Kebon (207 dari 240)

Bukan Badan Sensor Kelamin

Foto: Adin (Dok. Progress).

Salah satu masterpiece Sinau Bareng Maiyah adalah hadirnya Mirel seorang Waria yang ternyata sangat cerdas, ahli tanam-tanaman, memiliki pandangan keagamaan dan sosial budaya serta kemanusiaan yang terbimbing oleh kelengkapan wacana ilmu, keseimbangan berpikir dan kebijaksanaan bersikap. Tentu saja tidak mudah bagi siapapun saja memahami gambaran dari kalimat-kalimat saya itu, terutama karena Mirel adalah seorang lelaki yang berlaku perempuan. Pemuda berwajah cantik, dengan make up menyolok, dan berpakaian seperti putri Raja Majapahit.

Kita tidak tahu dan dan tidak menanyakan hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi Mirel. Bagaimana arah dan pelaksanaan kehidupan seksnya. Apakah dia berkeluarga atau tidak. Hanya ditanyakan asal-usul dan alamat di kampung halamannya. Tetapi semua yang ada di acara itu bisa memastikan bahwa Mirel bukan hantu, bukan Kuntilanak atau Wewe Gombel, bukan pula Jin, apalagi Malaikat. Juga bukan hewan laut, sungai, ataupun darat dan udara. Mirel jelas manusia.

Ribuan massa Maiyah bergembira oleh dialog dengan Mirel, menerimanya sebagai saudara, sebagai manusia, sebagai makhluk Tuhan yang mereka tidak membencinya demi kebesaran dan kemahatahuan Allah atas semua ciptaan-Nya.

Padahal hampir semua Ulama menyepakati bahwa “lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) itu haram”. Mirel naik panggung Maiyah, sama sekali tidak melakukan hubungan seks sejenis dan semacamnya itu. Sehingga tidak ada satu gerak, ucapan atau perilaku apapun pada Mirel di panggung itu yang mana yang haram menurut Islam dan tidak lazim untuk norma atau sopan santun umum yang berlaku di masyarakat Malang, tempat acara itu berlangsung.

Juga bukan forum yang proporsional atau relevan untuk menginterogasi Mirel tentang kewadaman atau kewariaannya. Jelas ia bisa disebut lelaki, tetapi hadir dengan berpakaian dan penampilan sebagai wanita. Tetapi saya tidak membuka peluang pembicaraan tentang penampilannya itu. Maiyah adalah tempat “Sinau Bareng” mencari ilmu bersama tentang kehidupan. Maiyah bukan Lembaga Sensor Kelamin.

Semua di forum itu menghormati Mirel sebagai manusia. Mengapresiasi ciptaan Allah. Memperlakukan sesama makhluk Tuhan dengan tidak menyakitinya, karena Mirel juga tidak menyakiti mereka.

Setelah beberapa menit dialog, termasuk dengan Walikota Batu Malang yang juga hadir di panggung, semua menjadi mulai mengerti bahwa Mirel menguasai banyak pengetahuan tentang tanaman. Bahkan ia mengiformasikan kepada Bu Walikota wilayah-wilayah di Malang yang sejumlah jenis tanaman mulai punah. Mirel berdialog tentang manusia dan kebudayaan sebagaimana para Jamaah Maiyah lainnya juga melakukan. Yang haram itu perbuatannya ataukah eksistensi kemanusiaannya? Perbuatannya ataukah Subjeknya?

ٱللَّهُ لَطِيفُۢ بِعِبَادِهِۦ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُۖ وَهُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ

Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Pastilah bahwa perbuatan berzina, dalam posisi laki perempuan normal saja pun haram. Apalagi lelaki dengan lelaki, wanita dengan wanita, atau campur aduk dan silang bersilang. Apalagi menyetubuhi pohon, kasur atau kambing. Tidak hanya transgender, tapi juga trans-creatures. Termasuk kawin dengan Jin atau Kuntilanak.

Mirel tidak melakukan itu semua di panggung KiaiKanjeng. Kepada sebagian massa yang hadir dan tidak menyetujui Mirel naik panggung, saya mendoakan semoga mereka, atau keluarganya, dianugerahi Allah kesulitan hidup sebagaimana Mirel. Semoga mereka dipanggang oleh nasib “syubhat antara lelaki dengan perempuan”, wandu, waria, banci. Doa saya itu sesuai dengan keadaan umum pemerintah dan bangsa Indonesia yang juga semakin berkembang menjadi banci-politik, banci-ideologi, banci-prinsip, bahkan de facto juga banci-Agama.

Ke manapun Mirel melangkah, ia berjumpa, bertabrakan bahkan dikepung oleh asosiasi-asosiasi subjek manusia-manusia di sekitarnya. Ia dihardik oleh vonis-vonis egosentristik dari lingkungan di sekitarnya. Mirel didakwa dan dihukum dengan pasal-pasal prasangka yang berlaku di dalam diri setiap orang yang berada bersamanya.

Siapa yang berpikir bahwa enak dan nikmat menjadi Mirel? Siapa yang mengira dan mudah mengelola overlapping psikis dan kerancuan jasad andaikan ia di-Mirel-kan oleh kuasa Allah? Perilaku seks LGBT tak perlu Anda pertanyakan hukumnya. Tetapi mampukah ilmu Anda menjelaskan apa yang sebenarmya dialami oleh Mirel, secara alamiah dan bukan karena pengaruh budaya seperti di kota-kota besar modern? Lebih fair kalau terlebih dahulu Anda mempelajari Mirel, berdialog transparan dengannya.

Andaikan pun Mirel itu memang hina meskipun tidak kita hina, berapa jumlah makhluk Allah lainnya di negeri ini dan di seluruh dunia yang sama-sama hina atau malah lebih hina dibanding Mirel?

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.

Cobalah pelajari dan rumuskan praktik-praktik politik di dunia terutama Indonesia. Fakta-fakta ketidakyakinan manusia terhadap kuasa dan rizqi Allah atas nasib manusia sehingga berjual diri di politik? Bahkan menitipkan anaknya ke presiden atau menitipkan satu anaknya di parpol A-1 dan anak lainnya di parpol A-2, sehingga yang manapun yang unggul di antara A-1 dan A-2 maka nasib putranya tetap selamat? Fakta-fakta budaya politik para tokoh yang langkah-langkahnya mencerminkan mereka diperbudak oleh kapitalisme maniak. Materialisme tanpa human dignity. Bahkan peradaban yang berlangsung sekarang semakin tidak mengurusi apa dan bagaimana sebenarnya martabat manusia.

Amatilah pemandangan kebudayaan. Kekuasaan Pemerintah dengan mozaik imperialisme dan kolonialismenya kepada tanah dan harta rakyatnya. Birokrasi dengan korupsi, kolusi dan nepotismenya. Rezim dengan nafsu oligarkinya yang memuakkan. Coba prosentasekan “yuhaddunallah wa Rasulihi”. Kehinaan Mirel hanyalah sezarrah debu di padang pasir.

Lainnya