(Sinau Puasa, bag. 11)

Berpuasalah, Maka Autofagi Akan Teraktivasi

Image by National Cancer Institute from Unsplash

Autofagi, kata aslinya adalah autophagy, yang artinya adalah auto: sendiri, phagein: makan. Jadi, autophagy berarti makan dirinya sendiri. Konsep inilah yang mengantarkan seorang Guru Besar dari Jepang, kelahiran 1945 yang bernama Yoshinori Oshumi memperoleh penghargaan Nobel di bidang kedokteran pada 2016.

Penghargaan ini diperoleh atas risetnya tentang konsep yang disebutnya sebagai autofagi ini. Profesor Yoshinori ini bekerja di Institut Teknonologi Tokyo.

Bahasa sederhananya adalah sel makan dirinya sendiri? Lhooo kok bisa? Kedengarannya kok serem sih..! Ya, memang begitulah mekanisme kerja dari sel yang bisa memakan dirinya sendiri dalam arti positif. Artinya, sel tubuh kita tersebut bisa menghancurkan dan ‘memakan’ isi dari sel-sel tubuh yang sudah rusak, tua, dan berpotensi menjadi penyakit.

Sesudah dihancurkan maka sel tersebut berkesempatan untuk memperbaharui dirinya sendiri. Dengan kata lain, sel-sel tubuh ini akan menjadi muda lagi.

Lho apa untungnya dari proses ini? Proses ini akan menghambat penuaan, menghilangkan potensi menjadi sakit bila proses autofagi ini tidak bekerja. Autofagi ini dikendalikan oleh gena yang mengatur dan bisa mengaktivasi proses autofagi ini.

Penyakit-penyakit yang sudah diketahui akibat adanya gangguan dari proses autofagi ini adalah penyakit Parkinson dan Diabetes Mellitus tipe–2 (yang muncul pada usia dewasa), dan tentunya penyakit-penyakit lain yang akhir-akhir ini muncul.

Gangguan proses autofagi ini juga dikaitkan dengan kejadian penyakit kanker. Jadi, sebenarnya proses autofagi ini berguna untuk mencegah kanker. Bisa jadi kanker ini timbul akibat tumpukan dari komponen sel yang sudah rusak-cacat dan tetap tinggal di dalam tubuh dan tidak ter-autofagi, karena beberapa sebab. Proses autofagi ini terbukti akan menghambat penuaan dan mempunyai impact positif terhadap proses peremajaan sel.

Kenapa tiba-tiba saya melompat membicarakan autofagi ini. Apa biar dibilang ngilmiyah? Bukan begitu. Perjalanan saya sampai ke masalah autofagi ini berawal dari teman-teman saya pengikut jamaah ‘kefastosiyyah’ yang membicarakan konsep autofagi ini atas tarekat yang mereka jalani. Seru sekali kalau sudah membicarakan konsep ini.

Lho bukankah ‘ketofastosis’ ini berbasis puasa ? Puasa baik dalam waktu maupun materi makanannya? Salah seorang teman motret saya, Lik Teguh, sempat mondok di RS beberapa hari yang lalu. Semua sahabat nggumun kok bisa? Padahal semenjak melakukan laku ketofastosis, Lik Guh tak pernah bersinggungan dengan obat.

Kakak Lik Guh yang juga spesialis syaraf bahkan bercerita bagaimana Lik Guh yang dulu suka pusang-pusing, gebras-gebres, semenjak melakukan laku itu enggak pernah lagi berkeluh tentang penyakitnya. Bahkan Lik Anif, sohib motret juga, dan pelaku ketofastosis sempat berkomentar atas mondoknya Lik Teguh di bangsal Jantung. Lik Anif berkomentar gini atas sakitnya Lik Guh, “Yooo harus recovery, bangunin autofagi maneh….”

Dan, dari riset Prof Yoshinori diketahui bahwa puasa akan mengaktifkan proses autofagi ini.

Jadi, puasa adalah kunci!

(bersambung)

Lainnya