Bukan Siapa-Siapa

Photo by Julian Hochgesang on Unsplash

Seingatku dulu ketika pergi plesiran, aku sungguh menikmati destinasinya. Sekadar diajak nglencer ke Pantai Ayah Gombong yang pasirnya coklat itu saja sudah bukan main gembiranya, dan masih terekam jelas semua adegannya. Sekarang ke mana saja rasanya lewat begitu saja. Mungkin dulu jalan-jalan itu kejadian langka setiap beberapa tahun sekali sehingga sangat berkesan. Bisa jadi. Tapi yang jelas sekarang aku kurang bisa menikmatinya karena pikiranku di sana fokus — atau paling tidak terdistraksi–bukan pada tempat wisatanya, tetapi bagaimana mendapatkan gambar dan selfie terbaik untuk aku kabarkan pada dunia.

Kenapa ya aku selalu ingin mengabarkan pada dunia, aku ini sedang apa, atau punya apa. Padahal kabar itu tidak berarti apa-apa bagi mereka. Sama halnya seperti kilasan berita. Padahal setengah mati aku mem-frame itu semua supaya terlihat sempurna.

Jangankan kabar remeh-temeh seperti itu, bahkan berita tentang hidup mati seseorang yang sangat berarti bagi yang bersangkutan dan keluarganya, bagi orang lain ya, just another news. Coba perhatikan, ketika ada berita lelayu di media sosial, para warganya bersahut-sahutan menyatakan “semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya” dan menuliskan doa. Teman-temannya menyampaikan belasungkawa dan setelah itu beberapa hari kemudian lupa. Hanya keluarga yang terus mengenang dan mendoakannya. Aku tidak mengatakan bahwa ucapan belasungkawa itu jelek atau sia-sia. Hanya saja memang ada gradasi dalam tingkat kepedulian orang pada dirimu, dan hendaknya itu pula yang menjadi dasarmu meletakkan prioritas dalam hidup.

Sampai-sampai aku punya kesimpulan seperti ini. Jangan terlalu pedulikan pandangan orang lain terhadapmu, karena sesungguhnya mereka pun tidak pernah benar-benar mempedulikanmu. Setiap orang hanya peduli dengan dirinya sendiri, seperti halnya dirimu Hanya Allah dan Rasul-Nya yang benar-benar peduli dengan nasibmu, maka hanya penilaian Beliaulah yang layak kamu perhatikan.

Tapi ya seperti biasa, lain pemahaman lain pula kelakuan. Tetap saja, ada keinginan sangat kuat untuk mengabarkan eksistensiku kepada orang lain, dalam proyeksi citra yang sebaik-baiknya, yang seringkali hasil manipulasi dari aslinya. Dan betapa leganya kalau mendapatkan acungan jempol walaupun hanya satu dua. Apalagi kalau datang dari yang kita suka.

Atau mungkin hasrat itu sudah hard-wired di otak manusia ya. Kelihatannya hasrat manusia yang paling mendasar adalah diakui eksistensinya, syukur-syukur sampai tingkat terkenal. Sehingga hukuman terberat bagi jiwa adalah dianggap tidak ada atau tidak relevan. Hasrat untuk eksis abadi dan menampakkannya pada dunia ini jugalah yang menyebabkan Adam dan Hawa tergelincir dari surga. “Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. (QS Al-A’rof: 20)

Kalaupun benar itu hard-wired, seperti halnya nafsu lainnya, tentu tidak selayaknya untuk dibiarkan tanpa kendali. Seharusnya dipelihara sebatas untuk survival dalam menjalankan tugas manusia sebagai hamba. Bukan kemudian menjadi tujuan hidup utama yang dikejar-kejar dengan menghalalkan segala cara. Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk mengenal dan mengabdi kepada Sang Maha Pencipta. Dan bukannya mengenal dan membesarkan eksistensinya sendiri yang akan menjadi penghalang utama untuk mengenal Yang Sejati.  Atau dengan kata lain tujuan utama eksistensi manusia adalah meniadakan eksistensinya sendiri. Absurd memang buat kita. Tapi ya begitulah, Allah berhak melakukan apapun semau-mau-Nya. Kalau engkau tidak mau tunduk silakan cari bumi lain yang bukan kepunyaan-Nya.

Jadi bersyukur dan berbahagialah bagi siapa saja yang bukan siapa-siapa. Karena itu memudahkanmu mendekatkan diri kepada-Nya.

Lainnya