Bus Kota dan Gua Hira

Dok. Pribadi

Salah satu kenikmatan yang saya temukan ketika merantau di Jerman selama satu dekade adalah mudahnya bepergian ke berbagai penjuru negeri tanpa perlu memiliki kendaraan pribadi.

Tidak heran jika layanan transportasi umum di Jerman dikelola dengan sangat baik karena bagi pemerintah sana, transportasi umum merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang wajib dipenuhi.

Masyarakat Jerman dimanjakan dengan berbagai alternatif bepergian dengan kualitas yang terjamin. Bagi yang membutuhkan kendaraan pribadi, tersedia jalan raya yang mulus, rapi, dan aman. Jika tidak memiliki mobil atau sepeda motor sendiri, tersedia armada bus kota yang siap mengantar hingga dini hari. Sepeda pun di beberapa kota merupakan pilihan favorit warganya karena tersedia jalur sepeda yang sangat memadai.

Masih segar dalam ingatan, dahulu saat smartphone belum ngetrend, saya cukup rajin membuat catatan detail jadwal dan rute bus atau kereta sebelum bepergian. Untungnya pada zaman itu internet sudah lumrah digunakan, sehingga ketika saya membutuhkan informasi rute dari “kos-kosan” di kota Braunschweig menuju toko makanan Indonesia di kota Hamburg, cukup buka situs web pengelola transportasi umum di sana, kemudian masukkan titik asal dan tujuan.

Seketika itu juga muncul informasi bus jalur apa pada jam berapa dan di halte nomor berapa yang harus dinaiki. Jika harus berpindah moda transportasi, tercantum informasi harus pindah ke bus atau kereta yang mana di peron berapa dan berapa lama jeda perpindahannya. Bahkan jarak jalan kaki dan ke arah mana harus berjalan juga diberitahukan.

Tidak sampai di situ, saya juga akan mendapatkan informasi apakah bus, trem atau kereta yang akan dinaiki itu ramah untuk pengguna kursi roda atau tidak. Beberapa tahun berlalu, begitu iPhone dan Android merajai pasar ponsel pintar, semua informasi tadi bisa saya dapatkan tanpa repot-repot ngorek-orek di kertas. Tiket bus dan kereta pun bisa disimpan di dalam ponsel, tanpa perlu dicetak.

Tentu bagi saya yang berstatus mahasiswa perantauan, moda transportasi yang menjadi andalan adalah bus kota dan sepeda. Kota yang saya tinggali memiliki kontur yang cukup datar, dan pemerintah kotanya menyediakan jalur sepeda yang menjangkau hampir setiap sudut kota, sehingga bersepeda ke mana-mana terasa nyaman. Jika harus menggunakan bus, saya cukup menunjukkan kartu mahasiswa tanpa perlu lagi membeli tiket, karena uang semesteran yang dipungut kampus juga dialokasikan untuk biaya transportasi umum dalam kota.

Di balik berbagai kemudahan di atas, ternyata ada kenikmatan lain yang saya temukan. Saya kebetulan dianugerahi kepala yang cukup mudah pusing jika membaca sesuatu ketika berada di dalam mobil; sedikit lebih mendingan ketika berada di dalam kereta. Sehingga saya amat jarang melihat layar ponsel dalam jangka waktu lama ketika bepergian dengan bus di Jerman, paling mentok membaca pesan masuk dan mendengarkan lagu atau rekaman guyonan Pak Basiyo CS.

Maka ketika perjalanan memakan waktu cukup lama, hal yang biasa saya lakukan adalah merenung. Begitu menemui situasi yang kondusif di dalam bus, saya mencoba untuk mengobservasi banyak hal. Betapa nikmatnya duduk di pojok, bersandar pada jendela bus menatap ke luar, dengan pose bertopang dagu, sembari mencerna apa yang terjadi di sekitar dan membawanya ke alam pikiran.

Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak, tetapi juga banyak hipotesis dan analisis yang turut mengiringi, walaupun harus jujur diakui, sebagian besar mungkin banyak ngawurnya. Tema renungan bisa silih berganti, mulai dari perkara anak-anak TK yang tertib antre hingga urusan keimanan orang Jerman, dan terkadang tema juga bisa berubah mengikuti rute bus. Pokoknya ndherek saja adegan atau fenomena apa yang disuguhkan di setiap rute dan pemberhentian yang dilalui.

Sekali waktu ada adegan anak muda yang memberikan tempat duduknya kepada seorang kakek, di lain waktu tampak seorang abg yang kakinya nangkring di atas tempat duduk di hadapannya. Pernah juga menyaksikan razia tiket dadakan oleh petugas berpakaian sipil yang biasa terjadi di awal bulan, yang kadang membuat beberapa orang panik. Di sisi luar jendela bus tak jarang terlihat para “ahli hisab” yang berkerumun di area merokok dekat halte, lengkap dengan bekas puntung rokok yang tercecer. Juga fenomena orang menyeberang jalan tidak pada tempatnya, satu dua masihlah dapat ditemui di sana.

Entah mengapa, renungan-renungan tadi sering berujung pada Indonesia. Kadang timbul pertanyaan mengapa Indonesia begini begitu, dibarengi rasa heran, kok bisa Jerman begini begitu. Malah beberapa kali saya sok-sokan dan pede mencoba memformulasikan solusi untuk keruwetan yang ada di Jogja, kota kelahiran saya.

Tetapi sebenarnya seru juga jika membayangkan Kridosono bisa sehijau Prinz-Albrecht Park, Selokan Mataram bisa seteduh Königsallee, Jalan Kaliurang bisa serapi Mönckebergstrasse, Stasiun Tugu bisa seramai Hannover Hauptbahnhof. Jogja seakan tampak begitu lebih ndemenakke, dalam angan-angan yang terlahir dari sebuah kursi di dalam bus yang bagi saya kala itu adalah tempat “menyendiri”. Gua Hira versi saya yang berbentuk kursi bus ini sudah pasti tidak sesakral dan seteduh yang biasa dikunjungi Kanjeng Nabi, lha saya juga bukan siapa-siapa, terlebih lagi kebiasaan merenung tadi juga muncul karena kepepet tidak bisa twitteran atau instagraman saat naik bus.

Tetapi paling tidak, kursi bus yang saya duduki itu memungkinkan saya untuk sedikit-sedikit belajar mengelola pikiran, mengolah dan mengadu ide-ide nyeleneh, bahkan sampai mengimajinasikan Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur, walaupun ketika turun dari bus, semua imajinasi tadi harus berakhir. Lumayan, bisa sejenak mengalihkan pikiran dari beratnya kehidupan.

Bisa jadi, berdasarkan analisis abal-abal saya, bus kota sejatinya tidak sekedar mampu memindahkan sejumlah manusia dan barang dari A ke B. Tetapi dia juga berpotensi menyediakan ruang-ruang menyendiri, ruang-ruang kontemplasi, bagi individu-individu yang memilih untuk barang sekejap saja memperlambat tempo kehidupan. Sayang sekali “kemewahan” semacam itu sepertinya sulit ditemukan di tanah air, atau paling tidak itu yang saya rasakan secara pribadi setelah kembali ke Jogja. Mobil dan sepeda motor pribadi hampir mustahil untuk dipisahkan dari mobilitas harian, sehingga sangat susah untuk menemukan momentum seperti di atas. Di jalan raya segalanya tampak serba cepat dan serba dulu-duluan, semua harus gaspol untuk mempertahankan eksistensinya, sangat minim orkestrasi yang cantik dan pengorganisasian yang proporsional, sehingga hampir tidak ada waktu untuk memikirkan kanan-kiri depan-belakangnya. Bahkan di persimpangan pun sulit untuk menyediakan waktu untuk sekedar mengamati episode-episode kehidupan jalanan, karena mungkin tidak mampu menikmati lampu bangjo yang sedang menyala merah. Tapi rasa-rasanya, ini juga terjadi di mana-mana, bukan di Jogja saja.

Lainnya