Berselimut Rahman Rahim-Nya

Padhangmbulan, Desember 2019.
Dok. Progress.

Seperti biasa, bakda sholat Maghrib saya luangkan waktu untuk mengaji Al Qur’an. Saat hendak membuka lembar halaman terakhir yang kemarin dibaca, tak sengaja selembar Qur’an terlepas. Tètèl. Tanggal dari perekatnya. Lembar itu bernomor 574. Tertera nama suratnya, Al-Muzzammil.

Ya Allah. Ya Allah. La haula wala quwwataa ila billah. Tak ada yang kuasa melawan kehendak-Mu. Seolah itu isyarat, dan begitu cepat Engkau cabut “atribut” keduniaan guru kami, kiai kami, mursyid kami dalam kesunyian malam dini hari.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.

Satu hari sebelum kepulangan Yai Muzzammil, di grup WA Suluk Surakartan beredar foto Yai Muzzammil tengah terbaring sakit. Semua rekan-rekan Suluk serentak mendoakan untuk kepulihan beliau. Namun Sang Khaliq berkata lain. Yai Muzzammil justru diajak melanjutkan “perjalanan” menuju keabadian.

Saya masih ingat betul ketika kali pertama mengunjungi pondok pesantren Rohmatul Umam asuhan Yai Muzzammil di Kretek, Bantul, pada September 2015 silam. Kala itu di tempat yang sama digelar acara Tabligh Akbar dengan tema Tafakur Akhir Zaman. Menghadirkan 2 figur besar. Abah Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Budayawan masyhur Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun).

Ponpes Rohmatul Umam saat itu menjelma lautan manusia. Tidak ada celah sedikit pun. Teras Masjid, emperan toko, pagar rumah, gang-gang, kebon, pohon-pohon, hingga atap kamar mandi menjadi tempat yang nyaman bagi para Jamaah dalam mengikuti pengajian.

Meski berjubel, menyemut, dan penuh sesak oleh ribuan orang, namun atmosfer yang muncul adalah keteduhan. Suasana sekitar pondok begitu sejuk, idum, dan sangat menjenakkan. Seluruh jamaah betah hingga tuntas acara.

Di situlah saya menemukan, mengalami, sekaligus menikmati apa yang disebut Ngalap Berkah Kiai. Saya dan ribuan Jamaah lain rela berdiri berjam-jam, mengular, antre rapi, agar bisa bersalaman dengan Mbah Mus, Mbah Nun, hingga shohibul bait Yai Ahmad Muzzammil.

Sejak acara itulah, saya kian gemar untuk sowan Kiai. Betapa pentingnya kumpul dengan orang shaleh. Kita dapat menimba ilmu, ngangsu kawruh, dan sudah pasti ngalap berkahè para Waliyullah. Kebiasaan itu terus saya tekuni hingga hari ini.

Bicara tentang Yai Muzzammil, beliau itu Kiai tulen. Sepanjang hidup beliau habiskan untuk mondok (mengaji) sampai kini mengasuh pondok sendiri. Sepakat yang diungkapkan oleh Mbah Nun, bahwa Yai Muzzammil adalah “kitab kuning berjalan”.

Tak heran di acara Maiyahan mana pun Yai Muzzammil selalu turut serta. Sebab, Simbah dan Yai saling melengkapi. Biasanya Mbah Nun membahas sebuah tema melalui pendekatan ilmu sosial, budaya, kearifan lokal, dan dari pengalaman hidup sehari-hari. Dari perspektif yang paling sederhana, sampai yang tinggi daya penalarannya. Begitulah khas Mbah Nun.

Sedangkan Yai Muzzammil bertugas untuk menarik tema tersebut ke ranah agama. Mengkorelasikannya dengan ayat atau hadits. Bahwa segala tema yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya ada sumber, sekaligus petunjuknya (Al-Qur’an, hadits, kitab-kitab, riwayat Nabi dan Sahabat). Adanya Simbah dan Yai Muzzammil membuat sinau (ngaji) di Maiyah terasa jangkep dan menep.

Sayangnya, di saat kita semua masih butuh pencerahan, masih dahaga wawasan kandungan sari Al-Qur’an dan kitab-kitab, Yai Muzzammil telah pergi mendahului kita.

Wa mā tuqaddim li`anfusikum min khairin tajidhu ‘indallāhi huwa khairaw wa a’ama ajrān.

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Al Muzzammil ayat 20)

Ya Allah. Kami bersaksi bahwa Yai Muzzammil adalah pribadi yang baik. Yang enteng kaki, ringan tangan melayani umat. Mengajari keceriaan dalam beribadah dan beragama. Setia mengajak kami memuja-muji Baginda Nabi (Muhammad Saw). Sungguh beliau sangat rajin menyingkap ayat-ayat tajalli-Mu, sehingga kami bisa lebih akrab dan tak berjarak dengan-Mu.

Di bulan Syawal, di malam Padhangmbulan, tepat di hari lahir Mbah Nun, guru yang dicintainya (27 Mei 2021), Yai Muzzammil menutup mata. “Tidurnya” berkemul pahala. Berselimut Rahman Rahim-Nya.

Doa khusyu’ kami, semoga Mbah Nun panjang umur, dan Yai Muzzammil dilapangkan kuburnya.

Gemolong, 27 Mei 2021

Lainnya