagai penggembaraan spiritual menuju Tuhan. Cinta dalam pengertian ini menempatkan posisinya pada aras hakikat, yang mendudukannya sebagai esensi atas keberadaan alam semesta. “… without love, the universe will never have existed” (hlm. 3620) 2.

Dalam puisi Cak Nun, telisik Luthfi, cinta ilahi tidak menampilkan bentuk dalam majas, tetapi cenderung ungkapan personal sang penyair kepada Tuhan secara langsung. Ekspresi ini merupakan bentuk keintiman antara hamba kepada Sang Pencipta. Meskipun demikian, proses menuju Yang Maha tidak mudah, bahkan menyakitkan. Namun, tetap saja upaya meraih itu merupakan bentuk kemesraan yang privat dan tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Sudah nyawiji.

Terbaring 3

Kepadamu
Asal muasalku

Apa kau tunggui saja hingga matiku
Dalam sakit sepedih ini

Sudah jelas luka takkan usai
Karena tempat tinggalnya di rohani

Engkau yang membelah diri kepadaku
Lihatlah penat aku terbaring menangisimu

Sudah lama tak bisa kutahan cinta kesumatku
Sembahyang diiris-iris sembilu

Luthfi menerjemahkan puisi di atas ke dalam bahasa Inggris yang ia kasih judul Lying Down: //To you // My origin // Do you wait until my death? // In this pain // It’s clear the wound won’t end // Because his place of residence is spiritual // You who divide yourself to me // Look at my stylist, lying crying you // I can’t hold back my beloved love for a long time // Prayers that are sliced into slices //

Terlepas dari hasil terjemahan di atas, Luthfi berpendapat bahwa posisi “aku” dalam penggalan “Engkau yang membelah diri kepadaku” atau “You who divide youself to me” menunjukkan konsepsi tasawuf yang disebut wahdatu’s-syuhûd (hlm. 3627). Puisi itu juga memperlihatkan cinta ilahi melampaui rasa sakit. Di satu pihak ia “pedih” yang harus diterima secara lapang dada, sementara di pihak lain memberikan kenikmatan.

Cinta ilahi antara hamba kepada Tuhan seakan-akan paradoksal bila dipandang dari sudut pandang kasatmata. Tapi tidak bagi mereka di jalan tasawuf yang telah menyatukan “aku” dan “Dia” sebagai entitas tunggal — setidaknya terlihat dari segi kesadaran.

Puisi-puisi Cak Nun mendefinisikan cinta ilahi sebagai sesuatu yang bukan unilateral (sepihak), melainkan resiprokal antara kedua belah pihak. Luthfi menilai bahwa posisi tersebut tidak ditemukan dalam karya-karya Ibnu Arabi ataupun Hamzah Fansuri. Misalnya, terlihat dalam kutipan berikut.

Jangan Tolak Mabukku 4

Cintamu yang panas telah membuat tubuhku berkeringatkan rindu yang tak habis-habisnya menetes
Cintamu menyabet sukma, menerbangkanku jauh ke sebuah jagat asing tak kutahu namanya

Frasa “berkeringatkan rindu tak habis-habisnya menetes” ini menegaskan suatu ketidakterbatasan yang mustahil dimungkinkan oleh relasi cinta antara sesama manusia. Ia hanya berlaku bagi cinta yang abadi. Cinta yang tak terinterupsi oleh ruang dan waktu. Sedangkan bagi manusia, cinta niscaya terbatas. 

Efek cinta semacam ini “menerbangkanku jauh ke sebuah jagat asing tak kutahu namanya” yang segala penamaan tempat tidak lagi penting. Ia bisa berada nun jauh di sana tapi tidak berarti di luar individu manusia. Ia sangat mungkin ditafsirkan sebagai jagat cilik, yakni dalam ceruk-ruang kedirian manusia itu sendiri. Tempat di mana sukma bertemu sang empu kehidupan.

Puisi-puisi Cak Nun, pendek kata, mengartikulasikan konsepsi cinta ilahi yang dalam temuan Luthfi sarat nilai-nilai sufistik. Tidak berarti Cak Nun berpretensi menulis dengan penggolongan demikian, namun langgam sajak-sajaknya telah memasuki wacana tasawuf, sebagaimana sudah disinggung di awal seputar batas-batas definitifnya.

Tuhan dalam puisi Cak Nun dicitrakan sebagai konsepsi cinta sang khalik. Luthfi mencatat, “Because of His desire to be known and loved, He created man with His love” (hlm. 3628). Atas dasar itu, Cak Nun seperti mengajak dialog kepada Tuhannya melalui sajak-sajak. Dialog itu bisa berupa percakapan imajiner antara aku-di sini dan aku-di sana. Dapat pula ia diekspresikan lewat monolog, semacam gumaman yang mesra, eksklusif, serta personal.

Luthfi menyimpulkan di satu sisi puisi-puisi Cak Nun mempunyai kesamaan dengan Ibnu Arabi maupun Hamzah Fansuri. Namun, di sisi lain ada perbedaan, khususnya respons-aktif seorang penyair terhadap Tuhan yang terejawantah secara langsung.

Sebagai pengalaman spiritual tiap penyair, lanjut Luthfi, puisi-puisi yang diperbandingan terhadirkan secara berlainan karena dipengaruhi oleh latar belakang budaya masing-masing. Lokus kultural dan sosial membentuk refleksi tiap pemikiran maupun pengkaryaan mereka berbeda tapi tetap mengacu pada objek yang sama: Tuhan 5.

Permasalahan yang segera muncul, apakah puisi tanpa menyebutkan kata Tuhan tidak dapat disebut sebagai karya spiritual? Sejauh mana puisi dapat dikatakan memenuhi prinsip atas definisi spiritualias atau religiositas? Di luar puisi-puisi Cak Nun di atas yang eksplisit menyebut Tuhan dan dikatakan Luthfi merupakan representasi cinta ilahi, apakah sajak-sajaknya yang lain tidak dapat memenuhi prinsip sufisik hanya karena absen kata Tuhan?

Apakah puisi-puisi bersuluk tasawuf selalu melulu berhubungan erat dengan relasi eksklusif antara Tuhan dan manusia, sementara puisi-puisi bernuansa alam, gugatan sosial, sampai perkara sehari-hari tanpa kata Tuhan disebut puisi non-tasawuf? Bagaimana membaca penggalan bait puisi Cak Nun berikut:

Syair Satu Penafsiran 6


Apakah kebenaran?
Ialah kata kekuasaan
Apakah keadilan?
Ialah sabda atasan
Apakah keseimbangan
Kesamarataan
Kemajuan
Perkembangan
Peningkatan
Kebijaksanaan

Tergantung surat keputusan
1983

Apa yang tidak “ilahiah” dari puisi di atas?

Lainnya