Bersahabat dengan “The Real New Jurnalisme” Hari Ini

Photo by Leon Bublitz on Unsplash

Merdeka, gembira, dan demokrasi terjadi dalam dunia jurnalistik baru hari-hari ini. Kalau dulu Garin Nugroho pernah bilang bahwa televisi adalah sastra hari ini, maka yang sekarang terjadi adalah kanal-kanal video dan medsos lainnya adalah jurnalistik hari ini.

Jurnalistik real time yang bisa dinikmati secara merdeka waktunya dan demokratis pilihannya. Tersedia sajian new jurnalisme real time yang tidak terhingga jumlahnya. Sementara media jurnalistik lama (jurnalistik mainstream, jurnalistik korporat, dan jurnalistik gagap antara cetak, visual, dan audio) menyajikan hal yang menyebalkan dan membosankan karena sajiannya itu itu saja atau ini ini saja yang penuh framing dan sensor informal atau formal terhadap berita fakta dan opini publik maka yang ditampilkan dalam the new jurnalisme real time ini sungguh menyegarkan, menggembirakan, dan penuh informasi yang dapat membuat kita mengenal (lita’arofu) kehidupan yang lebih luas dan lebih nyata.

Terjadi lintas informasi antar benua antar kelompok masyarakat antar keunikan pemandangan alam, antar keunikan kuliner, antar musik, film, sastra, dan antar hiburan yang lucu menggemaskan. Juga muncul peta dakwah antar pelosok Indonesia, pelosok Asia dan dunia yang menggambarkan kalau kaum Muslimin masih punya daya hidup, daya juang, dan daya berkembang sehingga terasa tidak selalu kalah banget.

Dalam hitungan detik kita bisa menyaksikan kehidupan petani di lahan subur Jawa lalu pindah menyaksikan kehidupan petani di pedesaan Afganistan, Pakistan, bahkan di Mongolia muslim yang ternyata berkorelasi dengan berkembang dan masih bertahannya kuliner asli di daerah tersebut. Yang disebut sebagai ketahanan pangan dan pertahanan pangan di wilayah tersebut menjadi sangat nyata.

Mereka mandiri dan tidak memerlukan impor bahan makanan, bumbu, resep makanan tradisional dan membangun relasi dengan penjual makanan di pinggir jalan kota-kota mereka. Badan warga desa sama-sama sehatnya dan sama kuatnya dengan warga kota karena selalu makan makanan bersayur, berdaging, berikan, berrempah-rempah itu.

Sementara itu ada sepasang pengembara dunia muda dari Korea masuk ke Maroko dan mengenalkan keunikan masakan dan makanan tradisional mereka. Kanal YouTube dia dikunjungi ribuan orang.

Ada orang Indonesia yang menikah dengan orang India yang mengenalkan tradisi India muslim yang bersih dalam kehidupan sehari-hari, dalam mengolah makanan dan mengenalkan tradisi belajar di kampus kelas internasional yang dulu dikenal dengan nama Aligarh College yang saya kenal ketika di sekolah guru agama saya belajar sejarah pendidikan dunia.

Kemudian di tengah kesedihan warga Indonesia karena tidak bisa umroh, naik haji dan berkunjung ke tanah suci, mata kita disegarkan oleh hadirnya banyak sekali YouTubers Indonesia yang menampilkan features visual tentang suasana dari hari ke hari di tanah suci. Ditambah dengan bonus informasi tentang suasana kampung Arab di kota yang penuh sesak tetapi anak mudanya masih sempat berlatih sepak bola di lapangan berbatu.

Juga suasana desa di Arab Saudi, lengkap dengan kebun kurma, ternak unta, pertanian sayuran dan hadirnya sungai ajaib yang dihuni ikan khas Indonesia sehingga banyak migran dari Indonesia bisa menjaring ikan di sungai yang mengalir diantara gurun pasir.

Lalu ada pemandangan indah dengan para wanita cantik berjilbab di negara muslim merdeka bekas jajahan Uni Soviet dan Yugoslavia. Kehidupan dengan budaya lokal mandiri mereka ketika ditampilkan di layar video sungguh menyegarkan mata. Tradisi silaturahmi dalam keluarga dan komunitas sungguh indah, dan kalau asyik menonton yang demikian kita bisa melupakan kemarahan kita melihat korupsi yang tidak jadi-jadi diberantas di negeri ini.

Ketika korupsi justru menyuburkan dan disuburkan oleh dan dengan kolusi dan nepotisme maka saya menjadi bosan mengikuti berita resminya. Saya sering memilih melarikan diri ke dalam dunia new jurnalisme real time di layar handphone atau layar televisi. Lebih terasa menyegarkan, menyenangkan dan menenteramkan jiwa nonton sajian tentang desa-desa di tanah Sunda dengan iringan musik lembut lengkap dengan warga yang hidup ramah kerja keras menggarap sawah atau kolam ikan dan kebun sayur. Juga bagaimana mereka memasak masakan tradisional, menjaga lumbung padi dan belajar ngaji. Pemandangan berupa perpaduan tanah subur dengan air melimpah membuat saya lebih mengenal Indonesia secara langsung dan otentik.

Kadang kalau saya ingin bepergian tetapi tidak mungkin dilakukan di era pandemi ini, saya menikmati laporan features tentang pengalaman penumpang bus jarak jauh Solo – Medan atau Medan – Jakarta lewat jalur barat darat atau lewat jalur tengah atau jalur timur. Ini mengingatkan saya perjalanan Yogyakarta – Padang pulang balik naik bus waktu saya menghadiri pertemuan sastrawan nasional 1996 di kompleks INS Kayutanam Sumatera Barat yang memungkinkan saya mengelilingi pelosok ranah Minang dan bersilaturahmi dengan kenalan waktu sama sama ngontrak rumah di Gedong kuning.

Rumah dia ternyata di pinggir kota Payakumbuh dan saya sempat menikmati sate Minang versi Payakumbuh, lengkap dengan teh telur yang harum karena diberi aroma vanilla. Saya juga jadi teringat perjalanan empat belas jam naik bis Medan – Banda Aceh saat meliput Muktamar Muhamadiyah ke 43 tahun 1995 yang membuat saya ketemu teman Mbah Nun bernama Dalhar Shodiq sekaligus saya menginap di rumah dia di Maurexa selama Muktamar berlangsung.

Hadirnya the new jurnalisme real time berbasis sajian visual ini merupakan sahabat baru bagi masyarakat Indonesia hari ini. Daripada mengisi waktu dengan bergunjing tentang hal yang menyebalkan di negeri ini saya rasa ada baiknya memilih sajian yang positif dan produktif secara nilai.

The real new jurnalisme ini jelas memperluas definisi berita kejadian dan fakta menjadi seluas kehidupan sendiri. Dan lagi amat murah karena cukup dibiayai pulsa dan owner media visual baru ini mendapatkan pemasukan uang dari klik penonton dan iklan.

Yogyakarta, 23 Mei 2021

Lainnya