Mensyukuri 74 Tahun Marja’ Maiyah Cak Fuad

Cak Fuad Ing Ngarso Sung Tulodho

Foto: Adin (Dok. Progress)

Orang Maiyah lekat keberadaannya dengan buku. Kata Erik Supit, memiliki buku Cak Nun itu seperti semacam “KTP” untuk orang masuk Maiyah. Setidaknya ini menandai bahwa Maiyah memang adalah majelis yang diisi oleh orang-orang yang lekat dengan buku, yang mudah-mudahan juga senantiasa lekat dengan ilmu dan pengetahuan.

Kemudian sekarang kita sudah berada di era digital. Yang menjadi tanda pelibatan diri Jamaah Maiyah pun bukan sekadar memiliki buku saja, tetapi menurut saya mestinya sudah meningkat. Yakni minimal ia sudah pernah menulis. Setidak-tidaknya menulis separagraf kesan pengalaman pribadi bergumul dengan nilai Maiyah, syukur-syukur disetorkan ke redaktur Maiyah untuk ditampilkan di rubrik Wisdom of Maiyah.

Menandai momentum milad ke-74 Cak Fuad, Marja’ kita di Maiyah yang amat kita cintai, Saya ingin mengajak pembaca sekalian mensyukuri transformasi Orang Maiyah tersebut, yakni dari generasi pembaca menjadi generasi pemroduksi pengetahuan. Di mana para Marja’ Maiyah ing ngarso sung tulodho memberikan keteladanan kepada kita sepaket dengan memberikan ruang yang seluas-luasnya, untuk masing-masing kita tumbuh menjadi agent of knowledge.

Mass Society, Social Capital, dan Pemroduksi Pengetahuan

Sejak 2017, Mas sabrang menggaungkan sebuah identifikasi bahwa modalitas kita bersama-sama sebagai Jamaah Maiyah adalah social capital. Meskipun kebiasaan yang terbangun adalah kegemaran berkumpul dan berkerumun, tetapi jangan salah mengartikan bahwa yang kita andalkan adalah kekuatan massa belaka.

Sosial Capital di Maiyah adalah kecenderungan dan rasa gembira hidup secara komunal dalam upaya membangun sebuah kecerdasan kolektif (swarm intelegent). Kecerdasan jenis tersebutlah yang apabila terus ditumbuhkan maka berpotensi melahirkan emergent. Baik itu emergent berupa gagasan brilian atau ide solusi atas sebuah problematika yang semua itu lahir secara otentik dan alamiah.

Maka, manajemen sosial capital di Maiyah bukan melalui manajemen massa, melainkan sesederhana mengerjakan dua hal berikut ini: 1) kegembiraan bersilaturahmi, 2) kesediaan untuk mau menjadi (kesadaran subjek).

Konsep social capital yang menjadi modalitas Jamaah Maiyah pun diamini oleh Cak Fuad. Pada kesempatan diskusi “Regenerasi Maiyah” beberapa tahun lalu, Cak Fuad merespons usulan dari salah seorang peserta diskusi mengenai ide ekonomi model koin jamaah.

Pada forum tersebut Cak Fuad mewedar bahwa hendaknya kita tidak perlu mengandalkan kekuatan jumlah massa Jamaah, meskipun praktik serupa dilaksanakan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan. Beliau menjelaskan best case dan worst case dari berbagai ikhtiar kultivasi ekonomi umat seraya menyampaikan bahwa Jamaah Maiyah memiliki karakteristik komunal yang berbeda.

Pada kesempatan tersebut saya amat terpukau, Cak Fuad yang ahli penjaga Bahasa Arab dunia ternyata juga menguasai wawasan ekonomi keumatan yang demikian luas. Termasuk khasanah mengenai model wakaf produktif dan lain sebagainya.

Memasuki masa pandemi, kemudian semakin menegaskan karakter atau watak dari komunalitas Jamaah Maiyah. Ia tidak tergantung pada massa, melainkan terus-menerus konsisten pada kegiatan produksi pengetahuan. Sinau Bareng tetap berlangsung meskipun dengan berbagai alih metode dan alih media.

Produksi pengetahuan tetap berlangsung dengan optimal. Yang mana yang mesti kita syukuri adalah Cak Nun dan Cak Fuad selaku Marja’ Maiyah berada di depan, ing ngarso sung tulodho di dalam kerja-kerja produksi pengetahuan ini.

Di balik layar Zoom Meetings, Cak Fuad demikian prima mengisi berbagai tema kajian keislaman utamanya mengenai tadabbur Al-Qur’an. Beberapa bulan yang lalu di Malang juga baru saja diresmikan Rumah Maiyah Al-Manhal. Praktis rumah tersebut menjadi salah satu simpul kesibukan Beliau membersamai Jamaah.

Rumah Maiyah Al-Manhal ini pulalah yang saat ini tengah menerbitkan Mushaf Padhangmbulan.

Ilmu Kontekstual, Ilmu Kasunyatan

Mushaf Padhangmbulan merupakan Mushaf Al-Qur’an yang dilengkapi dengan tadabbur atas ayat-ayat di dalamnya yang disusun Bersama Cak Nun dan Cak Fuad. Sebagaimana kita tahu, tadabbur Al-Qur’an merupakan sesuatu yang sudah mentradisi di tengah-tengah jamaah Maiyah sejak lama. Di mana masing-masing individu dipantik untuk membangun hubungan khusus tersendiri dengan ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan utilitariannya.

Keberadaan Mushaf Padhangmbulan tidak terputus dari sejarah Panjang ketika awal-awal merintis Majelis ilmu Padhangmbulan seperempat abad yang lalu. Cak Fuad membuat “Tafsir Padhangmbulan”. Yakni sebuah tafsir kontekstual berupa relevansi pertalian yang lekat antara ayat-ayat qauliyah dengan kasunyatan berupa dinamika Jamaah Maiyah, maupun problematika sosial masyarakat yang sedang dihadapi.

Senada dengan yang kerap disampaikan Mas Sabrang, betapa di era over-flood informasi ini kemampuan kita mengkontekskan pengetahuan dengan kasunyatan yang dihadapi adalah kecakapan yang amat penting. Sehingga informasi yang kita serap tidak hanya berhenti menjadi tumpukan pengetahuan, melainkan menjadi ilmu.

Meneladani dan Meruangi

Kecerdasan kolektif di dalam Maiyah yang menjadi modal sosial milik kita bersama tersebut dapat terbangun karena suasana paseduluran yang demikian kondusif. Kemudian yang berikutnya adalah bagaimana masing-masing bersedia mengambil peran. Marja’ Maiyah berperan ing ngarso sung tulodho, lalu jamaah Maiyah berperan berikhtiar meneladani dengan sungguh-sungguh.

Marja’ Maiyah memberikan ruang-ruang produksi pengetahuan, mulai dari adanya rubrik Wisdom of Maiyah misalnya. Lalu, Jamaah Maiyah berperan melatih diri mencatat dan merekam pergumulan pribadinya nilai-nilai Maiyah untuk bisa dijadikan sebuah cerita pengalaman yang bermanfaat jika dibagikan.

Semoga semangat membangun diri menjadi agent of knowledge terus terpelihara.

Selamat Milad ke-74, Cak Fuad.

Lainnya