Berniaga dengan Kearifan

Foto: Adin (Dok. Progress)

“Tuna sathak, bati sanak”, tidak dapat laba dari barang dagangan, ya paling tidak tetap laba dalam bentuk mendapat saudara baru. Ini adalah sebuah wisdom di dalam berbisnis yang banyak dianut di era orang-orang tua dahulu.

Dengan falsafah ini, maka pembeli betul-betul di-emong dan di-ewongke. Terlepas dia tertarik hendak membeli atau tidak nantinya, jangan sampai muncul sikap-sikap yang memicu ketidaksukaan kepada kita. Karena batas bawah dari selling goal kita di dalam menjajakan dagangan adalah setidak-tidaknya mendapat saudara baru.

Paseduluran, Biaya Paling Murah

Di antara kita mungkin banyak mendapati pengalaman di mana banyak sales datang justru meninggalkan kesan yang tidak mengenakkan. Di antara sebabnya adalah karena memaksakan pembelian.

Inginnya pokoknya menjual. Setidaknya itu yang terekam di benak saya semenjak kecil terhadap sales-sales yang datang ke rumah. Pengalaman masa kecil saya merekam kedatangan sales itu baru terjawab ketika saya beranjak besar. Oh, ya pantesan saja demikian, karena mereka tidak menggenggam falsafah seminimal-minimalnya bathi seduluran. Melainkan yang digenggam adalah angka target dari bosnya.

Beberapa tahun yang lalu salah seorang teman saya mengambil lowongan marketing di sebuah perusahaan yang tidak terlalu jelas namanya. Esok harinya ia diterima kerja dan langsung bertugas. Seragamnya putih hitam, job desk-nya adalah ikut mobil dari kantor membawa berbagai barang kebutuhan rumah tangga. Pada area tertentu mereka diturunkan dari kendaraan dalam grup-grup kecil, lalu grup kecil itu membagi diri untuk mendatangi calon pembeli door to door.

Tidak membawa uang yang cukup. Kalau ketinggalan mobil penjemput. Mau tidak mau mereka menyetop mobil bak terbuka atau truk untuk bisa pulang. Mungkin di antara kita juga sering lihat sore-sore anak-anak muda berseragam putih hitam, mententeng kompor gas, magic com, dll. berjalan kaki.

Kalau kelasnya sales jalan kaki, jelas tidak mungkin menerapkan paradigma rugi tidak apa-apa yang penting nambah sedulur. Falsafah amat baik ini hanya bisa diterapkan apabila kita adalah seorang self-employee, alias menjadi karyawan di perusahaan milik sendiri. Atau mungkin juga masih bisa diterapkan oleh start up yang modalnya berlebih sebab baru saja mendapatkan pendanaan dari angel investor. Istilahnya, masih bisa ‘bakar duit’.

Bakar duit adalah istilah di mana kita mengeluarkan sejumlah biaya tertentu untuk bisa menggaet pembeli. Kalkulasinya menggunakan rumus CAC, customer acquisition cost. Tidak apa-apa mengeluarkan sejumlah biaya untuk menarik pembeli, asalkan ia nantinya akan menjadi pembeli yang loyal. CLV atau customer lifetime value-nya tinggi.

Hal yang lumrah dan wajar memang, bahwa mengakusisi pelanggan baru membutuhkan biaya. Orang-orang tua kita zaman dahulu paham betul hal ini. Dan biaya paling murahnya adalah dengan membangun persaudaraan.

Tak apa belum closing hari ini, mungkin bulan depan atau tahun depan ketika dia butuh, akan mengontak kita. Atau mungkin selamanya dia tidak pernah akan membutuhkan barang yang kita tawarkan, tetapi ia bisa memberitahukan barang kita kepada saudara dan kawan mereka.

Go Green! Antara Slogan dan Penerapan

Kebijaksanaan dari orang-orang tua kita zaman dahulu lainnya terekam pada falsafah “Memayu Hayuning Bawana”. Alam semesta yang cantik adalah sesuatu yang harus senantiasa dipelihara. Dan memang manusia adalah mandataris Tuhan di muka bumi yang harus memeliharanya.

Bukan hanya itu sebetulnya, tetapi keberlanjutan nasib kehidupan umat manusia oleh para aktivis go-green sudah berbusa-busa mengkampanyekan bahwa rusak-selamatnya dipengaruhi oleh perilaku manusia sendiri kepada alamnya.

Para pemimpin dunia menyepakati SDGs yakni Sutainable Development Goals. Satu dari tiga pilar utamanya adalah lingkungan. Betapa pemeliharaan lingkungan adalah hal yang amat penting untuk diperhatikan. Namun sayangnya, penerapan di lapangan seringkali tidak seiya-sekata dengan yang dislogankan.

Satu contoh, sejak beberapa tahun lalu kampanye diet kantong plastik amat gencar dilaksanakan. Namun, bagaimana hari ini justru sekarang celah orang yang belum berhasil membudayakan diri membawa kantong belanjaan sendiri justru dimanfaatkan untuk menjuali kantong kresek Rp 200. Bukannya diet berhasil, tetapi justru lahir perilaku komodifikasi kantong plastik.

Pada business design yang melibatkan pelaku usaha skala besar, peran pemerintah amat kentara apakah ia hadir atau absent. Regulasi kantong plastik hanya salah satunya, mural perkebunan sawit di luar Jawa dengan polemik pelik konsesi yang berpihak pada ‘lingkungan hijau’ adalah PR abadi yang entah kapan akan terurai tuntas.

Sedangkan pada pelaku usaha kecil dan pelaku niaga di pedesaan, kesadaran hijau masih cukup efektif dikerjakan dengan kampanye persuasif. Seorang dengan usaha batu bata, maka dia akan diumpat oleh tetangga dan masyarakat sekitar kalau mengeruk tanah subur yang mestinya untuk persawahan. Oleh karenanya ia rela saja menyiapkan modal lebih banyak untuk bisa me gambil tanah bahan baku dari lahan tidak produktif yang lokasinya lebih jauh.Pengrajin sapu lidi skala home industry menghitung sendiri berapa pohon kelapa yang harus diremajakan, agar nanti ketika permintaan sudah semakin meningkat ia memiliki stok yang cukup.

Di pedesaan masih lazim sebuah usaha berlangsung turun-temurun berjalan dengan mengedepankan prinsip sustainability karena mereka memanfaatkan bahan alam atau bagian dari tanaman tanpa merusak kelestariannya. Seperti lidi dari daun kelapa itu, pohon kelapa tidak mati ketika diambil daunnya terus menerus, asalkan tidak berlebih-lebihan.

Secara program sebetulnya sudah sangat bagus di mana-mana, seperti Pertamina mengangkat tagar #energiterbarukan dalam upaya menstimulasi masyarakat melahirkan ide-ide sumber energi alternatif. Lalu, Dinas Koperasi dan UMKM tidak pernah kehabisan judul program, misalnya “One Village, One Product” dalam rangka menggiatkan potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Namun, pada praktiknya, masih banyak temuan sumber energi terbarukan yang hanya selesai di tahap pembuatan prototype. Dan juga, program-program di desa masih cenderung mindset-nya adalah mengimitasi desa lain yang sudah sukses, di mana-mana dibangun kolam renang, misalnya.

Menyampaikan Sebuah Value Propostion

Kearifan berikutnya yang dianut sejak orang-orang tua zaman dulu yakni “Manunggaling Kawula Gusti”. Yakni bagaimana pikiran dari bermacam-macam kepentingan, ego maupun kepentingan kolektif tetap harus bersambung dengan ‘kepentingan’ Tuhan.

Suatu hari seorang kawan memberitahu saya bahwa owner rumah makan A selalu mensedekahkan 80% pendapatannya untuk yatim & dhuafa. Ini adalah hal yang amat baik. Misalnya di rumah makan A itu dibandingkan dengan rumah makan yang sejenis, ayamnya lebih kecil, nasinya juga kenyangnya nanggung. Lalu saya ketus berseloroh, bukankah lebih baik dikurangi porsi sedekahnya dan ditambah porsi budget R&D agar bisa nanti ayamnya digedein, nasinya bener-bener diukur takarannya yang bikin kenyang, dst.

Sebaik-baik sedekah bagi seorang business owner adalah memberikan value proposition yang paling berkualitas. Karena bisnis dalam tinjauan yang lebih ruhani, sejatinya kita tidak menyampaikan barang/jasa dan menukarnya dengan sejumlah uang dari pembeli kita. Melainkan, bisnis adalah peristiwa menyampaikan sebuah value proposition.

Ada banyak cara mengukur apakah value proposition sudah berkualitas atau belum. Di antaranya, kita bisa melakukan competitor analysis, sama-sama rumah makan, harganya sama, di sana bisa memberikan lebih atau tidak. Jika masih kalah, maka cek lagi, ada biaya produksi yang kurang efektif, atau kita dalam mengambil laba masih terlalu besar?

Cara lainnya untuk mengukur kualitas dari value proposition yang kita berikan adalah dari survey kepuasan pelanggan. Es tehnya udah mantep pakai gelas jumbo, tapi supaya kenyangnya maksimal hendaknya nasinya digedein dua kali lipat donk porsinya, misalnya begitu.

Dari sisi bisnis, maka ini akan menaikkan daya saing di hadapan kompetitor dan daya pikat di hadapan konsumen. Dari sisi spiritual, ini adalah bentuk integritas yang manunggal bahwasannya melayani yang dibutuhkan pelanggan dengan maksimal adalah berbanding lurus dengan nilai pahala ibadah muamalah yang diberikan Tuhan.

Terlihat sederhana, tetapi memberikan sedekah sosial terlalu besar dengan diumumkan atas nama perusahaan, bisa-bisa kita terjebak pada memanfaatkan sedekah untuk mengerek brand. Ini tentu bukan sikap batin yang manunggal. Karena sedekah adalah perilaku mulia, tidak boleh ditumpangi oleh motif lembut di dalam hati menjadikannya alat pendongkrak pemasaran.

Mbah Nun pada esai ‘Li-Annaka Taísyu Abada’ menyampaikan:

“Anak-anakku Juguran Syafaat mengolah bumi, bekerja keras, mengendalikan materi, untuk justru diakhiratkan, ditemukan makna keabadiannya, ditarikati akurasi keakhiratannya. Anak-anakku Juguran Syafaat menggenggam batu, kayu, logam, lembaran-lembaran dan cairan-cairan, tidak untuk mendirikan Monumen Bumi, melainkan dirohanikan menjadi Kesejatian Sorga. Sebab mereka bukan sekedar “ka-annaka taísyu abadan”, seakan-akan hidup selama-lamanya, melainkan “li-annaka taísyu abadan” — karena memang engkau hidup hingga abadi, karena ujung perjalananmu adalah menyatu dengan dan kepada Allah, bahkan meniada “menjadi” Allah, karena engkau dan kita semua tidaklah sesungguh-sungguhnya ada. Dan Allah itu abadi. Siapakah selain Allah yang pasti abadi?”

Ya, mengolah bumi maupun bekerja keras harus manunggal orientasinya dengan proses pencarian makna keabadian dan akurasi keakhiratan. Maka, kita tidak sampai tergelincir pada potensi menggunakan idiom-idiom agama untuk mendongkrak peningkatan target transaksi.

Dari ketiga falsafah bijak tersebut ada satu benang merah yang sama: Jangan serakah, jangan eksploitatif. Mengeksploitasi pelanggan, mengeksploitasi alam maupun mengeksploitasi Tuhan adalah tindakan yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri di masa mendatang.

Lainnya