Silaturahmi Penggiat Simpul Maiyah 12 Juni 2021

Cak Nun Beranjangsana Sehari Wonosobo-Demak

Melanjutkan Silaturahmi Penggiat Maiyah, pekan ini Cak Nun bertolak dari Yogya ke Wonosobo dan Demak. Beliau memastikan ‘anak dan cucunya’ tak berputus asa di tengah pandemi Corona.

Akhir pekan hari Sabtu (12/06) kemarin Cak Nun bertandang ke Wonosobo dan Demak. Menengok “anak dan cucu” kontingen Jawa Tengah, anjangsana ini merupakan acara lanjutan Silaturahmi Penggiat Simpul Maiyah yang telah diawali di Sidoarjo dan Ponorogo pada 28-29 Maret silam. Cak Nun sengaja meluangkan waktu mengunjungi mereka karena setahun belakangan intensitas ketemuan terhambat pandemi Corona.

“Pertemuan simpul ini yang minta saya. Saya minta kepada Zakki untuk ketemu teman-teman simpul. Gek-gek dho putus asa, maka saya ingin rekonfirmasi kepada Anda,” kata Cak Nun di Resto Ongklok, Wonosobo.

Di hadapan tuan rumah SabaMaiya dan penggiat simpul sekitaran lainnya, beliau sekaligus menanyakan apa arti ber-Maiyah, apa satu kata yang dianggap cukup mewakili seseorang dalam memahaminya.

Sejumlah kata diucapkan penggiat. Maiyah diberi makna antara lain senang, nyawiji, presisi, konsistensi, pembangunan, shalawatan, seduluran, ngajeni, unik, dan lain sebagainya. “Tujuan Maiyah itu lalu apa?” tanya Cak Nun menambahkan. Beberapa jawaban serempak mengatakan ruang belajar bersama tanpa sekat dan tepi.

Pertanyaan tersebut Cak Nun tarik ke ranah jalan hidup dan banyak pintu. Ia menerangkan sebuah ilustrasi. “Hidup itu bukan satu ruang dengan banyak kamar. Tapi satu ruang dengan banyak pintu. Tiap orang masuk ke banyak pintu, namun ia masuk ruangan yang sama. Bukan sebaliknya yang sering dipahami orang masuk ruangan yang banyak,” terangnya.

Maiyah adalah salah satu pintu menuju ruang besar di mana setiap orang menjadi satu. Itulah sebabnya, kemenyatuan di Maiyah relevan disebut sebagai nyawiji, sebagaimana dinukil salah seorang penggiat sebelumnya. Di tengah ruangan, tentu perasaan suka dan benci bercampur aduk.

Cak Nun meminta penggiat untuk merinci apa saja yang disukai maupun dibenci selama ini. Sebagian besar jawaban yang disayangi berpusar pada Allah, Kanjeng Nabi, dan keluarga. Sementara kebencian, tiga di antaranya ialah ketamakan, pembodohan, serta kapitalisme.

“Benci itu tidak masalah sebab yang penting jangan sampai kebencianmu sampai kamu berbuat tidak adil. Jangan sampai Maiyah menjelek-jelekkan siapa saja,” pesan Cak Nun.

Ketidakadilan, menurutnya, bukan wajah Maiyah karena ia sesungguhnya merupakan gelombang. “Dengan demikian kita harus bersikap lemah lembut. Walaupun dengan begitu manusia sudah memiliki potensi ‘Maiyah’ di dalam dirinya.”

Di luar pembicaran refleksif, Cak Nun juga menyimak uda rasa sebagian besar penggiat, betapa pandemi menyurutkan kepulan asap dapur masing-masing orang. Omzet menurun. Kontras dengan sebelum pageblug. Bagi penggiat yang berwirausaha, keadaan itu memukul lumbung penghidupan mereka.

Sebulan lebih memutar otak, mencari peluang lain demi menutup besar pasak daripada tiang. Yuli Dwi Ardi, penggiat SabaMaiya, mengatakan usaha Caricanya sepi pembeli. Apalagi Wonosobo adalah kota wisata.

Praktis pandemi Corona turut pula menyusutkan calon konsumennya. “Tapi saya cari cara untuk kegiatan lain. Beberapa bulan setelah sepi jualan itu saya belajar investasi IHSG,” ucapnya.

Belajar investasi, akunya, gampang-gampang susah. Penuh spekulasi dan strategi. Namun, belajar otodidak membuat dirinya semakin mahir. Paling tidak kegiatan itu dapat memberinya keuntungan, menutup defisit yang melanda usaha Carica miliknya.

“Alhamdulillah beberapa bulan terakhir produksi Carica sudah membaik lagi. Ya walau nggak sama persis seperti sebelum pandemi,” imbuh Yuli.

Selain sektor produksi, bidang jasa juga ikut terpukul. Dida Rahmawan, penggiat Maneges Qudroh, mengalami hal serupa. Walaupun begitu, Dida menuturkan malah di masa pandemi teman-teman semakin kreatif.

Di simpulnya beberapa penggiat yang seniman justru tambah giat berkarya. Membuat seni grafis yang kemudian dipasarkan secara daring. “Teman-teman pun juga membantu memasarkan lewat grup-grup dan medsos-medsos,” ujarnya.

Cak Nun meminta penggiat agar jangan lekas berkecil hati. Ia menguraikan bahwa di Maiyah terdapat konsep keuntungan dan rezeki. “Keuntungan itu hasil dari ikhtiar manusia. Kalau rezeki dari Allah seratus persen. Dalam keuntungan ada unsur rezeki. Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan rezeki,” ungkapnya.

Daya kejut yang ditimbulkan virus Corona tak boleh menekuk semangat para penggiat. Risau boleh tapi jangan terlalu lama. Cak Nun juga menegaskan bahwa Covid-19 mengajarkan manusia agar berada di titik tengah.

Antara berani dan waspada. Jangan terlalu takut tapi juga jangan membusungkan dada. Terkait usaha dan rezeki beliau berkomentar, “Selalu ada perjodohan nyambut gawemu dan rezekinya Allah.”

***

Di tempat dan waktu berbeda, pukul 21.00 Cak Nun sudah berada di Aula Madrasah Diniyah Hidayatus Shibyan, Sidorejo, Karangawen, Demak. Serupa dengan kegiatan sebelumnya, kali ini tuan rumahnya Simpul Maiyah Kalijagan Demak.

Laporan tiap penggiat pun memperlihatkan satu benang merah: pandemi berdampak terhadap ekonomi maupun rutinitas bulanan. Namun, serentak mengucapkan, “Maiyah jalan terus dengan menyesuaikan kebiasaan kenormalan baru.”

Malam itu Cak Nun juga ditemani oleh Anis Sholeh Ba’asyin dan Gus Aniq. Selain keduanya turut merespons keadaan penggiat simpul, salah satu poin yang diperbincangkan adalah kedudukan Al-Qur’an sebagai “bahasa Arab plus”.

Lebih lanjut, Cak Nun menerangkan bahwa kendati Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, ia bukan berarti dikhususkan untuk bangsa setempat, melainkan juga berlaku universal dan abadi. “Bahasa Arab ini pun telah diintervensi oleh Allah sendiri. Namanya bahasa Arab plus,” katanya.

Beliau pun menggarisbawahi di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa kata/huruf yang selama ini tidak bisa dipahami atau ditafsirkan dan hanya dikatakan ‘hanya Allah yang mengetahui artinya’. Salah satunya “alif lam mim” yang sampai sekarang terjemahan Al-Qur’an memberinya catatan kaki sebagaimana Cak Nun sampaikan tersebut.

“Untuk apa Allah membuat sesuatu yang Dia sendirilah yang memahami? Kalau tadabbur gampang. Siapa bilang alif lam mim harus kita pahami?” tanyanya.

Pertanyaan itu sebenarnya membawa sedepa pembahasan berikutnya: Allah meminta manusia untuk sekadar mempercayai, terlebih penggalan “alif lam mim” termasuk dimensi gaib menurut Cak Nun. Pun menyikapi Corona yang terkesan gaib, beliau memandang kuncinya terdapat pada sikap presisi.

Sementara itu, Habib Anis cenderung membincang fenomena Maiyah yang telah bertahun-tahun tak kehabisan energi untuk berkumpul dari Isya sampai Subuh. “Kalau saya katakan ini kalau di zaman Kanjeng Nabi ditunjukkan oleh Darul Arqam. Dia dulu embrio masyarakat Madinah. Sama kayak Maiyah, Darul Arqam itu aliran dan bukan pelembagaan. Kalaupun iya itu cair,” wedarnya.

Penjajaran Maiyah dan Darul Arqam, terang Habib Anis, terlihat pada intensitas sinau barengnya. Menurutnya, kalau itu dijaga terus bukan tidak mungkin akan terwujud peradaban baru. “Jadi sanad itu bukan hanya teks ilmu. Dan sanad Maiyah itu dari Darul Arqam,” jelasnya.

Darul Arqam sendiri menurut sejarah kenabian Rasulullah merujuk kepada “rumah pendidikan Islam pertama” yang dipakai Kanjeng Nabi. Kelak dari sana Islam berangsur tersebar ke penjuru dunia.

Lainnya