Kebon (166)

Ceramah-Ceramah yang Memalukan

Dok. Progress

Jadi anak-cucuku Jamaah Maiyah mohon dengan sangat jangan pernah menyangka bahwa Simbah akan pernah membusungkan dada, merasa pandai dan hebat, mempengaruhi kalian agar menyangka Simbah adalah seorang Waliyullah yang punya karomah-karomah, meskipun kalian sering menjumpai hal-hal yang rasional untuk dipersangkakan sebagai semacam karomah. Tetapi kalian memiliki landasan logic Maiyah yang jelas dan jernih: bahwa jangankan Simbah, bahkan jangankan wali sungguhan, sedangkan para Rasul dan Nabi pun pada hakikatnya hanyalah sebatas manusia yang diRasulkan dan diNabikan oleh Allah Swt.

“Saya pernah bermimpi bertemu mbah Nun, saat itu dada saya sakit. Dalam mimpi itu mbah Nun memijat-mijat punggung belakang saya dengan ditekan, alhamdulillah bangun saat tidur hilang rasa nyeri nya.

Yang mimpi kedua saat istri saya mau melahirkan, mbah Nun berpesan kepada saya lewat mimpi untuk menamai anak laki-laki saya dengan nama Kuik (Quick). Saya coba browsing arti nama itu “cepat”. Tapi saya berpikir apa iya nama anak saya “quik”. Setelah saya pikir-pikir lagi dan pertimbangkan lagi akhirnya setelah lahir anak saya beri nama “Najeeb Abdurrahman”. Maaf ada unsur nama mbah Nun-nya. Kemudian setelah anak saya berusia 1 tahun 10 bulan anak saya meninggal dunia karena sakit.

Baru saya paham, ternyata Mbah Nun kasih nama “Quick” itu maksudnya anak saya cepat kembali ke pangkuan Alloh swt…”

“Saya bermimpi ketemu mbah Nun. Saya masih ingat betul itu saat 8 bulan usia pernikahan saya sejak pertengahan Mei 1994, belum juga ada tanda-tanda istri saya berbadan dua. Sebetulnya waktu 8 bulan itu masihlah belum apa-apa dibandingkan teman-teman lain ada yg menunggu sampai hitungan tahun. Tapi maklumlah saya hidup di kampung, apalagi mertua sudah sangat mendambakan kelahiran cucu yg pertama.

Di tengah situasi itulah malam hari saat saya bertugas diluar kota, saya mimpi bertemu Mbah Nun dengan bekaos oblong warna hitam dengan senyum khas beliau, menyodorkan kepada saya seorang bayi dengan berbungkus selimut. Saya terperangah bangun karena pada saat yg samaistri saya telpon berkeluh kesah bahwa periksa yg terakhir ke Dokter di Lab hasilnya masih negatif. Spontan saya jawab: “Sudahlah Diajeng sabar. Insya Alloh sampean hamil. Segera periksa ulang ya”. Alhamdulillah sore harinya istri saya mengabari kehamilannya.

Dan tak hanya berhenti disitu. Proses kelahirannya sampai ia menempuh jenjang pendidikan anak lanang saya yg pertama ini semua lancar adanya. Bahkan saat test di PTN dia direrima di Tekhnik Sipil PTN ternama di Surabaya. Dia juga diterima di STAN Jakarta. Akhirnya dengan pertimbangan ingin langsung kerja ia memilih STAN dengan memilih jurusan Akuntansi. Sekarang usia.saya.sudah setengah abad. Rasa Syukur hamba tak terkira ya Robbi. Engkau pertandai lewat Mbah Nun, sehingga anak lanang pertama saya sudah bisa mandiri. Sekarang dia berjuang beramal saleh diKemenkeu. Tetap istiqomah ya anakku. Semoga Alloh melalui para MalikatNYA selalu menjagamu.”

Betepa rasa syukur saya mendengar banyak sekali nuansa seperti itu dari Jamaah Maiyah maupun masyarakat luas. Dan sekali lagi saya teguhkan bahwa saya bukanlah pelaku utama, main subject, dari seluruh peristiwa bahagia itu. Saya tidak mencatat dengan saksama entah berapa ribu nama bayi yang dimintakan namanya kepada saya. Gandhie Tanjung dan administrasi Progress yang punya catatannya. Itu pun pasti tidak seluruhnya. Hanya mulai tahap kesekian ditertibkan dokumentasinya, tetapi tahap-tahap sebelumnya tidak terlacak. Dan itu 100% merupakan kesalahan dan kelalaian saya. Sebagaimana saya juga tidak punya dokumentasi kumpulan teks pidato-pidato Muhadlarah selama saya di Gontor, yang seingat saya sudah memenuhi kuota ketebalan untuk menjadi buku, meskipun belum tentu memenuhi kualitas untuk disosialisasikan.

Saya mulai diminta berbicara kepada publik entah tanggal dan bulan apa tapi saya ingat itu tahun 1972, tatkala saya berusia 19 tahun. Di kampung Jogoyudan, sebelah Kali Code, di seberangnya ada Masjid Syuhada yang terkenal. Kemudian terus-menerus saya diundang kesana kemari. Di berbagai lingkungan dan berbagai keperluan konteks. Kadang keagamaan, kadang keilmuan di kampus-kampus, kadang agak politik di ormas-ormas termasuk organisasi kemahasiswaan seperti HMI, Kohati, PMII atau GMNI.

Dua hal yang saya tidak tidak ingat sekaligus tidak paham. Pertama, apa saja yang omongkan ketika itu ya Allah. Pasti ngawur dan jelek. Tahun 1972 itu saya masuk UGM Fakultas Ekonomi dan 4 bulan kemudian keluar dan berhenti kuliah. Saya tidak punya landasan dan bekal apapun untuk berceramah di depan bermacam-macam kalangan masyarakat. Yang Kedua, atas pertimbangan apa mereka mengundang saya. Semoga tidak ada di antara Anda pembaca tulisan ini yang segenerasi dengan saya, yang waktu itu terlibat panitia yang mengundang saya. Sebab ingatan Anda tentang itu pasti sangat memalukan saya.

Tetapi saya hanya mematuhi jalan hidup saya. Saya hanya mememenuhi permintaan orang, sejak 1972 itu hingga 2021 sekarang ini. Saya tidak pernah meminta, tidak pernah menawarkan diri, tidak pernah mengiklankan diri, tidak pernah menyebarkan pencitraan tentang saya.

قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي
وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي
إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat”.

Andaikan saya seorang saleh alim dan khosyi’, seorang intelekttual jenius, seorang tokoh penting dalam sejarah, misalnya sebagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang seluruh ucapan dan pidatonya dihimpun menjadi buku sangat cemerlang “Nahjul Balaghah” — mungkin akan ada yang melacak dan berikhtiar untuk mendokumentasikan ribuan ceramah-ceramah memalukan dari saya itu. Tetapi saya hanya “arèk angon” dari Menturo yang masyarakat dan sejarah Indonesia tidak merugi apa-apa andaikan saya tidak pernah ada.

Lainnya