Kebon (128 dari 241)

Bom Semi Nuklir dan FPI

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Lebih seratus tulisan “Kebon” mengungkap hal-hal yang lembut, yang rohaniah, yang ilmu dan kegaiban, maka sekarang saya tulis tentang bom. Itu salah satu keajaiban hidup di Indonesia. Saya bukan tentara atau polisi, bukan aparat Negara dan Pemerintah, bukan teroris dan tidak bekerja di perusahaan olah mesiu untuk mercon maupun bom. Tetapi pada suatu malam saya diseret untuk mengenali bom dan ditawari serta difasilitasi kalau saya ingin meledakkannya.

Indonesia memang sangat istimewa. Hanya di Indonesia yang punya kemungkinan untuk mengalami hal ini. Saya diajak masuk ke suatu ruangan yang kita sebut saja Gudang Bom dan senjata-senjata berat maupun ringan. Tuan rumah mengajak saya berkeliling dan menjelaskan setiap detail bom dan senjata. “Kapan saja Cak Nun memerlukan, saya siapkan dua prajurit khusus untuk memfasilitasi dan melaksanakan instruksi Cak Nun”.

Terbuka lebar di depan saya pintu peluang untuk melakukan kiprah terorisme atau apapun yang berkaitan dengan senjata api dan ledakan. Tinggal saya petakan titik-titik serangnya, saya susun strategi, persyaratan eksekusinya, terutama maintenance untuk benar-benar tanpa jejak.

Tidak mungkin hal itu tidak saya sebut keajaiban. Maka saya menjajagi bagaimana nalarnya sehingga Pak Brigjen ini menawari saya sesuatu yang gaib bagi saya. Ia menjawab: “Karena saya dan kami semua percaya bahwa kalau Cak Nun memutuskan sesuatu, pasti untuk tujuan yang baik dan sudah dipertimbangkan secara matang segala sesuatunya”.

Tetapi pasti tidak sesederhana, selinier, dan semudah itu jika dikaitkan dengan tata institusi militer suatu Negara. Serta dengan prinsip konstitusi dan tata birokrasinya. Tetapi bulan-bulan kemarin enam orang anggota lasykar suatu Ormas ditembak mati, prosesnya kemudian juga sederhana, linier, dan mudah. Indonesia adalah “Biladun ‘ajibun”. Bahkan tidak ada kesan bahwa Indonesia menjadi “cedera” oleh ditembak matinya enam rakyat itu.

Coba kalau waktu itu Amrozi, Imam Samudera atau Ustadz Abu Bakar Baasyir menganggap saya ini ada, kemudian melakukan silaturahmi, mungkin saja saya akan tertarik untuk mempertimbangkan dan bisa-bisa lantas mengambil keputusan tertentu.

Patriot-patriot itu tidak perlu diseret oleh provokasi, kemudian dipandu ke Bali, kos di sana dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk meledakkan suatu komplek. Tetapi beberapa menit sebelum rencana itu tiba, sudah terjadi peledakan duluan sebuah bom semi-nuklir yang para patriot itu sendiri tidak punya kemampuan untuk merakitnya. Tetapi kemudian para patriot itu yang dikambinghitamkan.

Bahkan dipersangkutkan dengan seorang Ustadz Sepuh oleh satu Negera Adikuasa melalui rekayasa media. Kemudian memaksa untuk mengekstradisi Ustadz Sepuh itu ke Negaranya. Ditolak oleh Presiden kita waktu itu, sehingga pada Pilpres periode kedua, beliau direkayasa untuk dikalahkan oleh mantan Wakilnya.

Di tengah konstelasi itu semua, saya bukanlah siapa-siapa. Atau sebutlah “tidak ada”. Padahal andaikan ada FPI (Front Pembela Indonesia), saya bersemangat untuk ikut menjadi anggotanya. Apalagi pada tahun-tahun itu momentumnya waktu itu masih “gamoh” dan “nyaman” untuk jenis perjuangan semacam itu.

Sekurang-kurangnya saya punya tabungan untuk menjawab firman Allah ini:

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَيَعۡلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.

Tuan rumah gudang bom saya itu pahlawan bagi jajarannya. Dia menyiapkan Jeep-Jeep elit untuk setiap Pangdam yang baru. Dia yang mengupayakan pengadaan senjata-senjata ketika TNI diembargo oleh Amerika Serikat selama 21 tahun. Dia punya hubungan-hubungan internasional yang canggih. Agar TNI tidak ketahuan oleh pengembargo, senjata-senjata yang dihimpun itu diletakkan di bagian dari rumah pribadinya di daerah Ancol.

Saya bersilaturahmi dengan beliau ini sampai akrab dengan Bapak dan keluarganya. Bahkan saya pernah meresmikan Masjid yang beliau dirikan di Sumatra Utara. Beliau ini seorang manusia yang pemurah luar biasa. Saya pernah memergoki tamu-tamu aktivis kelas menengah ke rumah beliau, membeberken akan melakukan perjuangan ini itu, lantas minta sumbangan. Dan beliau langsung kasih cash jumlah besar kepada mereka.

Saya mencoba menjelaskan kepada beliau segmen-segmen “pejuang” semacam itu, semacam perampok atau penipu halus mengeruk uang dengan alasan idealisme dll. Tapi beliau bilang: “Memang sering datang yang seperti itu. Saya tahu mereka menipu saya. Tetapi karena mereka tidak punya kemampuan lain untuk mendapatkan nafkah, maka tetap saya kasih. Saya tahunya bersedekah. Yang menipu bukan saya”.

Beliau pernah datang ke Yogya dan bersama istri saya Bu Novia kami bertiga pergi berempat, dengan satu stafnya, ke pantai selatan yang tidak ada keramaian untuk mencoba jenis bom baru yang beliau bawa. Kalau pergi Jum’atan beliau selalu membawa dua tas besar berisi uang. Jangan ada prajurit yang sedang bertugas dengan wajah masam atau sedih. Pasti akan dia samperin, ditanya apa masalahnya, kemudian disangoni uang dalam jumlah yang ajaib bagi seorang prajurit TNI.

Suatu hari Allah memanggilnya. Dan belum sampai beliau dimakamkan, muncul tuduhan bahwa beliau merencanakan makar kepada Pemerintah dan menyimpan senjata-senjata gelap di rumahnya. Ruang kerja beliau digeledah. Segala hal yang indikatif disita. Saya datang rumah duka. Di depan jenazahnya kursi berderet berlapis diduduki oleh para petinggi militer dan pejabat Negara.

Saya masuk. Berjalan menuju peti jenazah melewati para tamu agung itu. Saya sengaja tidak membungkukkan badan, dan garis yang saya lewati berjalan kurang dari setangah meter di depan tamu-tamu elit itu. Bapak beliau duduk dengan kursi roda di samping peti jenazah. Saya menghampiri beliau. Dan saya sangat kaget ternyata beliau mencium tangan saya kemudian beliau saya rangkul. Semua tamu menyaksikan adegan itu. Setelah membisikkan sejumlah kalimat kepada Bapak beliau, saya keluar.

Para wartawan menunggu sejak siang di depan rumah Ancol beliau. Saya bersepakat dengan keluarga beliau bahwa selain dari saya sebagai juru bicara keluarga almarhum, tidak ada pernyataan apapun dari pihak keluarga, terutama tentang kasus tuduhan makar dan menyimpan senjata gelap.

Jam 22.00 malam saya keluar rumah, menemui para wartawan dan saya nyatakan: “Mewakili keluarga almarhum, dengan ini saya menyatakan bahwa tidak ada pernyataan”. Kemudian saya pulang ke Kelapa Gading. Besoknya dan seterusnya berita tentang gugatan dan tuduhan kepada almarhum tidak muncul lagi di koran, televisi dan media lainnya. Sampai waktu berjalan mingguan dan bulanan, kasus itu tidak ada lagi.

Allah menurunkan dua keajaiban dalam peristiwa yang saya kisahkan ini. Pertama, Allah mencampakkan saya ke tengah konstelasi dan komplikasi masalah yang pada hakikatnya saya tidak berdaya dan tanpa kuasa dan kekuatan apapun. Keajaiban kedua adalah tentang Indonesia. Hal-hal yang sangat tidak masuk akal, tanpa nalar, dengan mudah terjadi di Indonesia. Tiba-tiba seperti ada kiamat kecil, besoknya ternyata tidak ada apa-apa.

Orang yang saya kisahkan ini adalah perwira yang membunuh Presiden Fretilin dalam peperangan di Timor Timur. Ada momentum ia tertembak jari telunjuk kanannya dan Panglima memerintahkan agar ia dievakuasi. Tetapi yang bersangkutan menolak. Ia mengatakan bahwa meskipun dievakuasi ia tetap bisa mati, dan kalau terus maju perang ia bisa juga tidak mati. Ia memberi “uswatun hasanah” tentang patriotisme, kejantanan lelaki sekaligus totalitas kepasrahan hamba kepada Tuhannya. Keteladanan itu disakaikan oleh pasukan di Batalyon khusus yang ia susun dari para pemuda sipil biasa namun ia latih seperti prajurit, dengan watak, karekter, etos, prinsip dan keyakinan seperti yang dipraktikkannya di medan perang.

Pada suatu hari ia menelepon saya dari Amerika Serikat: “Cak saya sedang mengawal Dajjal di Amerika. Insyaallah nanti pulang dia akan jatuh dari kursinya”. Ia juga komandan Pasukan Tank yang mengelilingi Istana, yang semula moncong Tanknya di hadapkan ke luar dan membelakangi Istana. Kemudian ketika momentumnya tiba, ia balik moncong Tank menjadi menghadap Istana dan membelakangi ruang publik. Saya tidak perlu menerangkan apa makna simbolisasi moncong Tank itu.

Saya bersama KiaiKanjeng pernah hampir “perang” di Stadion Gajayana Malang. Kami diundang oleh sebuah Yayasan, yang mengumpulkan uang dari masyarakat dan berjanji mengembalikannya berlipat-lipat. Sesampainya di Stadion kami baru berpikir bahwa mungkin wajah saya dan KiaiKanjeng akan dipakai untuk promosi proyeknya. Maka kami mengantisipasi, secara taktik strategis dalam acara massal itu sampai ke tingkat siap merobohkan Stadion.

Saya masuk. Melewati para tokoh yang di kursi paling depan. Tidak sampai setengah meter di depan mereka. Saya tidak menyapa. Saya tidak menunduk. Saya pelajari gelagat mereka dan keseluruhan keadaan. Ketika di panggung Panitia meminta saya untuk menyerahkan hadiah untuk anak-anak yatim, saya menolak. Tangan saya angkat saya gerak-gerakkan untuk menyatakan penolakan.

KiaiKanjeng naik panggung. Saya bicara kepada massa se-Stadion: “Kalau janji pengembalian modal dengan pembayaran berlipat-lipat itu dilaksanakan, kita semua bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada pihak Yayasan. Tetapi kalau ternyata janji itu tidak dilaksanakan, apa yang akan Bapak-bapak dan Saudara-saudara lakukan?”. Saya keraskan suara saya.

Mereka menjawab: “Patèniiiiiiiiiiiiiiii…!”

Berarti ayat ini berlaku:

يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

Stadion menjadi gemuruh. Massa meneriakkan yel-yel. Agak tidak terkendali dan saya memang tidak mau mengendalikan. Para pembesar Yayasan dan tamu-tamu yang duduk di kursi terdepan, berdiri dan berjalan tergesa-gesa keluar Stadion.

Beberapa hari kemudian serbuan santet mengerubungi saya. Saya merasa seperti Resi Bisma dengan ribuan anak panah menancap di dada saya. Itu bersamaan waktunya dengan kasus yang usia saya divonis RS Sardjito tinggal tiga bulan.

Semua itu 100% merupakan cipratan keajaiban dari Allah. Sehingga saya masih diperkenankan mengetik tulisan ini.

Aji-aji yang kita selalu gunakan adalah Aji Alif Lam Mim. Tanpa ragu-ragu. Tidak gojag-gajeg. Tidak ingah-ingih. Apalagi plonga-plongo. Juga senantiasa berjuang untuk setia. Supaya diperkenankan oleh Allah masuk kategori:

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ
وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Lainnya